Singo Ulung; Dari Legenda Jadi Drama

Oleh: Heri Kasbanu

mepnews.id – Mentari masih ‘sejengkal’ beranjak dari peraduanya. Jarum arlojiku menunjuk angka tujuh. Si Tayo, yakni colt L 300 kendaraan andalan kami, telah siap. Tim Literasi Lentera, yang terdiri dari 5 siswa pengurus OSIS SMPN 3 Bondowoso dan 2 orang bagian dokumentasi, siap berangkat.

Kami bertugas mencari informasi tentang legenda Singo Ulung dari tempat asalnya di Desa Blimbing, Kecamaran Klabang, Kabupaten Bondowoso. Informasi itu kami butuhkan untuk menyusun naskah drama Singo Ulung yang ditampilkan Kelompok Teater Lentera SMPN 3 Bondowoso dalam acara Sisdik Award 2022.

Si Tayo menderu menuju jalan Raya Bondowoso-Situbondo. Hanya 18 kilometer, kami belok kanan menyusuri jalan desa. Setelah beberapa kelokan, terpampanglah di depan kami pintu gerbang Desa Blimbing.

Di Balai Desa Blimbing, kami pun menyampaikan maksud. Sekretaris Desa, yakni Bapak Imam, menemani dan membantu kami. Beliau mengajak kami ke dua tempat. Pertama, rumah tetua adat H. Sutikno. Kedua, situs Makam atau Pasarehan Mbah Singo Ulung. Di dua tempat itu, kami mencari informasi tentang legenda Singo Ulung.

Diksi ‘mencari’ mungkin lebih tepat bila diganti ‘mengais’. Mengapa? Informasi tentang cerita Singo Ulung sudah betebaran di berbagai sosmed atau buku. Masalahnya, dari berbagai sumber ini, ada persamaan dan perbedaan. Maka, kami mengais berbagai perbedaan itu sampai di tempat sumber cerita dengan harapan ada titik simpul untuk lebih memahami legenda ini.

Versi cerita tentang Singo Ulung salah satunya bisa ditemukan dalam buku dongeng Kisah Ketangguhan Putri Nusantara pada sub bab Kebijaksanaan Nyi Dasima. Buku yang ditulis Azizatuz Zahro dan Andhika Afifah Nurjannah dari Universitas Negeri Malang ini menceritakan perjalan Juk Seng dari tanah kelahirannya di lembah ujung timur Pulau Jawa.

Juk Seng adalah pangeran yang mendapat tugas dari ayahandanya mengembara untuk menimba ilmu di masyarakat. Juk Seng dibekali tongkat pusaka dari rotan. Singkat cerita, saat di pinggiran belantara yang kering dan tandus, Juk Seng diserang tiga perampok. Terjadi pertarungan antara mereka yang dilerai perempuan bernama Nyi Dasima. Ketika Juk Seng bersitegang dengan Nyi Dasima, muncullah hewan putih bernama Singo Ulung.

Kesalahpahaman memicu pertarungan antara dua tokoh sakti. Dari pertarungan itu, mereka menyadari ilmu mereka sama. Tunggal guru. Akhirnya Juk Seng, Nyi Dasimah dan Singo Ulung berhenti bertarung dan bertekad membangun daerah tandus itu menjadi desa subur dan makmur.

Kemudian, legenda Singo Ulung juga disampaikan Bapak Sugeng (budayawan pendiri Padepokan Gema Buana Bondowoso) melalui akun Youtube channel Dhevan Pratama. Menurutnya, Juk Seng adalah demang di Desa Blimbing. Dalam melaksanakan tugas, Juk Seng dibantu Jasiman sebagi ulu-ulu banyu atau jaga tirta atau pengelola pengairan. Jasiman juga guru ngaji. Juk Seng juga dibantu Jurati istrinya yang saat membangun kademangan.

Juk Seng punya ilmu supranatural luar biasa. Salah satunya, bisa berbicara dengan binatang. Bila dalam kondisi genting atau bahaya mengancam kademangan, Juk Seng bisa memanggil singa putih untuk menghadapi musuh atau perusuh.

Sementara itu, dari versi  tetua adat H. Sutikno, kami mendapatkan beberapa poin;

  1. Juk Seng adalah pendatang dari keturunan Kerajaan Mataram, sedangkan Ki Jasiman dari Madura.
  2. Nyi Jurati bukan istri Juk Seng, melainkan perempuan yang membatu melayani keperluan sehari-hari.
  3. Seperti halnya Warok Ponorogo, Juk Seng lelaki yang memiliki sifat ksatria, berbudi pekerti luhur, dan berwibawa di kalangan masyarakat.
  4. Terjadi adu kedigdayaan antara Juk Seng dan Ki Jasiman. Pertarungan itu terjadi berhari-hari yang akhirnya keduanya menyadari mereka satu aliran perguruan atau tunggal guru.
  5. Pada saat genting dan berbahaya, Juk Seng bisa berubah wujud menjadi singa.
  6. Juk Seng dan Jasiman bekerja sama dalam membangun desa. Juk Seng sebagai pimpinan desa atau demang, Jasiman sebagai jaga tirta.
  7. Pusaka yang mereka miliki berupa keris, tongkat rotan, cambuk atau cemeti dan lain-lain.
  8. Mereka sepakat mengadakan ritual untuk menjaga kesuburan tanah Desa Blimbing dengan berbagai tradisi, termasuk permainan ojung. Ini adalah pertarungan bersenjata rotan sampai ada yang berdarah.

Hasil ‘mengais’ yang dilakukan Tim Lentera hari itu menghasilkan informasi cukup lumayan sebagai bahan. Selanjutnya, tim menyusun naskah drama dari hasil menyarikan beberapa informasi.

Sebagai bagian dari sastra yang merupakan karya imajinatif, naskah ini kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan seni pertunjukan. Drama Legenda Singo Ulung pun dipentaskan dengan sukses di Hotel Ijen View pada 20 Mei dalam Malam Disdik Award 2022.

Facebook Comments

Comments are closed.