Oleh: Agus Wijayati
mepnews.id – Pantai Penunggul merupakan kawasan pesisir yang ditumbuhi hutan mangrove lebat di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Hutan ini tidak tumbuh sendiri melainkan ditanam Kakek Makarim, yang saat ini dijuluki Si Pejuang Sabuk Hijau. Lalu, pemerintah dan pihak swasta membantu mengembangkannya.
Sejak 1986, Kakek Makarim rajin menanam mangrove. Lalu, berkembang hutan seluas 175 hektare melingkar di sepanjang bibir pantai. Berkembangnya mangrove memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Awalnya, sumber kehidupan masyarakat umumnya dari mencari ikan sebagai nelayan. Dengan pengelolaan hutan mangrove menjadi tempat wisata, bertambah pula sumber kehidupan warga sekitar. Contohnya, ada yang berjualan makanan di sekitar tempat wisata mangrove, ada yang jadi tukang parkir, bahkan ada yang menyewakan perahu untuk para wisatawan.
Awalnya, Penunggul tempat yang gersang. Aroma tidak sedap membuat orang lewat segera menutup hidung. Lingkungan tidak bersih karena banyak penjemuran ikan. Itu terkait kehidupan masyarakat sekitar yang setiap hari jadi nelayan, ada yang jadi buruh tengkulak ikan, ada yang membuat ikan asin atau pindang untuk dijual ke pasar setempat atau dikirim ke luar daerah.
Wilayah itu juga area pertambakan hasil konversi kawasan mangrove dan jarang ditumbuhi tanaman. Tiap tahun terjadi abrasi yang semakin mendekati pemukiman. Namun, sekarang, kawasan pesisir ini dipenuhi rimbunnya mangrove.
Keberhasilan konservasi hutan mangrove di desa Penunggul membawa manfaat berarti bagi masyarakat sekitar. Antara lain meningkatnya jumlah produksi ikan, nelayan bisa melakukan penangkapan ikan di sekitar ekosistem hutan mangrove, hingga terlindungnya wilayah pantai dari bahaya banjir dan badai.
Pengelolaan hutan mangrove yang tepat bisa memberi dampak sangat baik bagi masyarakat sekitar. Hutan mangrove memiliki manfaat dan fungsi ekologi dan ekonomi bagi masyarakat. Selain sebagai tempat wisata, hutan mangrove memberikan inspirasi bagi masyarakat sekitarnya.
Mangrove, selain memberikan keteduhan, juga memberikan buah. Masyarakat sekitar mengolah buahnya jadi cemilan ringan, yaitu kripik mangrove. Kripik ini sudah dijadikan lahan bisnis oleh warga sekitar. Selain rasanya gurih, gizinya juga cocok untuk dikonsumsi.

Buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) di hutan mangrove Penunggul.
Mbak Mimin, salah satu warga Penunggul, sudah memanfaatkan buah mangrove. Awalnya, dia coba-coba mengambil buah mangrove. Buah yang bergelantungan itu dipetik dan diolah. Ternyata rasanya di luar dugaan. Mulailah ia serius membuat kripik mangrove. Prosesnya memang agak rumit, tapi hasilnya luar biasa.
Buah mangrove bisa menjadi berbagai macam olahan makanan dan minuman. Kripik mangrove jadi makanan khas Penunggul, dan jadi oleh-oleh wisatawan yang datang ke hutan mangrove.
Saat ini, kehidupan masyarakat di sekitar hutan mangrove sudah mengalami peningkatan. Lingkungannya cukup bersih, rumah-rumah tampak bagus dan kesadaran masyarakat tentang pendidikan putra-putrinya juga meningkat.
- penulis adalah pengelola TK Dharma Wanita Persatuan I Nguling di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.


