Literasi Finansial Selamatkan Otak Anak

Oleh: Sholehah Yuliati

mepnews.id – Otak dibagi menjadi iga bagian; korteks untuk berpikir, limbik untuk emosi dan batang otak (reptil) untuk bertahan atau menyerang.  Dalam otak bayi lahir terdapat 100 milyar neuron dan 50 triliun sinaps. Kualitas otak sangat tergantung kualitas pengasuhan dan lingkungan pengasuhan.

Lingkungan pengasuhan yang penuh dengan cinta akan menghasilkan syaraf otak yang rimbun. Lingkungan pengasuhan dengan kekerasan akan memutuskan sel-sel syaraf otak anak. Misalnya, anak sering dibentak,  dimaki, dan dimarahi. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.

Anak yang masih dalam pertumbuhan otak, yakni pada masa golden age 2-3 tahun pertama kehidupan, suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan, saat ibu  memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Berdasar pengetahuan sebagai guru di lembaga PAUD Al Hidayah Pacul Permai di Bojonegoro, saya tentu merasa terpanggil untuk menyelamatkan generasi melalui stimulasi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Hal tersebut kami rangkai dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan 10 prinsip pembelajaran PAUD, yakni;

  1. Belajar melalui bermain.
  2. Berorientasi pada perkembangan anak.
  3. Berorientasi pada kebutuhan anak.
  4. Berpusat pada anak.
  5. Pembelajaran aktif.
  6. Orientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter.
  7. Orientasi pada pengembangan kecakapan hidup.
  8. Didukung oleh lingkungan yang kondusif.
  9. Berorientasi pada pembelajaran yang demokratis.
  10. Pemanfaatan media belajar, sumber belajar, dan narasumber.

Dari sini muncul persoalan yang sudah menjadi rahasia umum. Ketika orang tua memutuskan dan memilih menyekolahkan anaknya, harapan terbesar  adalah  anaknya segera mampu membaca, menulis dan berhitung, tanpa melihat usia anak.

Anggapan orang tua adalah sekolah itu harus membaca dan menulis. Maka, mereka mengisi tas anak dengan perlengkapan menulis (buku, pensil, polpoin, crayon, stip). Mereka beranggapan, yang penting keluar PAUD lalu masuk SD sudah lancar calistung. Yang lebih parah, ada orang tua yang menggunakan cara-cara kurang nyaman, Ketika anak kurang mampu, atau lambat merespon, dengan serta merta dan secepat kilat, orang tua mengatakan “Bodoh” atau “Goblok” ditambah ‘pemanis’ berupa cupitan kecil di paha anak.

Proses drill calistung yang tidak ramah ini lah yang ingin kami coba rubah. Kami menggunakan metode dan cara berbeda, dengan memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak, namun dapat menghasilkan akhir yang sama; anak mampu membaca, menulis dan berhitung, dengan bonus otak anak aman, syaraf otaknya rimbun, dan pembelajarannya menyenangkan.

Program dan kegiatan dimaskud itu kami sebut dengan istilah “Entrepreneur Kids”.  Proses pembelajaran yang kita siapkan antara lain ;

  1. SKJ (Kerjasama kelas siapkan jajan)

Anak diajak menyiapkan jajan untuk kelas yang berbeda. Dengan menyiapkan wadah yang telah tertulis jumlah masing-masing kelas, anak diajak menghitung sesuai jumlah yang dibutuhkan. Selanjutkan anak mengantarkan jajan tersebut di kelas-kelas dengan kerjasama setiap masuk di kelas dibiasakan untuk mengucapkan salam dan meminta izin dengan mengucapkan “Assalamualaikum, maaf kami mengantarkan jajan buat kakak.” Karakter yang ingin dibangun adalah karakter kerjasama, kepemimpinan, disiplin, dan cerdas literasi.

  1. KBD yes (Karyaku Bernilai Dolar)

Anak diajak membuat karya dari bahan bekas. Karya tersebut dibawa pulang untuk dijual ke orang tua dan saudara. Hasil dari penjualan dibawa ke sekolah untuk disimpan pada celengan anak. Karakter yang ingin dibangun adalah kreatif, pantang menyerah, percaya diri, mandiri, dan cerdas literasi.

  1. SBB Mantep (Siapkan Barang Bekas)

Anak diajak membawa barang bekas satu minggu sekali. Pada kegiatan ini, terjadi proses stimulasi menanamkan rasa cinta lingkungan, mengidentifikasi masalah, mengklasifikasikan benda berdasarkan ukuran, percaya diri, transaksi jual beli, hingga literasi finansial. Anak dibimbing untuk menghitung dan menulis dengan bantuan guru. Berapa jumlah barang yang dibawa, jenis barang yang dibawa, berapa uang yang diperoleh. Hasilnya penjualan dimasukkan kembali ke celengan anak.

  1. Market day

Setiap kelas menyiapkan menu yang akan dijual bersama-sama di tempat yang ditentukan. Kegiatan ini menumbuhkan karakter kerjasama, percaya diri, pantang menyerah, religius, cerdas literasi, kreatif, dan bertanggung jawab. Market day dilakukan bersama orang tua  dengan kompetisi per kelas.

Pesan yang ingin kami sampaikan adalah ajari calistung kepada anak dengan cara menyenangkan, ramah anak dan ramah otak, sehingga anak akan memiliki kesan baik bahwa belajar itu menyenangkan dan bahagia. Stop marah, stop bentak, stop men-judge.  (Yuli_WP).

Facebook Comments

POST A COMMENT.