Tukang Becak dan Shalawat Thibbil Qulub

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id – Malam itu, kopi saya belum habis, dan baru saja saya sambat: “Ya Allah, saya ini selain takut virus, takut api, juga takut melarat, Ya Allah… Maafkan dan lindungi aku yang selemah dan separah ini Ya Allah…”

Baru saja berkata dalam batin seperti itu, tiba-tiba ide saya datang, dan menyuruh saya: “Kamu sekarang nulis, judulnya Corona dan Tukang Becak.”

Saya spontan saja menjawab: “Oke siap. Lantas lanjutannya gimana Pak Ide?”

“Begini,” jawabnya, “orang-orang itu kalau membenci seseorang, bahkan menganggap rendah dan meremehkannya, serta yang direndahkan itu sudah selalu bilang ke mana-mana bahwa dia memang rendah dan bukan siapa-siapa atau anggaplah dia tukang becak yang agak sinting, tapi begitu ada orang menemuinya, cium tangan kepada Pak Tukang Becak, lantas karena ada yang cium tangan itu, lha kok orang-orang itu cemburu kepada Pak Tukang Becak?”

“Maksudnya gimana Pak Ide?”

“Bahkan saking cemburunya, mereka dianggap menyembah Pak Tukang Becak. Ini kan lucu. Baik dan jatuh cinta kepada Tukang Becak kok dicemburui sedemikian rupa. Apa mereka perlu dikuliahi lagi ilmu lawas tapi inti bahwa orang yang mencium Hajar Aswad bukan berarti penyembah batu…”

“Terus hubungannya dengan Corona gimana Pak Ide?”

“Nah, akhir-akhir ini, Pak Tukang Becak sering membicarakan virus Corona. Menganalisisnya dan terlihat betul bahwa Pak Tukang Becak ini sayang dan peduli sama semua orang, terutama orang kecil. Dan aku sangat suka dengan pandangan yang disampaikan Pak Tukang Becak. Nah, lucunya pandangan Corona versi Pak Tukang Becak ini ditertawakan karena dikaitkan dengan Tuhan…”

“Lho, ditertawakan kok lucu Pak Ide?” Saya semangat mengejar.

“Ya lucu tho. Andai pendapatnya salah pun, lha dia sudah menyatakan bahwa dia bukan orang penting, bukan siapa-siapa, dan sudah benar-benar dianggap tidak penting oleh mereka yang menertawakan. Lha ngapain pula mesti ditertawakan oleh mereka? Mestinya yang perlu ditertawakan itu adalah mereka-mereka yang merasa penting, merasa hebat, juga merasa punya kekuasaan tapi nggak bisa berbuat apa-apa atau mungkin sengaja tidak berbuat apa-apa terhadap wabah Covid-19 ini. Iya, tho?”

“Maaf, nama saya bukan Tho, Pak Ide, hehehehe…” Saya guyoni agar tidak terlalu serius.

“Saya juga bukan Pak Ide, ngawur saja kamu, hehehehe…” Dia membalas dengan bercanda juga.

Bisa saja dia.

Kemudian saya lanjutkan minum kopi. Setelah itu mendadak Pak Ide tadi lenyap entah ke mana.

“Waduh…” batin saya.

“Gimana ini lanjutannya…” tanya saya bingung.

Saya inginnya menulis yang ada shalawatannya gitu. Shalawat yang semenjak virus Corona menjalar, para kiai menganjurkan dibaca sebelum shalat lima waktu, yaitu shalawat Thibbil Qulub, yang artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya, sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Dan semoga Rahmat tercurah limpahkan kepada para sahabat beserta keluarganya.”

Tapi ide saya menawarkan Tukang Becak. Ya sudah, saya ikuti saja. Namun dia mendadak muncul lagi, justru sambil baca shalawat yang artinya saya tulis barusan: “Allahumma sholli ala sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wa dawa’iha, wa afiyati abdani wa syifa’iha, wa nuril abshori wa dhiya’iha, wa ala alihi wa shohbihi wa sallim.”

“Selain jangan terlalu panik dan mengikuti saran medis mengenai Covid-19 ini serta harus selektif terhadap kabar beritanya, kita perlu juga memperbanyak baca shalawat agar Tuhan menitikkan air mata jatuh hati dan tidak tega-Nya untuk menolong kita segera ada saja jalan yang menyebabkan Coronavirus ini lenyap dari kehidupan ini,” pesan Pak Ide setelah shalawatan.

Ah, setelah saya fikir-fikir, daripada nurutin judul versi ide saya itu, mending judulnya saya ganti saja deh biar lebih mesra: Tukang Becak dan Shalawat Thibbil Qulub.
(Banyuwangi, 3 April 2020)

Facebook Comments

Comments are closed.