Implan Pinggul Pas untuk Orang Indonesia

mepnews.id – Harus menjalani pergantian tulang pinggul tapi ukurannya tidak cocok karena bahannya impor? Jangan khawatir. Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya menciptakan implan tulang pinggul yang ukurannya disesuaikan orang Indonesia.

Fahmi Mubarok melakukan uji coba pemasangan implan tulang pinggul di laboratorium.

Fahmi Mubarok ST MSc PhD, dosen Departemen Teknik Mesin ITS, menciptakan implan Total Hip Arthroplasty (THA) lokal yang disesuaikan dengan ukuran tulang pinggul masyarakat Indonesia. Implan tulang ini bisa menggantikan produk impor yang umumnya berukuran lebih besar.

Operasi THA digunakan untuk mengganti sendi panggul yang rusak atau bermasalah dengan persendian baru buatan melalui pemasangan implan. Permasalahn bisa timbul karena penyakit seperti osteoporosis atau kecelakaan.

Masalahnya, seluruh implan yang beredar di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Ukurannya belum disesuaikan dengan anatomi atau morfometri orang Indonesia. Biasanya berukuran lebih besar karena dibuat berdasarkan anatomi orang Eropa dan Amerika ras Kaukasoid.

Desain total hip arthroplasty ciptaan Fahmi-Mubarok.

Maka, riset tentang ukuran implan khas orang Indonesia telah dirancang sejak 2019 dan direncanakan berlangsung hingga 2024, dengan tujuan akhir berupa komersialisasi desain THA, dengan diiringi pengawasan serta pengembangan dari implan yang diciptakan.

Fahmi menjelaskan, femoral yang paling banyak digunakan di Indonesia berukuran panjang 115-160 sentimeter. Ukuran femoral head offset orang Indonesia lebih pendek 35 milimeter dibandingkan orang Swiss atau Prancis (47 milimeter) dan India atau Pakistan (40 milimeter). Namun, femoral head tetap dibuat dengan ukuran internasional yaitu dengan diameter 22 sampai 44 milimeter.

Alumnus Norwegian University of Science and Technology itu menyebutkan, produsen implan THA yang banyak digunakan di Indonesia yaitu DePuy Synthes dari Amerika Serikat, Medacta International SA dari Swiss, dan Implantcast GmbH dari Jerman.

“Implan tim ITS mengadopsi sistem dengan alat pemasangan ortopedi milik DePuy Synthes, sehingga desain DePuy Synthes menjadi landasan dalam proses desain implan,” ungkap finalis European Inventor Awards 2022 ini.

Desain yang sudah ada dari Amerika Serikat masih digunakan dalam perancangan implan lokal karena penanaman implan masih menggunakan alat bantu. Sementara, alat bantu pemasangan itu memiliki ketelitian yang spesifik terhadap bentuk implan. Akibatnya, perubahan desain masih belum dapat dilakukan karena mempertimbangkan ketersediaan mesin pemasang.

“Ke depan, kami berharap dapat mengembangkan alat pemasangan implan sendiri yang dirancang secara khusus. Untuk sementara ini kami menciptakan implannya saja dulu,” ujar Fahmi.

Fahmi menyebutkan, tahapan riset bersama RSUD dr Soetomo. Riset dimulai dari proses pendesainan implan. Data tulang pinggul diperoleh dari hasil magnetic resonance imaging (MRI) RSUD dr Soetomo. Setelah melakukan perancangan, desain implan tulang yang sudah jadi dicetak melalui 3D printing untuk tahap uji coba. Pengujian sampel produk dilakukan pada tulang sintetis berbahan polimer.

Fahmi menyerahkan proses ini pada Departemen Ortopedi RSUD dr Soetomo yang diwakili Prof Dr dr Dwikora Novembri Utomo SpOt(K) dan dr Kukuh Dwiputra Hernugrahanto SpOt(K). Hasil pengujian desain implan berada dalam peninjauan dokter spesialis ortopedi.

Associate Professor di Departemen Teknik Mesin ITS tersebut menjelaskan, perlu dilakukan iterasi dan percobaan beberapa kali sampai desain disetujui. “Setelah dicoba pada tulang sintetis dan kadaver, kami menarget uji praklinik pada domba di tahun 2023 dan uji klinik di tahun 2024.”

Kendala utama dihadapi Fahmi adalah menyesuaikan waktu riset dengan kesibukan dokter ortopedi di RSUD dr Soetomo yang memiliki jadwal operasi padat. Namun, momentum tersebut justru dimanfaatkan Fahmi untuk menganalisa prosedur operasi tulang yang dijalankan.

Selain itu, dukungan dari pasar juga dibutuhkan karena saat ini implan lokal harus bersaing dengan implan impor yang lama beredar.

Ke depan, Fahmi berharap risetnya menjadi salah satu langkah dalam memenuhi kebutuhan implan permanen di Indonesia sekaligus membuktikan bahwa Indonesia juga mampu memproduksi implan sendiri.

“Saling terbuka dan menggandeng kolega-kolega dokter, karena mereka lah yang kelak mengaplikasikan penemuan ini dan membantu memenuhi target Indonesia dalam penyediaan implan lokal,” kata Fahmi. (Yanwa Evia Java)

Facebook Comments

POST A COMMENT.