Oleh: Esti Diah Purwitasari
mepnews.id – Khawatir bahwa anak Anda mungkin lambat belajar? Jangan, ah! Anak semacam itu tidak berarti tertinggal. Pembelajar yang lambat bukanlah hal aneh. Menurut American Psychological Association, 15% hingga 17% dari semua anak dianggap lambat belajar.
Tapi, apa sih lambat belajar itu? Dalam bahasa Inggris, istilahnya slow learning. Anaknya disebut slow learner. Menurut International Literacy Association, anak dengan tingkat kecerdasan (IQ) 70 hingga 85 dianggap sebagai pembelajar yang lambat. Yang normal, IQ 90 hingga 110.
Untuk mengetahui IQ, perlu tes dulu. Namun, Anda juga bisa memantau kondisi umum anak-anak yang tergolong slow learner. Antara lain;
- kesulitan dalam memecahkan masalah yang kompleks
- bekerja sangat lambat dan mudah lupa waktu
- sulit menyampaikan apa yang telah mereka pelajari
- sulit mempelajari dan menguasai keterampilan akademik seperti perkalian atau ejaan
- sulit memenuhi tujuan jangka panjang (mungkin disebabkan rentang perhatian yang pendek dan keterampilan konsentrasi yang kurang)
- tidak pandai berinteraksi dengan orang lain dalam proyek kerja sama tim
Anak-anak dengan sebagian kualitas di atas biasanya menghadapi masalah akademik. Mereka cenderung tertinggal saat belajar dengan kecepatan normal seperti anak-anak biasa pada umumnya. Slow leaerner butuh waktu lebih lama memahami apa yang diajarkan. Saat masuk ke dalam situasi yang baru, mereka juga biasanya sulit menerapkan apa yang telah atau baru saja diajarkan.
Terus, apa yang harus dilakukan?
Ini saatnya guru atau orang tua atau pengasuh untuk campur tangan. Tanpa dukungan ekstra, anak slow learner tidak akan dapat mengikuti pelajaran standar seperti teman sebayanya. Nah, jangan sampai ia merasa stres dan frustrasi. Jangan sampai ia malah jadi benci belajar.
Guru atau orang tua atau pengasuh harus bisa mencari sisi positif dari anak slow learner. Bisa jadi si anak lambat belajar secara akademik namun perkembangan fisik dan sosial serta kecerdasan emosionalnya lebih bagus daripada anak-anak lainnya. Bisa jadi, karena lambat belajar akademik, ia punya sifat manut dan tidak ngeyel sehingga lebih enak diarahkan.
Selanjutnya, sadari bahwa slow learner tidak selalu berarti si anak memiliki kecacatan mental hingga akhir hayat. Anak di usia dini masih berada pada tahap perkembangan awal. Ia mulai belajar berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan dunia. Tentu, akan ada area tertentu dalam pembelajaran yang ia menemui kesulitan. Saat bertumbuh, bisa jadi permasalah bisa diatasi.
Tahu perkembangan Albert Einstein si pemikir terhebat saat ini? Saat masih anak-anak, ia lambat dalam belajar berbicara. Setelah mulai menggunakan kata-kata, yang diucapkan masih terkesan tolol atau bahkan agak terbelakang. Untungnya, orang tua dan keluarganya cukup sabar membisikkan kata-kata dengan lembut sampai terdengar cukup bagus oleh Einstein untuk diucapkan dengan suara keras.
Kesimpulannya, anak slow learner memang membutuhkan waktu dan upaya ekstra untuk belajar. Tapi ini tidak berarti ia tidak mampu atau ia memiliki kecacatan mental. Ia memang masih anak-anak dan membutuhkan bantuan ekstra. Diperlukan strategi pengajaran khusus untuk membantu anak yang lambat belajar. Siapa tahu, kelak justru ia menjadi orang besar. (*)


