Orang Sebar Berita Palsu Karena Tak Ingin Dikucilkan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Wah, sepertinya sekarang sudah masuk tahun politik deh,” kata seorang kawan kerja.

“Iya, betul. Di medsosku sudah banyak berita palsu, hoaks, buzz, yang berkeliaran,” timpal kawan yang lain.

Saya ikutan nimbrung, “Sudah dicek apa semua isinya bermuatan politik?”

“Macam-macam, lah. Ada yang fitnah politik, pelintiran berita politik. Ada juga kapal mau tenggelam tapi ternyata editan. Ada yang jualan obat kuat, entah untuk siapa.”

“Haha…media tipu-tipu,” kata teman yang lain.

“Jadi, memang ada konten yang pemanasan untuk 2024. Tapi, banyak juga konten yang lain,” saya mencoba beri penjelasan.

“Eh, iya,” kata teman yang tadi membuka obrolan. “Saya nggak habis fikir, kenapa mereka koq mau-maunya sebar konten berita palsu, ya?”

Saya mencoba memberi jawaban, “Ada banyak alasan bagi orang-orang untuk sharing konten palsu. Salah satunya, karena tidak ingin dikucilkan dari lingkaran sosial mereka.”

“Begitu, kah?”

“Tentu, ada bukti ilmiahnya. Dasarnya, interaksi sosial naturalistik lebih dari 50.000 pasang pengguna Twitter di Amerika Serikat di Twitter antara Agustus – Desember 2020. Para peneliti lalu menganalisis tweet bernuansa ideologi politik, berita palsu hingga yang hiper-partisan.”

“Apa hasilnya?”

“Tekanan untuk menyesuaikan diri adalah pendorong psikologis utama dalam menyebarkan berita palsu. Jika seseorang tidak membagikan informasi pada lingkaran kelompoknya, ia merasa bakal mendapat konsekuensi sosial yang merugikan. Namun, ia belum tentu melek media dan memiliki keahlian menilai berita yang benar dan yang palsu. Boleh jadi ia tidak mampu menyaring informasi yang benar,” saya menjelaskan.

“Jika seseorang berbagi berita palsu, tetapi teman lain dalam lingkaran sosialnya tidak membagikannya, maka ada kemungkinan interaksi antara mereka bakal menurun dari waktu ke waktu. Maka, saat seseorang dalam lingkaran sosial membagikan berita, orang lain merasakan ada semacam tekanan untuk turut membagikannya juga meski tidak tahu apakah berita itu salah atau benar.”

“Oh, begitu,” kata rekan saya. “Orang membagikan berita karena sungkan pada teman-temannya dalam kelompok. Karena orang itu sangat ingin gaul dan tidak ingin dikucilkan maka ia asal-asalan saja sharing berita.”

“Nah, asal sharing berita itu tak beda dengan ghibah,” teman yang lain menimpali.

Saya menambahkan, “Karena itu, saat menyebarkan berita, kita perlu mempertimbangkan apa konsekuensinya. Cek dulu faktanya. Jika benar, silakan berbagi dengan hati-hati. Jika keliru, sama halnya kita menyebar kebohongan.”

Facebook Comments

Comments are closed.