Si Pleret yang Makin Langka

Oleh: Mufidah

mepnews.id – Kue tradisional ini bisa dibilang sudah tergolong langka. Tak heran, karena jajanan jarang dijual di pasar. Hanya beredar pada masa-masa tertentu dan di daerah tertentu pula.

Aku hanya bisa menemukan jajanan ini di kampung halamanku di Kota Kediri, Jawa Timur. Meski demikian, orang asli Kediri masa kini pun belum tentu mengenal atau bahkan menemui kue ini. Ya, karena hanya orang lama dan orang tertentu yang bisa membuatnya.

Aku biasa mendapatkan kue ini ketika ada orang hajatan memperingati tujuh bulanan kehamilan. Istilah orang Jawa, mitoni atau tingkeban. Ritual atau upacara ini untuk memperingati tujuh bulan kehamilan anak pertama. Konon, tradisi tingkeban ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.

Nama kue ini adalah pleret. Dibuat untuk melengkapi jajanan pasar yang disajikan dalam upacara tingkeban. Jajanan pelengkap lainnya berasal dari hasil bumi. Mbah Buyut merinci jajanan dari hasil bumi. Polo gumantung yaitu tanaman yang buahnya menggantung, antara lain jeruk, mangga, pisang, jambu dan lain-lain. Polo kependem yaitu umbi-umbian di bawah tanah, antara lain singkong, ubi, talas,  garut, kacang  tanah dan lain-lain. Polo kesampar yaitu buah yang tergeletak di atas tanah. Antara lain labu kuning alias waluh, semangka, dan lain-lain.

Jajanan yang termasuk polo gumantung, polo kependem, dan polo kesampar penyajianya bisa dengan cara dikukus atau direbus. Ubi, singkong, pisang, labu, kacang tanah harus dikukus atau direbus.  Buah-buahan lain dibuat rujak serut.

Menurut kepercayaan atau mitos orang zaman dulu, rujak serut juga bisa menjadi isyarat. Jika terasa sedap, biasanya calon bayinya berjenis kelamin perempuan. Kalau rasanya hambar, calon bayinya nanti berjenis kelamin laki-laki. Tapi itu hanya mitos. Boleh percaya atau tidak. Lagi pula, sekarang ada USG. Yang penting, tujuan acara tingkeban agar nanti bayi dan ibunya sehat.

Aku teringat kue pleret karena memori masa kecil. Kala itu, mbah buyutku biasa diminta tetangga atau kerabat membuat kue ini. Mbah Yut memang jagonya membuat kue pleret. Hasil akhirnya sempurna; berbentuk seperti kelopak bunga serta rasa gurih dan manisnya juga pas.

Bahan dasar membuat kue pleret ini sangat sederhana, yaitu tepung beras. Pelengkapnya antara lain gula pasir yang direbus dengan air secukupnya.  Juga ada sedikit garam untuk menambah rasa gurih dan pewarna makanan untuk mempercantik penampilan.

Cara membuatnya, menurutku, susah-susah gampang. Yang pertama dilakukan Mbah Yut adalah mengepal-ngepal tepung beras. Tepungnya dari beras yang direndam semalam kemudian digiling sendiri. Mbah Yut tidak beli tepung beras yang sudah kemasan karena teksturnya kering sehingga tidak bisa dikepal. Nah, tepung beras yang sudah dalam bentuk kepalan tadi dikukus terlebih dahulu selama kurang lebih 15 menit.

“Yung, kenapa kok tepungnya dikepal dan dikukus dulu?” tanyaku waktu itu.

“Supaya nanti, ketika diuleni, tepung ini mudah dibentuk dan tidak mudah putus karena tepungnya sudah matang,” jawab Mbah Yut.

Setelah 15 menit dikukus, tepung dihancurkan lagi, kemudian diuleni dengan air gula yang hangat-hangat kuku. Lalu, ditambah dengan garam sepucuk sendok untuk menambah rasa gurih. Untuk rasa manis, tinggal menyesuaikan.  Tepung beras diuleni dengan air gula sampai kalis menyerupai plastisin; tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek, supaya mudah dibentuk.

Adonan yang sudah kalis ini diambil Mah Yut sedikit demi sedikit dan dicetak dengan menggunakan cetakan dari gedebog pisang. Tekniknya hanya menggunakan keterampilan tiga jari memilin sedikit demi sedikit, menekan adonan di gedebog pisang dengan tiga jarinya hingga membentuk seperti kelopak bunga.

Ketika memperhatikan dengan seksama bagaimana Mbah Buyut membuat pleret, aku tiba-tiba pingin mencoba membuatnya juga.

“Yung…., coba aku belajar nyetak yaa…” aku minta ijin ke Mbah Yut.

“Iya…kamu harus belajar. Nanti kalau Biyung sudah tidak ada, jadi ada penerus yang bisa membuat kue pleret.”

Atas ijin Mbah Yut, aku mencoba ikut membuat kue ini. Aku mencoba mencetak di gedebog pisang dengan keterampilan tiga jari membentuk adonan menjadi bentuk menyerupai kelopak bunga. Tapi, apa yang terjadi? Hasilnya gagal. Boro-boro berbentuk seperti bunga. Hasilnya malah terputus-putus. Ini justru membuat Mbah Buyut kerepotan memperbaiki lagi kue yang kubuat.

Adonan kue pleret buatan Mbah Yut bentuknya cantik karena dibuat dengan warna-warni putih, hijau dan merah muda. Setelah selesai dibentuk, adonan dikukus lagi selama kurang lebih 15 menit. Karena tepungnya sudah matang, tidak perlu terlalu lama mengukus agar teksturnya tetap bagus.

Setelah 15 menit, kue diangkat dari pengukus dan disajikan dengan parutan kelapa. Kue pleret siap dinikmati dengan rasa manis dan gurih seperti rasa hati orang yang sedang berbahagia menanti buah hati yang tidak lama akan lahir ke dunia.

Kini, kue pleret sepertinya hanya tinggal kenangan dan hanya jadi legenda seiring berjalanya waktu. Mbah buyutku sudah meninggal. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak bisa lagi merasakan kue pleret kenangan masa kecilku.

Ingat kue pleret, ingat Mbah Buyut. Sayangnya, belum ada yang meneruskan tradisi membuat kue pleret ini. Padahal, acara tingkeban tak lengkap rasanya tanpa kue pleret. Kue tradisional yang unik dan langka.

  • Penulis adalah guru di Balikpapan.
  • Tulisan ini diambil dari buku Memoar jajan Pasar.

Facebook Comments

Comments are closed.