mepnews.id – Pelajar SMP pada usia 13 – 15 tahun berada dalam kondisi psikologis paling labil. Psikologi perkembangan mereka meningkat pesat pada kelabilannya. Demikian disampaikan dosen Pendidikan Agama Islam STAIMAS Wonogiri, Dr Dewi Agustini SSos MM.

Dr Dewi Agustini
Dewi menuturkan, banyak macam kenakalan anak usia SMP. Antara lain pacaran, merokok, dan berkelahi. Yang lebih parah, ada yang sampai berhubungan intim dan bisa berdampak pada bunuh diri.
“Faktor yang mendorong remaja bunuh diri itu bisa karena dibuli. Bisa juga karena tidak punya teman dekat. Saat ada masalah, tidak bisa sharing. Dipikir sendiri. Padahal, pikirannya belum dewasa. Maka, ia jadi cemas, depresi akhirnya ambil keputusan seperti itu,” kata Dewi menyoroti realita di masyarakat adanya anak usia SMP yang bunuh diri.
Menurut Dewi, pelajar SMP yang sampai hamil itu karena tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Aborsi juga rawan bahaya. Jika dilanjutkan menikah belum dewasa, juga tidak baik. “Si remana bimbang dan belum siap menghadapi masalah psikologis, masalah keluarga, masalah ekonomi. Itulah yang bisa membuat seseorang depresi,” imbuhnya.
Dewi menambahkan, kehamilan pada usia muda, khususnya yang tidak diinginkan, dapat mempengaruhi kesehatan mental. Umumnya, si remaja memang secara mental belum siap. Stigma dan tekanan sosial terkait kehamilan di luar nikah dapat memperparah kondisi mental remaja tersebut.
“Kebanyakan masyarakat Indonesia sangat memegang agama. Maka, kalau punya anak sebelum menikah, berarti zina. Sedangkan zina itu dosa. Jadi, si remaja ini mendapat stigma tidak baik, dikucilkan, dikatakan anak nakal dan sebagainya. Hal itu, menyebabkan mentalnya jadi depresi. Remaja yang dalam kondisi cemas, depresi, masih labil, jika mengambil keputusan, kalau tidak dirangkul keluarganya, bisa-bisa bunuh diri,” jelasnya.
Menurut Dewi, paling banyak yang melakukan bunuh diri itu usia 13 -15 tahun. Kalau SMA, kasusnya sudah berkurang. Semakin bertambah umur, semakin dewasa, semakin berkurang tingkat bunuh dirinya.
Untuk menjaga kesehatan mental anak usia SMP, Dewi memberi tips berikut;
1. Dekat dengan orangtua dan ajak sharing
Dewi mengatakan, remaja harus dekat orang tua untuk kesahatan mental. Perbanyak sharing dengan orang tua di rumah. Di sekolah, guru bisa terbuka dengan remaja. “Jadi, remaja perlu tempat bertanya. Bertanya pada orang yang lebih dewasa yang bijaksana. Lebih bagus lagi pada yang paham ilmunya. Remaja itu harus difasilitasi. Kalau tidak, remaja cenderung menutup diri,” tambahnya.
2. Tingkatkan peran psikolog atau guru BK
Peran psikolog atau profesi kesehatan mental sangat penting. Sebaiknya mereka punya program sosialisasi ke SMP-SMP terkait pendidikan seksual, belajar cara menyelesaikan masalah, sosialisasi tentang batasan pergaulan.
“Anak SMP itu baru kenal dunia nyata. Mereka masih mengalami kebingungan. Kalau orang tua tidak bisa diajak ngomong, dia cuma ngomong sama sesama umur. Tambah kacau. Jadi, peran psikolog, bimbingan konseling, harus diaktifkan. Harus punya program untuk anak remaja,” tegasnya.
3. Batasi pergaulan
Dewi mengemukakan, anak-anak perlu dibatasi pergaulannya demi kebaikan. “Untuk mencegah kenakalan remaja, mereka itu harus dibatasi pergaulannya. Tidak boleh pergaulan bebas. Pergaulan bebas akan berujung kepada kehamilan,” ucapnya.
4. Belajar Agama dan Produktif
Dewi mendorong anak-anak belajar agama. Pondasi agama yang kuat dapat berkontribusi kepada pencegahan kenakalan remaja. “Remaja yang bunuh diri bisa jadi karena bekal agamanya sangat minim. Belajarlah agama atau mengaji. Ikuti kegiatan vokasi untuk menyalurkan bakat. Jangan hanya di rumah main HP saja. Masa muda itu harus produktif, berani nyoba apa saja,” terang Dewi.
5. Olahraga
Olahraga tak harus yang berat-berat. Dewi menyarankan remaja memiliki waktu untuk berolahraga yang juga penting untuk kesehatan mental.
“Orang yang jalan kaki setengah jam dalam sehari itu badannya sehat. Tidak hanya ke badan, pengaruh ke kesehatan mentalnya juga jauh lebih besar. Otak jadi lebih fresh, jiwa jadi lebih ikhlas, lebih semangat, walaupun kelihatannya hanya karena jalan-jalan. Hal tersebut sangat mengurangi cemas dan depresi,” tambahnya. (Ernawati)


