Mengapa Yang Tercerdas Tak Selalu Dibayar Termahal?

oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, saat saya ikut training motivasional kemarin, trainernya bilang anak yang di sekolah pinter biasanya kelak hanya jadi anak buah. Bossnya biasanya dulu anak yang nakal di sekolah. Apa bener itu, Mbak?” begitu curhat temanku.

“Bisa bener, bisa juga tidak. Relatif. Bergantung kasusnya, bergantung level jabatannya, dan bergantung banyak hal lainnya,” saya mencoba menjawab.

“Mendiang Pak Habibie termasuk salah satu orang ber-IQ tinggi. Tapi, waktu balik ke Indonesia, hanya jadi menteri. Bossnya tentu Pak Presiden,” dia berargumen.

“Kan, akhirnya Pak Habibie jadi presiden juga,” saya juga punya argumen.

Pembaca yang budiman, saya sering mendengar pertanyaan tentang hubungan antara kecerdasan dan posisi atau bayaran. Banyak orang senang dikelola oleh leader yang cerdas. Tapi, banyak juga yang menyayangkan karena leader cerdas itu ternyata masih di bawah leader lain yang belum tentu lebih cerdas.

Saya coba cari jawaban lebih empiris lewat penelitian ilmiah. Di Swedia, ada penelitian yang menyimpulkan; pria berpenghasilan tertinggi tidak terlalu orang yang paling cerdas. Pria berpenghasilan tertinggi umumnya sedikit kurang cerdas dibanding pria yang berada tepat di bawah tangga ekonominya.

Penelitian ini didasarkan sistem wajib militer di Swedia. Kaum muda didaftar untuk bertugas selama setahun di angkatan bersenjata. Saat direkrut, mereka mengerjakan ujian tentang kemampuan kognitif. Para peneliti menggunakan data kognitif  59.387 pria yang masuk wajib militer 1971–1977 atau 1980–1999. Catatan kecerdasan ini kemudian dihubungkan dengan rata-rata pendapatan tahunan mereka di masa berikut setelah wajib militer.

Hasilnya, para peneliti menemukan kemampuan kognitif berkorelasi kuat dengan pendapatan lebih tinggi. Yang cerdas tentu berpenghasilan lebih banyak karena punya posisi cukup tinggi di bidang pekerjaan masing-masing. Namun, di posisi tertinggi —yakni 5% penerima penghasilan teratas— ternyata punya kemampuan kognitif yang cenderung biasa-biasa saja.

Maka, saya yakin ada faktor lain yang mendorong orang tak sangat cerdas untuk bisa menggapai kesuksesan puncak. Bisa saja itu faktor keberuntungan, koneksi, ambisi pribadi, hingga faktor kecerdasan emosional. Oh, ya, tentu juga faktor utama yakni takdir.

Orang cerdas bisa saja melakukan berbagai inovasi bisnis namun tidak segera laku di masyarakat. Orang yang agak cerdas, tapi beruntung, bisa saja tiba-tiba bisnisnya diviralkan oleh selebriti tertentu.

Tentara cerdas bisa saja karirnya cepat melambung hingga menjelang perwira. Tapi, saat hendak masuk jajaran perwira tinggi, ada pertimbangan lain yang harus diperhitungkan.

Bisa juga, pekerjaan yang menuntut kemampuan kognitif tinggi yang biasanya memikat orang sangat cerdas, belum tentu gajinya juga paling tinggi.

Tengok juga faktor ambisi. Orang dengan kemampuan kognitif tertinggi, yang cenderung mendapatkan gaji baik, mungkin merasa tidak perlu lagi bekerja lebih keras untuk mendapatkan lebih banyak uang. Sementara, orang yang biasa sangat berambisi ke puncak untuk memperbaiki nasib.

Juga, faktor kecerdasan emosional (EQ). Bisa saja orang ber-IQ sangat tinggi tapi EQ-nya kurang tinggi. Padahal, kapasitas mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kapasitas untuk memotivasi diri sendiri, kapasitas untuk mengelola emosi dengan baik, kapasitas mengelola hubungan dengan orang lain, juga sangat menentukan kesuksesan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.