KardiaQ, untuk Deteksi Kesehatan Jantung

mepnews.id – Kementerian Kesehatan RI menyatakan, setiap 60 detik seseorang meninggal karena penyakit jantung. Kurangnya deteksi dini masih menjadi perkara serius yang mengakibatkan keterlambatan diagnosis. Maka, solusi baru pun dimunculkan dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Frans Rizal Agustiyanto MSi menghadirkan aplikasi KardiaQ pemantau kesehatan jantung.

Penyakit jantung layaknya pembunuh diam-diam karena penderita absen deteksi dini. Faktor penyebabnya antara lain mahalnya biaya pemeriksaan, sulitnya mencari lokasi pemeriksaan, terbatasnya akses ke dokter spesialis jantung, serta lamanya waktu pemeriksaan. “Melalui aplikasi KardiaQ, masyarakat dapat memantau kesehatan jantung dalam waktu singkat di rumah masing-masing,” ujar mahasiswa program doktor Departemen Teknik Fisika ITS ini.

Aplikasi yang tersedia pada ponsel berbasis Android dan iOS ini mudah dioperasikan. Dengan berada di tempat stabil, ponsel yang terpasang aplikasi KardiaQ diletakkan horisontal tepat di daerah dada sebelah kiri. Kemudian, tombol berbentuk hati di aplikasi ditekan, dan pengguna menahan nafas 15 detik hingga mendengar bunyi dering. “Selama pembacaan detak jantung, pengguna tidak dianjurkan bergerak agar hasil pembacaan lebih akurat,” saran Frans.

Frans Rizal Agustiyanto MSi membantu salah satu pengunjung TENNOVEX 2022 memonitoring kesehatan jantung dengan KardiaQ.

Hasil pembacaan KardiaQ berupa seismocardiography (SCG) dan phonocardiography (PCG). Sinyal SCG dan PCG merupakan kondisi komponen jantung dan keluarannya berupa detak jantung dalam satuan beat per minute (bpm). Hasil ini diukur dari getaran-getaran harmonik yang terdeteksi sensor akselerometer pada ponsel. Sinyal getarnya diproses menjadi sinyal SCG dan FCG. “Kondisi jantung normal berada di rentang 60 – 120 bpm,” terang alumnus S1 Fisika dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

PCG adalah rekaman suara yang dihasilkan jantung selama siklus detak jantung. Hasil rekaman itu dari suara detakan jantung dan suara-suara tambahan yang dihasilkan aliran darah melalui struktur jantung. Dari rekaman tersebut, dokter biasanya menganalisis pola bunyi jantung dan mendeteksi masalahnya.

Bacaan grafik sinyal SCG digunakan untuk mendiagnosis masalah jantung, seperti gangguan irama atau kelemahan kontraksi.

Penggunaan sensor akselerometer pada pengukuran PCG dan SCG (sumber: Rai dkk., 2021)

Setelah meneliti lebih lanjut terkait SCG dan PCG, Frans mendapatkan validasi bahwa alat ukur fonokardiografi dan seismokardiometer memanfaatkan sensor akselerometer untuk membaca kondisi jantung manusia. Akselerometer ialah sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan kecepatan suatu objek dalam tiga dimensi berbeda. Akselerometer nantinya menghasilkan data tentang gerakan atau getaran yang dialami objek tersebut.

Pada fonokardiograf, akselerometer digunakan untuk membantu mengisolasi dan merekam suara jantung dengan lebih jelas. Akselerometer pada seismokardiometer untuk mendeteksi getaran yang dihasilkan gerakan jantung.

Dilansir dari situs Alodokter, detak jantung memang mampu menciptakan sensasi getaran di dada kiri terutama saat berbaring. “Lebih disarankan pengguna berada dalam posisi terlentang untuk meminimalisir getaran akibat pergerakan tubuh,” papar dosen Departemen Tadris Fisika Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar itu.

Dikutip dari jurnal berjudul Aplikasi Sensor Accelerometer pada Handphone Android sebagai Pencatat Getaran Gempa Bumi secara Online, sebagian besar perangkat ponsel dilengkapi sensor akselerometer yang dapat mengukur gerak, orientasi, dan berbagai kondisi lingkungan. Peluang perkembangan teknologi inilah dimanfaatkan Frans untuk menjadikan ponsel sebagai alat utama dari produk penelitiannya.

Jurnal ilmiah yang ditulis Adinarayana pada 2014 menyatakan sinyal suara jantung merupakan gelombang suara yang lemah dan umumnya berada pada kisaran 10-250 Hertz. Maka, sensor pada telepon genggam pun sudah mampu menangkap sinyalnya. “Orang yang ingin memeriksakan kondisi kesehatan dapat bermodalkan ponsel dalam mendeteksi ketidaknormalan irama jantungnya,” jelasnya.

Selain mendeteksi detak jantung pengguna, KardiaQ dilengkapi fitur lain yang memudahkan pengguna, seperti riwayat pengecekan heart rate untuk mempermudah monitor kesehatan jantung dari waktu ke waktu. KardiaQ juga memfasilitasi pengguna berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung melalui fitur chat. “Pengguna dapat melihat sistolik dan diastolik jantung yang berguna untuk konsultasi lebih lanjut ke dokter spesialis,” ungkap lelaki kelahiran 1979 ini.

Frans berharap aplikasi KardiaQ yang diteliti dalam bimbingan dosen Agus Muhamad Hatta ST MSi PhD ini makin menyadarkan masyarakat akan kesehatan jantung. “Harapannya, KardiaQ dapat digunakan secara luas dan dapat berkontribusi menekan angka kematian akibat penyakit jantung,” tuntasnya. (Frecia Elrivia Mardianto)

Facebook Comments

Comments are closed.