Pak Kiai Ali Imran

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id –¬†Seorang kiai setiap didatangi dan disambati alias dicurhati masalah-masalah yang ruwet dan berat oleh tamu-tamunya, selalu membacakan ayat Allah: wa sari’u ila maghfirotimmirrobikum. “Segera minta ampun kepada Allah,” begitu kata Pak Kiai setelah membacakan Quran Surat Ali Imran ayat 133 dan 134.

Setiap tamu yang datang dengan permasalahan seberat apapun, mesti disuruh baca sendiri sekaligus terjemah dari ayat tersebut.

“Kamu harus minta maaf dulu kepada Allah agar segala sesuatunya menjadi mudah. Bergegaslah menuju ampunan Allah. Selain baca istighfar, kalau hutan tidak digunduli, Allah akan mengampuni penduduk dengan cara menghindarkan dari banjir. Juga jika rakyat kecil tidak didholimi, tidak dibikin sakit hati dan kecewa, Allah akan mengampuni kita semua dari berbagai macam bencana. Selama ini siapa saja sangat berani kepada orang kecil, sedangkan kepada orang besar hanya sindir-sindir saja…” DDemikian selalu dituturkan Pak Kiai saat itu.

Menurut Pak Kiai, Surat Ali Imran ayat 133 dan 134 ini terasa begitu sempurna. Tentang ampunan Tuhan, surga seluas langit dan bumi, orang bertaqwa, pemberi sedekah baik berada di posisi lapang atau sempit, pengendali amarah, serta wal afi na aninnas; permaafan kepada sesama manusia. Rasanya indah dan sempurna sekali hidup yang demikian.

“Sudahlah,” Pak Kiai selalu memantapkan, “Percaya saja kepada Allah. Banyak-banyak baca istighfar dan shalawat. Hidup masih panjang. Tenanglah. Selain bergegas segera menuju ampunan Allah, bergegas pulalah kepada surga rasa syukur yang seluas langit dan bumi. Hanya dengan rasa syukur hidup terasa lapang dan luas, tak ada kebuntuan. Semua adalah jalan keluar. Jangan merasa punya beban masalah melulu. Tapi sadarilah bahwa segala sesuatunya juga bermakna jalan keluar yang terbaik dan lebih menyelamatkan.”

Selanjutnya, Pak Kiai Ali Imran ini, menjelang tahun baru 2021 sedang sibuk dan kelihatan senang dengan gubuk sederhananya yang kini temboknya ditempeli wallpaper sticker. Pak Kiai terkagum-kagum. Bisa saja manusia itu. Ada-ada saja idenya, bikin wallpaper segala macam.

Kalau Pak Kiai bilang gubuk, maka gubuk betulan. Bukan sopan santun khas Jawa yang selalu bilang “monggo pinarak di gubuk saya” meskipun rumahnya senilai milyaran. Juga tatkala Tuhan bilang dalam ayat 133-134 QS Ali Imran itu pasti adalah juga betulan. Bukan main-main. Dan sejatinya hamba adalah mohon maaf terus menerus kepada Tuhan sebagai bentuk kepastian bahwa manusia pasti memiliki kesalahan.

“Apakah ayat Tuhan yang lain tidak penting, Kiai?” Tanya seorang tamu.

“Oh sangat penting,” Pak Kiai langsung merespon, “semua ayat Tuhan itu penting. Kalau sekarang saya lagi kagum dengan wallpaper sticker, jangan dianggap saya tidak kagum dan menganggap tidak penting dengan kecanggihan kipas angin, jam dinding, televisi atau handphone…

Pak Kiai Ali Imran sembari nyeruput kopi, lantas bilang sambil guyon: “Orang-orang itu kalau saya lihat-lihat kok ya ada-ada saja dan kok bisa-bisanya memanggil saya Kiai Ali Imran hanya karena saya pengagum Surat Ali Imran. Kalau ada Kiai pengagum puasa, berarti dia Pak Kiai Al-Baqoroh dong, hahahahaha…”

(Banyuwangi, 29 Desember 2020)

Facebook Comments

Comments are closed.