Di Cacalan Beach

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id – Malam itu, meski tampaknya sedang bersenda gurau dengan teman-temannya, seseorang ini diam-diam sedang melakukan dialog dengan batinnya sendiri. Dia merasa bergembira menyaksikan lalu lalang siapa saja yang berada di Pantai Cacalan. Sebuah pantai yang berada di Banyuwangi sebelah utara.

“Pantai Cacalan ini mempersilakan siapa saja bisa masuk menikmati segelas kopi di sini. Bagaimana pendapatmu dengan tempat pendidikan, baik sekolahan maupun pesantren yang melakukan seleksi terlebih dahulu sebelum menerima santri atau muridnya untuk supaya mereka bisa mencari ilmu?” Bisik batinnya, menggoda pikirannya.

Segera sang bisik ditanggapi balik: “Apakah setiap seleksi itu pasti jelek? Apakah setiap memilih pasti tak manusiawi? Apakah tempat pendidikan yang agung itu sedang kamu samakan dengan warung kopi?”

Segeralah dialog batin ini bersahutan.

“Oh ya bukan begitu bos, sabar, hehehehe…”

“Sekolah itu tempat mulia. Perkara ada guru yang terang-terangan tanpa rasa malu menciderai nama baik sekolah, itu hanya kasus nila setitik yang merusak susu sebelanga saja. Masih banyak guru yang baik. Sekolah itu agung. Jadi, jangan sekali-kali kamu samakan dengan warung kopi, you know? Sekolah itu memilih atau menyeleksi agar para murid juga sadar dan belajar untuk bisa memilih dan menyeleksi dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau manusia tak punya kekuatan untuk memilih. Terseret terus oleh keburukan dan keangkuhan sepanjang zaman….”

“Oke bos. I know. Tapi…”

“Kalau sel penjara hanya menerima mereka yang tersandung kasus narkoba, korupsi, pemerkosaan, atau pembunuhan, apakah lantas kamu akan usil: mbok ya penjara itu jangan pilih-pilih. Demi pembelajaran semua generasi penerus bangsa, mbok ya mereka semua dimasukkan sel penjara tanpa sebab agar mereka berlatih hidup apa adanya di penjara?”

“Wah, ya jangan gitu bos, ampun bos, hehehehe…”

“Pokoknya jangan menghalangi siapapun untuk memilih. Biarkan jika ada sekolah dengan terapan kebijakannya menyeleksi mana siswa yang layak menimba ilmu kepadanya. Meskipun aku sendiri juga tidak setuju. Masak sekolah yang katanya hebat dan unggulan, hanya mampu menghebatkan anak-anak yang memang sudah hebat. Kalau memang bisanya hanya menghebatkan anak hebat, maka jangan pernah menyebut sekolahnya hebat atau unggul…”

“Aduh bos, kok mbulet gitu. Isu sekolah unggul dan tidak unggul sekarang sudah tidak laku. Ngomongin yang lain saja bos. Hari gini, yang penting dapat duit bos. So, stop bos. Please!”

“Jadi, jangan distop dulu. Jangankan sekolah, warung kopi saja ada yang harganya mahal. Dia hanya memilih yang berduit tebal. Aku hanya ingin bilang jangan sampai ada anak putus sekolah apapun alasannya. Harus ada sekolah yang mau menerima siapa saja. Aku hanya takut jika semua sekolah jadi sombong kepada mereka yang¬†disebut bodoh, sehingga mengusirnya. Meskipun boleh-boleh saja ada sekolah dengan berbagai syarat yang macam-macam. Karena hidup ini dinamis maka semua harus bisa sekolah. Yang tidak pandai ditingkat dasar, bisa jadi pandai ditingkat menengah. Bahkan ada yang pandainya setelah lulus sekolah, menyadari berbagai hal, bahkan kemudian hingga menjadi seorang pemimpin yang top dan jos di masyarakat…”

“Tapi tidak semua pemimpin pandai bos. Iya kan bos?”

“Ah, jangan sok menilai orang kamu. Aku sebenarnya mau menulis jadilah orang tua yang pandai dan cerdas, yang terus menerus belajar sepanjang zaman, justru supaya kelak menyelamatkan masa depan putra-putrinya sendiri. Orang tua harus peka, peduli, dan mengerti terhadap perubahan sikap anaknya sendiri setiap hari. Agar tak menggantungkan semuanya kepada sekolah. Tapi aku sedang kurang enak badan…”

“Hadeeeeehhhhh…”

Dialog batin yang berjalan begitu cepat tersebut jika ditulis bisa jadi panjang. Seseorang ini segera menghentikannya agar tak terlihat seperti sosok yang sedang murung dan merenung. Dia segera ngobrol dan bergurau kembali dengan teman-temannya. Lantas cabut, naik mobil, tanpa bertanya: “Ini mobilnya siapa ya, kok bagus sekali?”

(Banyuwangi, 14 Februari 2019)

 

Facebook Comments

Comments are closed.