Cara Empatik Mengendalikan Bullying di Sekolah

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Jika sudah terjadi kasus bullying (perundungan) di dalam kelas, memang paling gampang bagi kita untuk menganggap si bully (perundung) adalah si jahat. Mudah, memang. Tapi, kita juga perlu memahami bullying dalam perspektif lebih luas. Jangan selalu menganggap kasus bullying sebagai kasus si baik vs si jahat. Kenyataannya, kadang pelaku bullying mengalami masalah perkembangan sosial dan emosional sehingga kurang mampu berinteraksi sosial secara efektif. Maka, diperlukan juga pendekatan khusus untuk kebutuhan psikis si bully.

Beberapa siswa yang mem-bully mungkin memiliki masalah kesehatan mental dan emosional yang kemudian memunculkan perilaku antisosial. Ada yang misalnya punya masalah kurang percaya diri atau susah mengendalikan diri sehingga perilaku agresif mereka mungkin merupakan upaya untuk mencari perhatian atau mencari bantuan. Ada juga yang mungkin mengalami kekerasan di rumah atau di tempat lain sehingga otak mereka mendapat kesan bahwa menggunakan perilaku agresif adalah cara untuk mengendalikan lingkungan sekitar.

Di dalam kelas, guru atau pendidik bertugas membantu semua siswa berhasil secara akademis serta mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka secara utuh. Maka, jika ada kasus bullying, guru juga perlu memberikan perhatian pada kebutuhan si bully dan si korban bully. Nah, empati dapat menjadi cara proaktif bagi guru/pendidik untuk mengatasi kasus-kasus bullying.

Bagaimana cara menegakkan kebijakan empatik anti-bullying di kelas?

  • Sekolah harus menetapkan kebijakan anti-bullying lalu mengembangkan, mengartikulasikan, dan menjalankannya secara konsisten. Tetapkan aturan yang jelas untuk berperilaku di dalam kelas dan usahakan para siswa menjalankannya secara bertanggung jawab, konsisten dan adil. Kadang, ada siswa melakukan tindakan bullying karena di rumah tidak ada disiplin aturan yang sehat sehingga melampiaskannya di kelas. Maka, dengan aturan ini, si bully diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial di kelas.
  • Jalin komunikasi dengan orang tua. Guru tidak dapat secara efektif memenuhi kebutuhan siswa jika tidak mengenali mereka sebagai individu. Salah satu cara efektif untuk mengenali kondisi pribadi siswa adalah melalui orang tua atau pengasuh mereka. Tanyakan kondisi dan perilaku sehari-hari siswa saat di rumah. Jika mengetahui faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap perilaku siswa, guru bisa mendapatkan pemahaman lalu bisa menyusun strategi khusus untuk mencegah siswa itu mem-bully siswa lain.
  • Arahkan ke layanan profesional sesuai kebutuhan. Sedapat mungkin, guru bisa mengatasi masalah bullying di kelas. Jika tidak bisa, arahkan siswa ke guru Bimbingan Konseling. Jika kasusnya lebih berat, arahkan siswa ke psikolog atau psikiater. Tentu, komunikasikan juga dengan orang tua atau pengasuh untuk membantu mengetahui kapan siswa dapat memperoleh manfaat dari dukungan tambahan di luar sekolah. Guru yang penuh perhatian dan empati tentu dapat membantu menjembatani kesenjangan tersebut.
  • Membangun kelas inklusif. Membangun budaya yang mendorong komunikasi, menerima perbedaan, dan memupuk kerja tim dapat mencegah bullying sebelum terjadi di kelas. Guru dapat memberi anak wawasan dan cara menangani konflik dengan teman sebaya, wawasan dan cara untuk memecahkan masalah, serta mengembangkan kata-kata baik pada siswa untuk berbicara pada diri sendiri dan pada orang lain.
  • Menumbuhkan kepercayaan antara guru dan siswa. Jika korban bully tidak melihat bahwa guru atau orang dewasa lain mau dan mampu membantu mereka, maka mereka tidak akan mencari bantuan ketika mereka sedang membutuhkannya. Padahal, jika bullying terus berlanjut, itu dapat menyebabkan kerugian lebih lanjut pada si korban. Maka, guru perlu membangun kepercayaan dengan setiap siswa, termasuk si korban, sehingga mereka merasa nyaman berbicara dengan guru jika terjadi kasus bullying. Para siswa tahu bahwa guru akan menanggapi dengan serius setiap kekhawatiran mereka.
  • Perhatikan hal-hal kecil. Guru harus meningkatkan perhatian dan pengamatan interaksi anak-per-anak di kelas untuk menangkap perilaku bullying sejak dini. Pendekatan empatik akan membantu guru lebih cepat memahami potensi perilaku yang tampaknya masih kecil namun dapat mengarah pada tindakan bullying lebih serius.

Empati adalah alat yang ampuh untuk mendiagnosis dan kemudian menghadapi perilaku bullying. Upaya untuk mengurangi bullying di sekolah jangan hanya berupa tindakan disipliner yang kaku. Harus juga berfokus pada bagaimana mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan sosial, emosional, dan kognitif semua siswa.

Lewat empati, guru dapat membantu siswa belajar bagaimana berteman, bagaimana menangani konflik, bagaimana berbicara pada orang lain, dan bagaimana menjaga hubungan yang sehat. Komunikasi terbuka dengan pihak orang tua atau pengasuh akan membantu mendukung upaya ini.

Facebook Comments

Comments are closed.