Dosen ITB Sosialisasi Mitigasi Gempa di Pulau Madu dan Karumpa

mepnews.id – Gabriella Alodia ST MSc PhD, dosen Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB), melaksanakan pengabdian masyarakat di Pulau Madu dan Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini bagian dari program DPMK ITB melalui skema 3T, untuk mendukung edukasi kebencanaan di wilayah tertinggal.

Pulau Madu dan Pulau Karumpa dipilih karena lokasinya sangat dekat dengan sumber gempa M7,3 pada 2021. Meski empat tahun berlalu, jejak ketakutan dan keterbatasan akses bantuan masih terasa di dua pulau kecil tersebut. Tim ITB berupaya mendorong peningkatan literasi kebencanaan dan menyediakan dasar pemetaan untuk rencana mitigasi ke depan.

“Masyarakat masih menyimpan ingatan kuat tentang guncangan besar itu, sehingga kebutuhan akan edukasi dan kesiapsiagaan menjadi sangat mendesak,” ujar Gabriella Alodia lewat situs resmi itb.ac.id.

Dalam kegiatan lapangan tiga hari pada september 2025, tim ITB melakukan edukasi gempa bumi kepada siswa SD, SMP, serta kelompok ibu-ibu. Pendekatan dilakukan melalui aktivitas interaktif seperti mewarnai, permainan sederhana, hingga diskusi santai yang membantu membangun kedekatan dan mengurangi kecemasan masyarakat.

Di sisi teknis, tim juga melakukan pemotretan udara menggunakan drone untuk menghasilkan peta dasar Pulau Madu dan Pulau Karumpa. Peta ini menjadi landasan awal dalam penentuan jalur evakuasi dan area aman, sekaligus mendukung penyusunan program ketangguhan bencana di masa mendatang. “Pulau-pulau kecil ini berada paling dekat dengan sumber gempa 2021. Pemetaan diperlukan agar perencanaan evakuasi lebih jelas dan dapat dipahami masyarakat,” ujarnya.

Akses menuju kedua pulau tidak mudah karena hanya dapat ditempuh dengan kapal kayu. Koordinasi lintas lembaga juga membutuhkan penyesuaian, mengingat tim terdiri dari berbagai unsur: ITB, komunitas lokal Rumah Baca Saku, Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, serta kolaborator dari Universitas Brawijaya. Meski demikian, kegiatan berjalan lancar berkat dukungan masyarakat dan pendekatan budaya yang difasilitasi pendamping lokal.

Perbedaan karakter sosial antara Pulau Madu dan Pulau Karumpa memberikan wawasan penting bagi tim mengenai pola komunikasi yang lebih efektif. “Setiap pulau punya dinamika dan cara berinteraksi berbeda, jadi kami harus belajar mengikuti alurnya,” ungkapnya.

Ke depan, tim berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi program berkelanjutan yang semakin bermanfaat bagi masyarakat. Rencana lanjutan mencakup simulasi gempa yang aman bagi anak, peningkatan pemahaman risiko, serta pemanfaatan hasil pemetaan untuk perencanaan desa.

Facebook Comments

Comments are closed.