Medsos dan Perilaku Self Harming Usia SMP

mepnews.id – Maraknya kasus self-harming di kalangan remaja patut mendapat perhatian. Di Magetan, ditemukan 76 murid SMP menyakiti diri sendiri dengan benda tajam. Jumlah yang tidak terlacak bisa lebih banyak lagi dan bisa terjadi di tempat-tempat lain.

Atika

Atika Dian Ariana MSc MPsi, seorang dosen psikologi Universitas Airlangga yang spesifik pemerhati anak, menyoroti pengaruh paparan media sosial terhadap maraknya perilaku self harming.

“Saat SMP, anak-anak masih dalam fase pubertas. Perilaku belajar, amati dan meniru, menjadi ciri khas. Saat terpapar terus-menerus tayangan sosial media, mereka mungkin melihat self-harm sebagai cara efektif untuk mendapatkan perhatian atau mengekspresikan diri. Motifnya bervariasi. Ada yang karena cari perhatian, ada pula yang benar-benar self-harm.”

Anak SMP yang terpapar tayangan media sosial berlebihan cenderung menganggap self-harm sebagai metode efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Itu bisa menjadi bentuk pengalihan dari masalah psikologis yang sulit diatasi.

“Salah satu tantangan dalam menangani kasus self-harm di kalangan anak SMP adalah membedakan antara tindakan nyata dan perilaku meniru. Maka, penting untuk memberikan perhatian pada perubahan perilaku dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan,” ujarnya.

Dampak self-harm tidak hanya berupa fisik, yakni luka dan rasa sakit sementara. Dampak lainnya juga mencakup sisi psikologis yang kompleks. Mungkin, pelaku bisa merasakan lega setelah self-harming. Namun, setelah itu bisa mengalami perasaan bersalah, berdosa, hingga malu, yang dapat memicu isolasi sosial, konflik keluarga, dan meningkatkan kesepian.

Facebook Comments

Comments are closed.