mepnews.id – Elang jawa (Nisaetus bartelsi) saat ini berstatus hampir punah. Populasinya diperkirakan 511 pasang atau kurang lebih 1.000 ekor yang hidup di 74 hutan di Pulau Jawa. Oleh karena itu, konservasi satwa langka menjadi upaya para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan alam.

Donan Satria Yudha, dosen UGM
Donan Satria Yudha SSi MSc, dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, menilai kondisi elang jawa disebabkan berbagai faktor. Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya habitat.
Syarat lokasi habitat elang jawa sangat spesifik, sehingga tidak semua area pegunungan atau perbukitan memenuhinya. Elang ini hanya mau tinggal di hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi serta ada pohon menjulang tinggi (emergent tree).
“Area hutan memiliki potensi mangsa yang cukup, seperti; tikus, tupai, bajing, ayam hutan dan sebagainya, dan area hutan berada di pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan lahan curam,” sebut pemerhati hewan liar itu lewat situs resmi ugm.ac.id.
Menurut Donan, habitat semacam itu kini banyak diserobot manusia untuk beragam kepentingan. Oleh karena itu, ia mengimbau wajib berbagi lahan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan.
“Semua makhluk hidup termasuk elang jawa adalah ciptaan Tuhan. Mereka berhak tinggal di bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan,” jelasnya.
Ancaman kepunahan elang jawa akan berdampak pada berubahnya struktur komunitas dan kesehatan ekosistem. Sebagai contoh, elang jawa memangsa bajing dan jelarang hitam. Bajing dan jelarang memakan buah-buahan dan biji-bijianan di dalam hutan.
“Jika elang punah maka populasi bajing dan jelarang meledak karena tidak dikontrol oleh pemangsanya. Ketika populasi bajing dan jelarang terlalu banyak, tumbuhan berbuah dan berbiji di hutan akan cepat habis sebelum regenerasi muncul,” katanya.
Kondisi ini akan mengganggu regenerasi tumbuhan hutan karena over populasi bajing. Uver populasi bajing dan jelarang dapat menyebabkan kompetisi dengan hewan pemakan buah dan biji lain seperti burung. Semakin banyaknya bajing dan jelarang dapat menyebabkan burung menghilang dari hutan tersebut.
“Daya dukung tumbuhan hutan terbatas. Jadi, populasi hewan yang didukung tumbuhan harus terkontrol. Itulah contoh nyata keanekaragaman dan keseimbangan ekosistem yang terganggu,” terangnya.
“Ketika ada elang jawa, ekosistem terjaga dan sehat. Populasi hewan lain seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, ular akan terjaga atau terkontrol. Maka, ketika kita menyelamatkan elang jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di area konservasi juga otomatis terlindungi,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan menurunnya populasi elang jawa, Donna menilai perlu adanya area konservasi habitat, yaitu pada area bersarang, wilayah jelajah dan area berburu elang, yang harus dilindungi pemerintah.
Upaya konservasi lain dengan cara memperluas area konservasi yang sudah ada, atau membuat kawasan perlindungan baru di sekitar kawasan perlindungan. Bentuk konservasi habitat bisa berupa Taman Nasional atau Cagar Alam. Pemangku kepentingan bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak yaitu antara pemerintah dengan akademisi dan peneliti, NGO, swasta dan masyarakat.
Donna menegaskan peran masyarakat sangat penting dalam konservasi elang jawa, karena masyarakat berada di garda terdepan konservasi. “Penerapan larangan berburu dengan hukuman yang berat dan jelas perlu sosialisasi disamping melakukan rehabilitasi dan pelepasliaran elang jawa,” pungkasnya. (Fatihah)


