Mantan Teroris Ini Lulus Jadi Doktor

mepnews.id – Ali Fauzi, mantan narapidana teroris (Napiter), berhasil menyelesaikan sidang disertasi doktoral di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang, 17 Januari 2023. Sebagai mahasiswa doktoral pendidikan Islam, dalam tugas akhirnya ia mengkaji Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Napiter.

Ali aktif di lingkungan Jamaah Islamiyah yang mendalangi aksi teror. Dia adik Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron pelaku Bom Bali 2002. Meski tidak terlibat langsung peristiwa Bali, dia salah satu perakit bom. Ia sempat melanglang ke wilayah konflik seperti Afganistan dan Filipina selatan. Pada 2004, ia ditangkap pihak keamanan Filipina, dideportasi ke Indonesia, dan menjalani hukuman tiga tahun. Setelah itu, ia berbalik arah dan justru mengkampanyekan anti-teror.

Dalam tugas akhir, Ali berfokus pada subjek eks napiter. Mulai dari proses perekrutan, radikalisasi, hingga aksi penembakan dan pengeboman. Ia menilai, pemahaman Islam mereka pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan ke gerakan radikal fundamental yang berujung pada terorisme.

“Namun kini para napiter menyadari kesalahan telah melakukan tindakan merugikan pihak lain,” katanya, sebagaimana dikutip situs resmi umm.ac.id.

Menurut Ali, moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran terutama akan hak-hak orang lain yang berbeda pemahaman maupun agama. Pemaknaan Islam secara moderat dan humanis menenangkan batin para mantan napiter.

Selain melanjutkan kuliah, Ali juga memiliki Yayasan Lingkar Perdamaian yang bertujuan membawa pulang mantan napiter ke NKRI, memberikan pembinaan di lapas, memberdayakan mereka melalui pelatihan life skill, bahkan memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak mereka dan para janda yang ditinggal suami.

Terkait Kampus Putih, ia menilai UMM menjadi tempat yang memberikan harapan dan terbuka untuk siapa saja. UMM memberikan kesejukan karena paham Islam yang berwawasan tamaddun, wasathiyah, dan moderat. Para pendidiknya tidak hanya bagus dari sisi akademik tapi juga memberikan teladan dan menjadi teman diskusi yang apik.

Prof Akhsanul In’am PhD, direktur Program Pascasarjana UMM, mengapresiasi disertasi yang disusun Ali. Terutama pembahasan moderasi beragama. Kajian itu sangat penting untuk dibahas serta dibagikan ke masyarakat.

“Dalam beragama, sebisa mungkin kita menjadi orang baik dengan tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” terangnya. “Kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pak Haidar Nasir, kita harus mengambil jalan tengah. Tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan.”

In’am menyampaikan UMM memberi kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berubah menjadi pribadi lebih baik, tak terkecuali mantan teroris seperti Ali Fauzi. Menurutnya, UMM dapat memberi wawasan luas dan pengerahuan sesungguhnya dalam beragama.

Selain Ali, ada mahasiswa non-muslim dari Australia yang mengambil S3 di Pendidikan Agama Islam. Hal itu membuktikan tingkat inklusivitas UMM yang tinggi dan menyiarkan Islam yang yang menyejukkan.

“Sekarang, Pak Ali Fauzi bergelut di Muhammadiyah dan dapat aroma parfumnya. Dulu, saat bergelut dengan pandai besi, ia kena percikan api. Sekarang, ia dapat bau parfum terutama dari UMM,” ia memberi ibarat.

Facebook Comments

Comments are closed.