Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pada waktu mendekati deadline pemenuhan target kerja masing-masing, beberapa teman sering curhat ke saya.
“Duh, Mbak, weekend besok nggak ada acara me time dulu. Boss minta aku menyelesaikan semua laporan. Padahal, laporannya banyak sekali. Jengkel, nggak…!” kata seorang akuntan.
“Coba pikir, Mbak. Bagaimana saya bisa berfikir kreatif jika Boss masang target seminggu tuntas tiga desain. Saya sangat tertekan. Otak jadi kering kalau ngejar target saja,” keluh seorang art designer.
…………
Pembaca yang budiman, masing-masing kita tentu pernah mengalami kondisi seperti curhatan teman-teman saya di atas. Ibu-ibu yang ngurus rumah tangga pun pernah mengalaminya, misalnya saat jatuh tempo bayar cicilan dan tagihan lalu tiba-tiba anak minta sepatu baru saat harga telor melonjak naik.
Berbagai tekanan, entah itu dalam bentuk gesekan sosiologis, tekanan di tempat kerja, hingga masalah keuangan saat harus bayar-bayar tagihan, dapat menyebabkan orang merasa frustrasi. Tekanan-tekanan itu dapat mempengaruhi kehidupan, memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Orang jadi merasa cemas, stres, khawatir, hingga kehilangan motivasi. Bahkan, jika tekanannya berkepanjangan, itu dapat memicu masalah fisik seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, insomnia, dan gangguan pencernaan.
Tapi, jangan cemas. Riset di Jerman yang dilakukan Radwa Khalil, Lin Lin, Ahmed A. Karim dan Ben Godde memberi cara bagus. Para peneliti menemukan, resep mengapa sejumlah orang tetap bisa menghasilkan ide-ide kreatif luar biasa meski sering menerima feedback yang normalnya bisa membuat orang jadi frustrasi.
Untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan, untuk tetap bisa kreatif saat dalam berbagai tekanan, manusia dapat memblokir reaksi otomatis atau pre-poten mereka dengan menggunakan keterampilan mental yang secara psikologis dikenal sebagai response inhibition alias penghambatan respons. Nah, di sini rahasainya.
Response inhibition adalah kemampuan untuk mengendalikan impuls atau keinginan untuk merespons suatu situasi tertentu yang dianggap tidak sesuai atau tidak pantas. Ini proses kognitif dalam pengendalian diri dan perilaku yang melibatkan pemrosesan informasi dan pengambilan keputusan secara tepat.
Contohnya, ketika seseorang merasa lapar lalu melihat makanan yang menggiurkan, dia justru menahan diri sehingga tidak mengambil atau memakannya. Ia justru mempertimbangkan kembali untuk meilih makanan yang lebih sehat atau menunggu waktu yang tepat. Ya, seperti orang berpuasa. Ia bisa menunda kepuasan demi menghindari perilaku tidak baik atau sehat.
Contoh lain; menahan diri untuk tidak memeriksa ponsel selama rapat kerja, menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan di kelas jika tidak diminta guru, atau menghindar dari debat kusir yang memanaskan hati.
Response inhibition merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam situasi sosial, akademik, dan pekerjaan. Orang yang kurang mampu mengendalikan impuls atau cenderung bertindak impulsif, dapat mengalami kesulitan dalam menjaga hubungan sosial yang baik dan sulit mengelola stres dalam pekerjaan.
Ada beberapa teknik dan terapi kognitif untuk melatih response inhibition. Antara lain berpuasa, meditasi dan relaksasi, terapi perilaku kognitif, dan pelatihan keterampilan sosial. Pelatihan ini memerlukan operasi dengan cara lebih terkontrol dan disengaja. Tidak asal-asalan menanggapi dorongan hati, kecenderungan, atau kebiasaan.
Menurut penjelasan Radwa Khalil dan kawan-kawan, berpikir kreatif itu dapat dipengaruhi secara signifikan oleh kondisi emosi. Sejumlah riset sebelumnya menyoroti efek negatif keadaan emosional terhadap kreativitas. Tapi, interaksi antara kondisi afektif tertentu, keadaan emosional, dan response inhibition, masih sulit dipahami.
“Nah, hasil riset kami memperluas pemahaman tentang mekanisme berbeda dari keadaan emosional tertentu pada pemikiran kreatif yang berbeda dan respons yang terkait dalam konteks response inhibition. Data kami mengungkapkan, response inhibition ternyata memediasi efek pengaruh negatif dan kondisi kelelahan. Pada kenyataannya, response inhibition justru meningkatkan gairah psikofisiologis pada pemikiran berbeda,” kata Radwa Khalil.
Maka, orang-orang dapat membuka potensi kreatif mereka dan mendapat tingkat pencapaian baru dengan cara mau menerima kondisi frustrasi dan menggunakan kondisi pembuat frustrasi itu sebagai alat untuk menginspirasi ide dan metode baru.
Doktor pakar Experimental and Computational Neuroscience ini menjelaskan, temuannya dapat mengarah pada implikasi menarik untuk penerapan temuan berbasis strategi potensial dalam praktik. Bisa di sektor pendidikan, industri, dan politik, terutama ketika kreativitas dan inovasi sangat diperlukan. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan dalam hal ini.
Intinya, orang yang mengalami tekanan dan ketidakpuasan memang bisa mengalami kondisi frustasi. Tapi, di sisi lain, kondisi itu juga bisa menjadi katalisator kuat bagi penemuan baru dan kreativitas.
“Kita memang harus siap menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan. Tapi, jika kita bisa menerima dengan ikhlas lalu menanganinya secara berbeda untuk mengubahnya menjadi motivator bagi kegigihan kita, maka kita dapat mengeluarkan potensi kreatif kita,” kata Khalil.


