5 Tahun RSTKA; Memperdengarkan Suara dari Pulau Terpencil

mepnews.id – Menapaki usia ke lima tahun, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) terus mengkampanyekan layanan kesehatan bagi penduduk kawasan pulau/daerah terpencil yang jauh dari pulau utama.

Salah satunya lewat simposium tentang ‘Adventure and Remote Medicine; An Approach for Maritime Based Health Services’ dan dilanjutkan dengan syukuran joy sailing di Selat Madura pada 11 Februari 2023.

Simposium secara hybrid digelar di Ruang Sidang A Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Peserta yang diundang antara lain; Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tehnologi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Menteri Desa & PDTT, Direktur BPJS, Gubernur Jawa Timur, IDI dan Organisasi-organisasi Profesi, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia, Dekan Fakultas Kedokteran Unair, para dekan Fakultas Kedokteran di Indonesia, Pemerintah Daerah Kepulauan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, serta para relawan dan simpatisan RSTKA.

“Suara yang banyak kami dengar dari kepulauan terpencil adalah keterbatasan distribusi dokter spesialis untuk memberikan pelayanan kesehatan. Kita harus bersama-sama mencari solusi bagi ketersediaan dokter spesialis di kawasan terpencil. Bagaimana menghasilkan lebih banyak dokter spesialis, bagaimana mengirimnya ke kawasan terpencil,” kata dr Agus Harianto SpB, direktur RSTKA.

RSTKA, yang berupa kapal pinisi dengan fasilitas medis dan rung operasi di dalamnya, sudah mengarungi sekitr 80 pulau terpencil atau kawasan bencana terutama di bagian timur Indonesia. Dari kawasan-kawasan itu, para relawan melakukan pelayanan kesehatan serta mendengarkan berbagai masalah penduduknya.

Suara-suara yang didapat dari pulau-pulau terpencil, tertinggal, dan di perbatasan antara lain pelayanan kesehatan ternyata belum cukup terjangkau. Masih ada 586 dari 10.373 puskesmas yang tidak memiliki dokter umum. Kondisi makin rumit manakala dibutuhkan pelayanan dokter spesialis.

Kalau punya banyak uang, pasien harus menyeberangi lautan untuk bisa sampai ke pulau yang ada rumahsakitnya. Kalau laut sedang bergelora, hanya yang punya nyali saja yang berangkat. Saat gelombang besar, nyawa taruhannya.

Salah satu bayi yang dilahirkan di kamar operasi di lambung kapal RSTKA.

RSTKA, sepanjang tahun 2022 saja, melakukan 36 tindakan persalinan dengan pembedahan (sectio caesarea) di berbagai pulau terpencil. Andai tidak ada kunjungan kapal ini, hampir bisa dipastikan para ibu hamil mengalami masalah rumit. Bukan tidak mungkin akan ada tambahan kematian ibu dan bayi.

RSTKA menjadi solusi alternatif bagi pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat pulau-pulau terpencil terutama yang tidak adanya dokter spesialisnya.

Facebook Comments

Comments are closed.