Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Teman saya bilang seperti ini; “Ada dua kepuasan saat tukang paketan datang. Pertama, puas saat mendapatkan barang yang kita inginkan atau butuhkan. Kedua, puas bisa mendapatkan bubble wrap lalu memencet-mencetnya sampai habis.”
Saya langsung tertawa keras saat mendengar pernyataannya itu. Lalu saya menimpali. “Hahahaha, sepertinya kau belum minum obat hari ini.”
………….
Pembaca yang budiman, belum ada istilah baku dalam bahasa Indonesia untuk bubble wrap. Untuk sekadar gambaran, bubble wrap adalah lembaran plastik tipis yang mengandung banyak bulatan gelembung udara. Gelembung-gelembung udara ini memberikan bantalan atau perlindungan pada benda-benda tertentu terhadap benturan, guncangan, atau tekanan yang bisa merusak. Karena itu, bubble wrap banyak digunakan penjual untuk melindungi barang-barang seperti kaca, keramik, barang elektronik, dan barang-barang rapuh lainnya dari kerusakan selama pengiriman ke alamat pembeli.
Selain untuk perlindungan barang, ada juga orang yang menggunakan bubble wrap sebagai sarana mengurangi stres. Caranya, ia memencet gelembung itu sampai pecah dan berbunyi seperti letupan kecil. Pop! Katanya, suara semacam ini bisa sejenak memberikan perasaan relaksasi dan membebaskan pikirannya dari kekhawatiran. Proses repetitif saat memecahkan semua gelembung dalam selembar bubble wrap juga mekain menambah sensasi relaksasi.
Jika tidak stres-stres amat, memecah gelembung buble wrab juga bisa memberi kepuasan bagi sensasi fisik. Saat jari-jari merasakan gelembung yang pecah, kadang muncul perasaan sangat memuaskan secara fisik. Pecahnya gelembung di ujung jari mengirim sinyal ke syaraf dan diproses di otak sebagai sensasi menyenangkan.
Ketika seseorang sedang bengong, bosan, atau tidak punya banyak hal untuk dilakukan, mendapatkan lembaran bubble wrap bisa memberi keasyikan tersendiri. Memecahkan gelembung-gelembung plastik itu satu persatu bisa menjadi kegiatan yang menghibur dan menghilangkan kebosanan.
Kadang-kadang, memecahkan gelembung-gelembung plastik bubble wrap bisa menjadi cara bagus untuk mengalihkan perhatian dari kegiatan atau pikiran yang membuat stres atau cemas. Bagi beberapa orang, memecahkan gelembung-gelembung plastik juga bisa memicu kenangan masa kecil atau pengalaman menyenangkan lain.
Luar biasa, kan? Maka selalulah bersyukur karena hal-hal sederhana semacam itu saja sudah dapat mengurangi stres.
Tapi, apa yang membuat proses memecah bubble wrap bisa mengurangi stress?
Pertama, proses memecahkan gelembung-gelembung plastik dalam buble wrap adalah tindakan yang sederhana dan repetitif. Ketika seseorang melakukan tindakan semacam ini berulang kali, itu bisa membantu meredakan pikiran yang gelisah atau terbebani dengan stres. Fokus pada tindakan yang sederhana dan repetitif dapat membantu mengalihkan pikiran dari kekhawatiran atau ketegangan yang mungkin dirasakan.
Kedua, haptic effect (efek sentuhan). Sensasi dari merasakan pecahnya gelembung-gelembung plastik di bawah jari-jari bisa memberikan kepuasan fisik yang mengurangi ketegangan. Letupan yang lembut dan renyah ini bisa memberikan sensasi menyenangkan yang bisa merilekskan otot-otot tegang.
Bunyi letupan kecil yang dihasilkan saat pecahnya gelembung itu juga dapat memberikan efek yang mengurangi stres. Bunyi semacam ini bisa memberikan rangsangan auditori yang menyenangkan dan menenangkan. Ini bisa membantu mengalihkan perhatian dan meredakan ketegangan.
Ketika seseorang terlibat dalam aktivitas memecahkan gelembung-gelembung plastik, ia cenderung fokus pada tindakan tersebut sehingga meninggalkan kekhawatiran masa lalu atau kecemasan akan masa depan. Ini bisa membantu menciptakan perasaan kedamaian dan ketenangan dalam saat ini.
Sederhananya, memecahkan gelembung-gelembung plastik bisa dianggap sebagai bentuk hiburan yang menyenangkan. Ketika seseorang menikmati apa yang mereka lakukan, itu bisa memberikan perasaan positif dan mengurangi stres secara alami.
Jujur saja, saya sepertinya belum menemukan teori psikologi yang secara khusus membahas pemecahan gelembung bubble wrap ini. Tapi, jika Anda tetap meminta landasan teoritiknya, ada beberapa yang dapat menjelaskan.
Konsep mindfulness menekankan pentingnya fokus pada pengalaman saat ini dengan kesadaran penuh dan tanpa penilaian. Nah, memecahkan bubble wrap dapat menjadi bentuk latihan mindfulness. Kita bisa fokus sepenuhnya pada tindakan sederhana tersebut tanpa memikirkan hal-hal lain. Ini membantu mengurangi stres.
Teori perilaku, melalui konsep penguatan positif, sepertinya dapat menjelaskan pemecahkan bubble wrap. Ketika seseorang merasakan kepuasan atau kelegaan setelah memecahkan gelembung, itu bisa menjadi penguatan positif yang membuat ia cenderung mengulangi perilaku tersebut untuk merasakan perasaan yang sama.
Teori stimulasi menyatakan, individu mencari tingkat stimulasi optimal untuk mencapai kesejahteraan psikologis. Aktivitas memecahkan bubble wrap dapat memberikan tingkat stimulasi yang tepat bagi orang-orang tertentu. Ini membantu mereka merasa lebih tenang dan rileks.
Teori koping mengacu pada strategi yang digunakan individu untuk mengatasi stres dan tantangan. Memecahkan bubble wrap bisa dianggap sebagai salah satu bentuk koping yang bersifat distraktif. Orang bisa menggunakan aktivitas sederhana dan menyenangkan untuk mengalihkan perhatian dari ketegangan atau kekhawatiran.
Begitulah. Saya mencoba menjelaskan berdasarkan sekadar pengetahuan saya.
Selebihnya, wallahu a’lam bishawab.


