Dampak Psikologis Kidsfluencer; Awas, Jangan Sampai Eksploitasi

mepnews.id – Sekarang, makin marak penampilan kidsfluencer di jagad media sosial. Anak-anak pun menjadi influencer di jagad maya. Ada sejumlah konten yang melibatkan anak-anak usia di bawah lima tahun, seperti Abe ‘Cekut’, Cipung, Shabira Alula atau Lala. Ada sejumlah pihak yang menikmatinya dan bahkan menonton setiap konten. Ada punya sejumlah pihak yang mengkhawatirkan dampak psikologisnya pada si anak.

Dr Nur Ainy Fardana N. MSi Psikolog

Dr Nur Ainy Fardana N. MSi Psikolog, pakar psikologi anak dari Universitas Airlangga, mengingatkan aspek eksploitasi anak dalam kidsfluencer.

“Eksploitasi itu berarti menghilangkan hak-hak yang seharusnya dimiliki anak. Apakah kidsfluencer itu termasuk eksploitasi atau tidak, perlu dipertimbangkan dulu bagaimana posisi anak. Apakah anak melakukannya dengan perasaan tertekan dan tidak nyaman? Atau, apakah melakukannya dengan senang hati?” ungkapnya.

Gejalan kidsfluencer kadang terjadi secara kebetulan. Beberapa orang tua mulanya hanya merekam momen lucu buah hatinya sebagai kenang-kenangan. Mereka lalu mengontenkan keseharian anak saat anak bermain, makan, dan aktivitas lainnya, yang justru mengaburkan perlindungan privasi anak. Terlebih, anak jadi terlalu sering terekspos kamera.

Dr Nur Ainy berpendapat, eksistensi anak-anak di dunia hiburan tidak jadi masalah jika pengontenan itu bertujuan mengembangkan minat bakat anak dan menumbuhkan kreativitas anak sesuai dunianya. Meski demikian, kondisi psikologis anak harus tetap menjadi perhatian utama.

“Apabila anak terlibat dalam dunia entertainment, ia harus tetap diperlakukan dengan baik tanpa harus menghambat tumbuh kembang fisik, mental, sosial, dan intelektualnya,” ujarnya.

Meski demikian, orang tua harus mengontrol intensitas anak berhadapan dengan kamera. Karena, seberapa sering anak berhadapan dengan kamera bisa berisiko menghambat tumbuh dan kembang anak.

“Apabila intensitasnya frekuensi sangat sering, serta adanya tuntutan berperilaku tertentu sesuai keinginan orang dewasa, hal tersebut beresiko menghambat anak untuk optimalisasi ekspresi dan eksplorasi,” jelasnya.

Juga, dijadikan bahan konten oleh orang dewasa secara berlebihan akan mengakibatkan tekanan mental bagi anak. Maka, orang tua atau orang dewasa wajib tetap memperhatikan hak dan kebutuhan tumbuh kembang anak secara optimal.

Dr Nur Ainy menyampaikan, setiap anak memiliki hak yang semestinya dilindungi dan dipenuhi.  Namun, ada tiga hak anak yang rentan terabaikan; hak pendidikan, hak untuk bermain, dan hak untuk mendapatkan perlindungan.

“Anak-anak harus tetap mendapatkan layanan dan kesempatan pendidikan yang baik, meski dia terjun dalam dunia hiburan. Anak juga membutuhkan aktivitas bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anak yang terlibat dalam kegiatan di dunia hiburan tetap harus mendapat perlindungan fisik, sosial, dan psikologis,” tambah Dr Nur Ainy.

Peran orang tua penting dalam perlindungan atas hak-hak anak.  “Orang tua yang memegang kendali. Anak harus diajarkan berani mengekspresikan perasaan atau pikiran jika aktivitas atau tuntutan kamera di luar kapasitasnya. Juga, perlu kontrol sosial dari masyarakat agar anak terlindungi dari eksploitasi,” ungkapnya Dr Nur Ainy. (Syifa Rahmadina)

Facebook Comments

POST A COMMENT.