LDKS SMPN 1 Kudu Jombang Jadi Ajang Debat

mepnews.id – Banyak hal bisa dipelajari, banyak ilmu yang bisa digali dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Antara lain, saat 35 siswa kelas 7, 8, dan 9 SMPN 1 Kudu, Jombang, mengikuti LDKS di DeDurain Park Wonosalam pada 22-23 Oktober 2022. Debat produktif bermunculan.

Debat muncul tatkala materi pelatihan leadership. Teguh W. Utomo, selaku pemateri, membagi peserta ke dalam tiga kelompok yang diibaratkan negara. “Silakan masing-masing kelompok memberi nama negara, memilih presiden, dan membuat lagu kebangsaan masing-masing.”

Maka, perdebatan muncul dalam masing-masing kelompok. Tak lama kemudian, muncullah negara ‘Neo City’ dengan Aisyah Herdiana Sukmawati sebagai presidennya, negara Dellueva dengan Presiden Anggi Alyasafika, dan negara ‘Pakisku’ yang dipimpin Presiden Fadhil Muhammad.

Debat makin hangat saat pemateri menghadirkan Konferensi Bisnis dengan mambahas video pendek Cart buatan Performania.com. Video ini tentang team-bulding dan bagaimana seorang pemimpin menangani berbagai karakter di dalam tim.

Aisyah, atas nama negara Neo City, membuka paparan dengan menyatakan, “Jika seorang diri, kita akan kesulitan untuk menjalankan atau memajukan lembaga. Maka, kita perlu tim untuk membantu bergerak Bersama. Tapi kita juga harus tahu bagaimana karakteristik anggota tim.”

Ia lalu menyebut anggota pertama bagus karena membantu kinerja pemimpin. Anggota kedua hanya numpang hidup. Anggota ketiga, merepotkan. Anggota keempat yang di belakang berbahaya karena ‘bermuka dua’. Jika dilihat boss, ia terkesan mendukung. Jika tidak dilihat, ia menghambat.

Presentasinya ini langsung didebat wakil dari Pakisku dan Delleuva. Mereka antara lain mempertanyakan mengapa anggota keempat masih dipakai meski diketahui sangat merugikan. Yang lain bertanya, bagaimana cara mengetahui sifat-sifat para anggota.

Presentasi lalu dilanjutkan oleh wakil negara Dellueva yang didebat Neo City dan Pakisku, kemudian presentasi Pakisku yang didebat Dellueva dan Neo City. Debat berlangsung intensif sampai-sampai pemateri menengahi. “Kalau saya tidak turun tangan, nanti terjadi perang dunia ketiga,” kata Teguh W. Utomo, disambut tawa peserta.

Pelatihan soft skill ini berlangsung lewat beberapa games. Setiap usai satu game, beberapa peserta memberikan refleksi tentang makna permainan. Dari situ, peserta mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana koordinasi dengan teman, berbicara di depan publik, merencanakan strategi saat berkompetisi, membangun trust (rasa saling percaya) dalam tim sehingga tidak mudah runtuh, dan lain-lain.

Salah satu game untuk mengasah trust di antara peserta.

Praktik lain soft skill juga ditampilkan saat peserta harus antre makan, menata sepatu, sholat jamaah, menata tidur di barak, dan lain-lain. Begitu juga saat jelajah alam di kawasan kebun DeDurian Park dan sekitarnya. Games dalam outbound juga untuk melatih soft skill peserta.

Heri Sukamto, selaku Kepala SMPN 1 Kudu, saat membuka acara berpesan pada peserta, “Manfaatkan kesempatan ini untuk menempa diri dan menimba ilmu. Jalani semua kegiatan dengan ikhlas. Belajar dari pengalaman para pemateri.”

Silfia Rohmah, dari kelas 8 H, mengaku, “Banyak ilmu yang saya dapat. Terutama dari pertanyaan teman-teman, dari debat dengan teman-teman, serta berbagai materi yang diberikan. Saya merasa makin termotivasi.” (tom)

Facebook Comments

Comments are closed.