mepnews.id – Perang intensitas tinggi pecah antara Iran lawan Amerika Serikat dan Israel. Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan udara bersama yang disebut Operation Epic Fury atau Lion’s Roar. Dalam gelombang pertama serangan, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Serangan ini memicu perang terbuka. Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone dengan sasaran Israel dan semua pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Tak pelak, ledakan terjadi di Irak, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Iran menutup Selat Hormuz gerbang minyak dunia.
Konflik terus meningkat karena Israel dan Amerika Serikat juga melancarkan serangan di sejumlah wilayah di Iran. Saat kota-kota di Israel babak belur, Presiden Donald Trump melanjutkan serangan dengan pengiriman pasukan darat. Namun, Iran tidak akan berhenti berperang hingga perimbangan kekuatan di Timur Tengah terkoreksi.

Muttaqien PhD, dosen Unair
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair), M. Muttaqien SIP MA PhD, menjelaskan ada banyak sekali asas yang dapat dibedah dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel ini.
Menurutnya, konflik ini berbicara tentang bagaimana kekuatan dan keadilan saling berlawanan. Power vs Justice.
“Dalam perspektif keadilan, Piagam PBB Pasal 2 Ayat 4 melarang negara menggunakan kekuatan militer terhadap negara lain. Jika ada pihak melanggar, seharusnya pihak tersebut menerima sanksi. Misalnya, Israel yang melakukan genosida terhadap Palestina semestinya mendapat hukuman. Namun pada kenyataannya, Israel tidak menerima hukuman karena mendapat dukungan dari negara kuat yang memiliki power yaitu Amerika Serikat,” ia menjelaskan.
Ia menambahkan, prinsip kedaulatan negara memberi Iran hak untuk mengatur urusan dalam negerinya sendiri, termasuk pengembangan teknologi. Meski di bawah tekanan sanksi ekonomi, Iran terus mengembangkan teknologi nuklir.
“Ada Non-Proliferation Treaty (NPT). Negara yang tergabung NPT wajib melaporkan segala kegiatan tentang pengembangan teknologi nuklir. Iran merupakan salah satu anggotanya, dan menegaskan nuklir yang dikembangkan untuk tujuan damai. Bandingkan dengan Israel yang tidak masuk NPT dan memiliki senjata nuklir, namun tidak mendapatkan tekanan internasional,” imbuhnya.


