mepnews.id – Pekik sorak suara remaja memecah keheningan lereng gunung Anjasmoro di Jawa Timur. Suara penuh semangat itu datang dari para siswa SMAN 1 Sidayu, Gresik, yang mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di DeDurian Park, Wonosalam, pada 15-16 Oktober 2022.
Apa yang membuat SMAN 1 Sidayu Gresik memilih DeDurian Park? Ahmad Abudin, Waka Kesiswaan SMAN 1 Sidayu, mengungkapkan beberapa hal.
Secara klimatologis, lokasinya sejuk dan udaranya clear. “Dari Gresik, kami rasakan suasana pegunungan di sini lebih segar.”
Agar tidak bosan dengan lokasi LDKS sebelumya yang itu-itu saja, ia lalu browsing di Internet mencari lokasi alternatif dan tanya teman-teman.
“Setelah menemukan lokasi ini, saya kontak manajernya. Ternyata, harga paketnya juga cocok. Jaraknya juga tak jauh, sekitar tiga jam perjalanan.”
Tentu bukan sekadar jarak, harga, dan suasana yang membuat ia memilih. “Saya ingin tim trainer membantu siswa-siswa kami mendapat pemahaman tentang organisasi, administrasi, dan pelayanan terhadap siswa.”
M. Surya Bintang Utama, siswa senior mantan anggota MPK (Majelis Perwakilan Kelas), juga berharap seluruh peserta bisa menjadi tahu tentang administrasi, manajemen waktu, leadership, melatih kekompakan saat diberi tugas, dan sejenisnya.
Maka, 72 pengurus OSIS dan MPK serta 27 pembina senior pada 15-16 Oktober 2022 mendapatkan bimbingan dari tim trainer DeDurian Park. Mulai dari disiplin pengaturan waktu, antri makan, menata alas kaki, salat berjamaah dan menghormati orang yang sedang bicara.
Secara praktis, peserta diberikan pelatihan tentang keorganisasian, pembuatan program kegiatan, hingga presentasi program. Tentang leadership, peserta juga diberikan materi teori sekaligus praktik. Peserta diminta berkompetisi melalui games seru, lalu beberapa peserta menganalisis permasalahan dan mencari solusinya. Saat mengungkapkan pendapat, peserta secara tidak langsung dilatih public speaking.
Keseruan berlajut saat peserta mengikuti outbound di luar ruang. Pagi, semua peserta mengikuti jelajah medan melintasi jalan dan kebun sekitar lokasi.

Berlatih koordinasi, kerjasama, dan problem solving lewat permainan pipa bocor.
Setelah itu, mereka juga mengikuti aneka games yang mengasah teamwork, kolaborasi, koordinasi, dan kompetisi. Tak pelak, pakaian mereka basah dan bergelibat tepung. Di sela games, peserta diminta menarik pelajaran tentang apa saja yang sudah terjadi.
Sesi terakhir, mental peserta diuji dengan ‘terbang’ ala flying fox. Di tengah suasana mendung, sebagian mereka kembali memekikkan suara penuh semangat.
Di akhir acara, Nur Arifa Islamiyah, salah satu peserta, menyatakan, “Pelaksanaan LDKS di sini sangat baik. Pemateri sudah berusaha semaksimal mungkin. Begitu juga peserta. Games dari pemateri bermanfaat. Peserta juga bisa mengritisi program satu sama lain. Gamesnya meningkatkan skill kami dalam berhubungan dengan organisasi.”(*)

Melatih kerjasama tim dan responsibility dalam games estafet tepung.


