Oleh: Wisnu Yulianto
mepnews.id – Sebelum agama masuk, di wilayah Nusantara terdapat banyak sekali tradisi. Beragam budaya telah ada sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu. Sebagian dari itu dilestarikan secara turun-temurun hingga sekarang. Salah satu tradisi tersebut yaitu kenduri.
Menurut KBBI, ‘kenduri’ adalah ‘sebuah kegiatan atau jamuan makan untuk memperingati suatu kejadian, petistiwa tertentu, meminta berkah, doa bersama untuk meminta suatu kepada alam atau Tuhan. Dalam istilah Jawa, ‘kenduri’ biasa disebut dengan ‘kenduren’.
Di wilayah Kabupaten Pacitan, istilah kenduren masih umum dilakukan. Meski memiliki sebutan sama, kenduri atau kenduren memiliki makna dan tata cara beragam sesuai tujuan. Bahkan, bisa saja beda wilayah memiliki budaya yang lain dalam pelaksanaannya kendurinya.
Menurut para pelestari budaya di Dusun Ganang, Desa Gunungsari, kenduri atau kenduren merupakan kegiatan yang memiliki jenis dan sebutan berbeda sesuai tujuan. Setiap kenduri memiliki sebutan berbeda sesuai tujuan atau pelaksanaanya.
Secara umum, masyarakat modern saat ini lebih sering mengadakan kegiatan yang disebut selamatan. Kenduri selamatan biasa dilakukan masyarakat untuk peringatan atau sekadar syukuran atas pencapaian tertentu.
Misalnya, kenduri yang diadakan masyarakat Jawa untuk memperingati kepergian atau kematian sesorang (mitung dina, matang puluh, nyatus, mendak 1, mendak 2, dan nyewu). Ada juga kenduri yang dilakukan karena pencapaian tertentu, seperti punya rumah baru, kendaraan baru atau sekedar hari ulang tahun. Yang ini lebih sering disebut dengan istilah ‘bancakan’. Tujuan bancakan yaitu memohon keselamatan atau sejenisnya.
Waktu pelaksanaan kenduren juga beragam. Secara umum, kenduri biasa dilakukan setelah Maghrib, atau sekitar pukul 18.00, dan berlangsung antara 45 menit sampai 1 jam. Meski demikian, ada juga kenduri yang dilakukan siang hari dan waktu lebih lama. Menyesuaikan kebutuhan atau tujuan acara kenduri tersebut.
Susunan acara pada kenduri sebenarnya tidaklah rumit. Menurut para tetua di Desa Gunungsari, yang paling penting adalah niat dan pemanjatan doa. Meski demikian, ada juga yang menegaskan bahwa pemilihan hari juga penting. Waktu harus diperhitungkan menurut kalender Jawa. Ada perhitungan baik dan buruknya hari, hingga perhitungan weton yang sesuai berdasarkan pemilik hajat atau yang akan dikendureni.
Secara singkat, kenduri dapat dilakukan dengan susunan acara sederhana. Pertama, undangan hadir pada tempat pelaksanaan. Kemudian, acara dibuka oleh tuan rumah atau yang biasanya diwakilkan kepala dusun atau tokoh masyarakat. Kemudian, dilanjutkan dengan panjatan doa oleh tetua atau bisa disebut pandonga. Doa selesai, baru hidangan yang tersedia dapat dinikmati.
Hal yang sangat sederhana dan sangat sering dilakukan dalam selamatan atau kenduri adalah jamuan nasi tumpeng. Penjamuan nasi tumpeng ini bukan semata–mata karena banyak disukai atau berdasarkan tradisi belaka. Nasi tumpeng ini sangat menarik. Bentuk kerucut dan menggunakan nasi kuning. Bentuk serta warna tersebut memiliki arti penting. Bentuk kerucut tumpeng melambangkan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang MahaEsa. Warna kuning pada nasinya adalah gambaran emas lambang kemakmuran.
Lauk pendamping biasanya berbeda-beda di setiap daerah. Biasanya terdiri dari ayam, telur, kering tempe, sayur urab, teri, abon, dan timun. Tujuh lauk pendamping tumpeng tersebut ternyata juga punya makna. Tujuh dalam bahasa Jawa adalah pitu, yang bermaksud pitulungan alias pertolongan. Melalui lambang tujuh lauk, manusia meminta pertolongan kepada Tuhan.
Selain nasi tumpeng yang sudah sangat lumrah atau biasa dilakukan saat kenduri, terdapat satu penjamuan khusus yang tidak boleh dilupakan. Ada jenang atau bubur. Yang dimaksud adalah bubur halus terbuat dari gula jawa dan berwarna merah. Dalam pelaksanaan kenduri, itu biasa disebut jenang abang karena warnanya merah. Jenang abang juga memiliki pasangan yang diberi nama jenang putih, karena warna dan rupanya putih bersih dan terbuat dari beras dan santan.
Keberadaan jenang abang dan putih juga tidak semata–mata karena tradisi atau sebab bendera NKRI yang berwarna merah dan putih. Jenang abang-putih memiliki makna atau simbol pengingat kepada orang tua dan dari sana lah kita berasal. Jenang abang diibaratkan sebagai sebagai darah ibu, dan jenang putih sebagai sel sperma ayah. Selain itu, makna abang-putih adalah perjuangan yang dilakukan kedua orang tua kita melalui derasnya aliran darah dan putihnya tulang dalam membesarkan dan menghidupi kita. Maka, keberadaan jenang ini bukan sebagai perlambangan orang tua tetapi sebagai salah satu penghormatan atas pengorbanan orang tua yang tidak boleh kita lupakan.
Tradisi kenduri merupakan harta warisan yang wajib kita lestarikan. Dapat dikatakan, kenduri adalah literasi hidup yang cukup maju dibandingkan perdaban saat ini. Jika masyarakaat modern hanya bisa meremehkan budaya yang dianggap kuno, jelas itu sangat salah. Bayangkan saja, pada masa tersebut nenek moyang kita belum mengenal istilah browser ataupun internet tetapi sudah mampu berfikir secara kreatif dan inovatif hingga begitu detail mengenai tradisi. Sementara, kita baru membahas pernak-pernik yang biasanya tersedia pada acara jamuan kenduren.
Lantas, bagaimana dengan istilah kebudayaaan lain yang begitu melimpah? Sudah seharusnya kita mulai menjaga dan melestarikan tradisi tersebut sebagai bukti bahwa peradaban kita pada masa lalu tidak kalah dengan kemajuan zaman saat ini. Kita wajib bangga memiliki tradisi yang penuh makna dalam kehidupan.
Dengan adanya simbol serta makna dari simbol tersebut dapat diketahui jika setiap kegiatan tradisi yang berlansgung tidak selalu mengandung sisi magis, meskipun sebagian orang masih percaya bahwa pedoman tersebut memiliki kekuatan sapiritual bagi penganutnya. Semua kembali lagi bagaimana kita menanggapi hal tersebut. (*)
- Tulisan ini diambil dari buku Tadabur Literasi yang diterbitkan Iqro Press pada November 2022.


