Unimus Gelar Pelatihan Pemeriksaan Kecacingan bagi Analis Puskesmas

mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan. Bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang, Lembaga Pendidikan Pelatihan Profesi Laboratorium Medik Utama dan Patelki, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Unimus menyelenggarakan ‘On Job Training Pemeriksaan Kecacingan Metode Kato-Katz’ yang diikuti 41 Analis Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) dari berbagai puskesmas di Kota Semarang.

Dikabarkan situs resmi unimus.ac.id edisi 4 Juli 2026, kegiatan ini menghadirkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dani Miarso SKM, sebagai pembuka acara. Tulus Ariyadi SKM MSi, dosen TLM Unimus, menjadi narasumber utama.

Pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan peserta dalam melakukan pemeriksaan kecacingan menggunakan metode Kato-Katz. Ini salah satu metode standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendeteksi sekaligus mengukur tingkat infeksi cacing usus (soil-transmitted helminths).

Tulus Ariyadi, yang juga ketua panitia, menjelaskan pelatihan ini dirancang agar tenaga laboratorium di puskesmas memiliki kemampuan lebih baik dalam melakukan pemeriksaan tepat dan terstandar. Penguasaan metode Kato-Katz menjadi bekal penting bagi ATLM. Tidak hanya mampu mengidentifikasi keberadaan telur cacing, ini juga bisa menentukan tingkat intensitas infeksi yang menjadi dasar dalam penanganan dan pengendalian penyakit.

“Harapannya, kompetensi yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan di tempat kerja sehingga kualitas pemeriksaan laboratorium meningkat dan memberikan manfaat nyata bagi pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Semarang,” ujarnya.

Dani Miarso mengapresiasi inisiatif Unimus dalam menyelenggarakan pelatihan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia kesehatan, khususnya tenaga laboratorium yang memiliki peran penting dalam sistem pelayanan kesehatan.

Persoalan kecacingan masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Infeksi cacing tidak hanya berdampak pada gangguan kesehatan secara langsung, tetapi juga berkaitan dengan berbagai persoalan lain. Antara lain gangguan tumbuh kembang anak, kekurangan gizi, hingga stunting.

Menurutnya, keberadaan ATLM menjadi bagian sangat menentukan dalam upaya pengendalian penyakit. Hasil pemeriksaan laboratorium yang akurat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam menentukan langkah penanganan. Maka, peningkatan kompetensi ATLM merupakan investasi penting dalam mendukung tercapainya target pengendalian bahkan eliminasi penyakit kecacingan.

Menurut Dani, metode Kato-Katz memiliki nilai lebih karena mampu memberikan informasi tingkat intensitas infeksi, bukan sekadar memastikan ada atau tidaknya cacing. Informasi itu sangat dibutuhkan untuk menentukan tindak lanjut penanganan yang lebih tepat sasaran sekaligus menjadi bahan evaluasi program pengendalian penyakit di lapangan.

Ia mendorong seluruh peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan ini secara optimal. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diterapkan sesuai tugas dan fungsi masing-masing serta dibagikan kepada rekan sejawat di fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga manfaatnya semakin luas. (humas/Tri)

Facebook Comments

POST A COMMENT.