mepnews.id – Ginjal merupakan organ yang penting dalam tubuh. Fungsi utamanya menyaring darah dari segala zat yang tidak diperlukan, sebelum darah diedarkan ke seluruh tubuh. Fungsi lainnya mengatur keseimbangan, mengatur tekanan darah, hingga proses terciptanya hormon penting.
Meski demikian, ginjal dapat mengalami berbagai masalah. Salah satunya gangguan ginjal akut. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, masalah itu juga mengancam anak-anak.

Dokter Muhammad Riza Kurniawan
Dr Muhammad Riza Kurniawan SpA(K), staf Divisi Nefrologi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair)–RSUD Dr Soetomo, menjelaskan ginjal anak dengan orang dewasa memiliki fungsi sama.
“Tapi, untuk anak kurang dari satu tahun, nilai fungsi ginjalnya lebih rendah. Setelah umur satu atau dua tahun, fungsi ginjalnya sudah menyerupai orang dewasa,” katanya.
Gangguan ginjal akut terjadi bila terdapat peningkatan serum kreatinin atau penurunan jumlah produksi urin.
Kreatinin adalah limbah dalam darah hasil produksi jaringan otot saat beraktivitas. Kreatinin dalam darah disaring ginjal dan dibuang melalui urin. Jika fungsinya terganggu, ginjal kesulitan menyaring kreatinin sehingga jumlahnya meningkat dalam darah.
Tanda dan gejala gangguan ginjal pada anak bergantung pada penyebabnya. “Pantau terus produksi urin. Jika jumlahnya menurun atau enam jam tidak buang air kecil meski minum air cukup, segera bawa ke dokter,” tutur Riza.
Normalnya anak buang air kecil minimal 0,5 cc/kg/jam. Misal berat badan anak 10 kg, maka normalnya dalam 1 jam buang air kecil minimal 5 cc. Dalam 6 jam, anak buang air kecil 30 cc.
Jika fungsi ginjal sangat menurun, bisa dilakukan cuci darah dengan mesin (hemodialisis) atau dengan cuci perut.
Kasus gangguan ginjal akut masih mungkin disembuhkan. Pada kasus gangguan ginjal akut, fungsinya harus kembali normal.
“Jika tak pernah ada riwayat tidak pernah kencing, tidak pernah bengkak di beberapa area tubuh, maka fungsi ginjal bisa dikembalikan seperti normal,” imbuhnya.
Gangguan ginjal akut sifatnya berubah-ubah. Jika kita tidak tahu asal muasalnya, dan fungsi ginjal tidak kembali dalam kurun waktu tiga bulan, maka pasien masuk ke tahap gagal ginjal kronis.
“Cuci darah perlu dilakukan. Tidak harus selamanya cuci darah, tapi tergantung hasil pengukuran fungsi ginjalnya,” terangnya.
Anak dengan gangguan ginjal akut tetap memiliki kesempatan sama dengan anak lainnya. Ia akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.
“Tentu mereka punya harapan hidup. Mereka tetap tumbuh dan berkembang. Tapi harus terkontrol. Misal, jumlah urin dan evaluasi ginjalnya. Jadi harus rutin kontrol ke dokter. Harus hati-hati juga karena ginjalnya pernah cedera,” tambahnya.
Ada teknik pencegahan agar tidak terjadi gangguan ginjal akut pada anak. Misalnya, menjaga asupan nutrisi, cairan, dan makan makanan bergizi. Sehubungan dengan belum berakhirnya pandemi Covid-19 maka taat terhadap protokol kesehatan sehingga anak dapat mengurangi kerentanan anaka untuk sakit.
“Bagi anak-anak lebih besar, hindari merokok, alkohol, obat-obatan terlarang. Hindari juga obat-obatan di luar resep yang diberikan dokter,” kata Riza.
Gangguan ginjal akut progresif atipikal atau yang saat ini dikenal dengan gangguan ginjal misterius masih belum diketahui pasti penyebabnya.
“Setiap gangguan ginjal harus diketahui penyebabnya. Karena belum diketahui maka banyak yang menyebutnya misterius,” tutur Riza.
Masih banyaknya rumor dan asumsi beredar di masyarakat sehingga Riza mengimbau semua untuk tetap tenang dalam menyikapi hal ini.
“Jangan panik. Kalau memang ada keluhan semacam produksi urin yang berkurang, segera ke dokter,” pesan Riza.
Gangguan ginjal akut progresif atipikal ini sama halnya dengan gangguan ginjal akut yang biasa terjadi. Yang menjadi perbedaan adalah kondisinya cepat memburuk dan penyebabnya belum diketahui.
Hal yang harus dilakukan dalam mewaspadai kasus ini ialah tetap tenang dan mengikuti arahan dari Kementerian Kesehatan. “Ikuti saja arahan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan sampai hasil penelitian terbukti secara benar, sembari memantau produksi urin anak,” tutup Riza.
Edukasi ini diberikan Riza melalui platform FK UNAIR yang disiarkan melaui kanal youtube Dokter UNAIR TV. Setiap minggunya ada berbagai episode berbeda yang ditampilkan.(*)


