Pengelolaan Sistem Kacau, BjorkA Muncul

mepnews.id – Mengapa Bjorka dan fenomena sejenis bisa muncul? Adanya peretasan semacam itu menandakan kekacauan dalam pengelolaan cyber security system. Saat Bjorka mengklaim telah membocorkan data pribadi pejabat pemerintahan dan data-data negara di Indonesia, itu artinya pengelolaan system di Indonesia ada yang bocor.

Masitoh Indriani, pakar hukum cyber Unair.

Masitoh Indriani SH LLM, pakar hukum siber Fakultas Hukum Universitas Airlangga, menekankan urgensi pengelolaan cyber security system di Indonesia. Ia mengatakan ada kekacauan dalam pengelolaan cyber security system.

“Apakah ini sebagai bentuk protes? Bjorka mungkin melihat abainya para stakeholder dan kurang seriusnya dalam pengelolaan cyber security system,” kata dosen yang mendalami isu perlindungan data pribadi itu.

“Dengan sistem yang vulnerable, terjadilah peretasan-peretasan dan pelanggaran terhadap data pribadi. Namun, perlu dilihat juga aspek lain, yakni tingkat kepatuhan terhadap regulasi. Yang paling penting adalah materi dari regulasi itu sendiri,” imbuhnya.

Saat Bjorka muncul dan mengaku sudah membobol data-data pribadi pejabat, masyarakat menanggapinya secara pro kontra. Ada yang memujinya sebagai pahlawan pengungkap kelemahan sistem. Ada juga yang tidak setuju karena caranya dinilai melanggar privasi.

Menurut Masitoh, penyebaran data pribadi itu jelas melanggar privasi yang dilindungi konstitusi dan merupakan tindak pidana cyber crime. Berdasar hukum Indonesia, hal tersebut pelanggaran terhadap privasi yang diatur dalam Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Cyber crime ini tindak pidana yang unik karena bersifat trans-nasional. Pengungkapan tindak pidana ini effort-nya sangat tinggi karena bersinggungan dengan kerja sama internasional dan kemampuan sumber daya manusia di Indonesia yang mungkin juga terbatas,” ungkapnya.

Masitoh menjelaskan, Indonesia sudah lama menyusun payung hukum berupa Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP). Namun, hingga saat ini belum disahkan juga.

“RUU PDP adalah salah satu unsur penting dalam pengelolaan cyber security system di Indonesia agar menjadi lebih baik. Ruang lingkup RUU PDP ini mencakup definisi data pribadi dan data sensitif, hak dan kewajiban pengendali dan pemroses data, hak dan kewajiban subjek data, adanya DPO (Data Protection Officer, red) dan DPA (Data Protection Authority, red), serta mekanisme penyelesaian sengketa data pribadi,” terangnya.

Khusus untuk keamanan negara, ujar Masitoh, dapat dibuat undang-undang lain tentang cyber security system, selain RUU PDP. Masitoh menekankan, jangan sampai pemerintah Indonesia menggunakan paradigma konvensional pada era digital seperti saat ini.

“Siapa yang paling bertanggung jawab tentang kasus kebocoran data seperti ini sebenarnya kita perlu melihat dua hal. Apakah dari sisi PSE (orang atau badan usaha yang mengoperasikan sistem elektronik, Red) atau murni ada serangan dari luar. PSE sendiri nanti harus dilihat siapa yang melakukan pengendalian dan pemrosesan data,” katanya.

“Kalau serangan dari hacker luar, harus dicek apakah karena ada kelalaian PSE mengelola sistemnya sehingga ada hole untuk diserang? Atau memang murni serangan dari hacker? Ini penting sekali untuk menentukan siapa yang paling bertanggung jawab,” tambahnya.

Masitoh menegaskan data dianggap sebagai the new oil dalam konteks ekonomi digital sebagai salah satu hak yang fundamental bagi warga negara. Menurutnya, akan ada banyak kerugian fatal yang terjadi apabila cyber security system di Indonesia tidak dibenahi segera.

“Intinya, cyber security system di Indonesia masih sangat lemah. Karena itu, kita harus memperkuat regulasinya, seriusi implementasi dan penegakan hukumnya, serta dorong dan perbaiki sumber daya manusia dan infrastrukturnya,” kata Masitoh. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.