Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Setiap orang tua, setiap pendidik, tentu ingin anak-anak mereka berkembang jadi manusia yang tangguh dan siap menghadapi kehidupan nyata saat dewasa. Tentu ada banyak resep untuk membimbing anak-anak menjadi manusia tangguh di masa datang. Nih, saya beri satu cara berdasarkan studi ilmiah.
Studi ini dilakukan Angus Fletcher, profesor Bahasa Inggris di The Ohio State University dan anggota Project Narrative di kampus itu. “Ada kekhawatiran mengenai ketahanan anak-anak Amerika setelah COVID-19. Ada kekhawatiran banyak anak mengalami kesulitan di sekolah dan di kehidupan. Maka, pelatihan kreativitas dapat membantu anak-anak membuat rencana kedua ketika kelak segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan,” begitu kesimpulannya.
Fletcher melakukan penelitian kecil dengan melatih siswa kelas tiga, empat dan lima untuk menggunakan teknik sastra untuk meningkatkan kreativitas dalam menghadapi kesulitan. Teknik-teknik ini antara lain pergeseran perspektif, pemikiran kontra-faktual (bagaimana jika…) dan pemikiran kausal (mengapa…). Tujuannya membantu anak menemukan cara-cara baru, kreatif dan praktis untuk memecahkan masalah. Program yang digunakan membantu anak-anak dalam penelitian ini serupa dengan program yang Fletcher dan rekan-rekannya gunakan di Angkatan Darat Amerika Serikat. Karena sukses besar, Fletcher mendapat Medali Penghargaan Pelayanan Publik dari militer Amerika Serikat.
Penelitian terpisah dilakukan dua kali, melibatkan siswa yang berkemah musim panas di pinggiran kota Columbus. Dalam satu penelitian, 32 siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk pelatihan pergeseran perspektif. Dalam kondisi kontrol, anak diminta mengidentifikasi kualitas khusus pada diri masing-masong. Mereka diberitahu bahwa itu adalah kekuatan khusus yang dapat membantu mereka memecahkan masalah apa pun. Satu kelompok lain, dalam kondisi kreatif, siswa disuruh memikirkan seorang teman yang melakukan sesuatu istimewa dan menganggap dia sebagai ‘teman kreatif’ yang dapat membantu memecahkan masalah apa pun. Dalam pelatihan kreativitas ini, anak-anak diajari melihat suatu masalah melalui sudut pandang orang lain yakni sudut pandang temannya.
“Ketika Anda meminta orang untuk mengubah perspektifnya dan membayangkan dia menerima nasihat dari seorang teman, maka Anda mendapatkan solusi yang jauh lebih kreatif dan efektif terhadap suatu masalah dibandingkan jika hanya mencoba menyelesaikan masalah sendirian,” kata Fletcher.
Nah, itulah yang ditemukan oleh penelitian Fletcher dan kawan-kawan.
Pada salah satu bagian penelitian, guru pembimbing mengidentifikasi masalah yang menantang para siswa. Misalnya, tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun teman karena akan pergi ke luar kota bersama orang tua. Sementara, para siswa juga memikirkan masalah menantang dalam kehidupannya sendiri. Beberapa masalah yang mereka sebutkan antara lain “Kakak lelaki saya mengalami gangguan komunikasi”, “Ayah saya harus meninggalkan rumah dua bulan” dan “Kakak perempuan saya suka menindas saya.”
Hasil penelitian menunjukkan, tanpa pelatihan pergeseran perspektif membuat kurang dari separo siswa bisa memberikan solusi terhadap masalah-masalah umum dan hampir tidak ada yang mampu memberikan solusi terhadap masalah mereka sendiri. Namun, 94% dari siswa yang dilatih dengan metode perubahan perspektif bisa memberikan solusi untuk keduanya.
Para juri, yang juga guru terlatih, kemudian menilai kreativitas anak-anak berdasarkan seberapa mengejutkan atau uniknya solusi mereka. Dengan intervensi metode perubahan perspektif, skor kreativitas rata-rata adalah 6,44 dari 10 (kreativitas sedang). Ini sangat beda dibandingkan dengan 3,05 (kreativitas rendah) bagi anak-anak yang tidak menerima intervensi perubahan perspektif.
Satu metode kreativitas bisa membuat anak memiliki lebih banyak alternatif jawaban terhadap permasalahan mereka masing-masong. Ada banyak metode pelatihan pengembangan kreativitas yang kita bisa gunakan utnuk menggembleng anak. Semakin sering kita latih, semakin kreatif si anak, semakin percaya diri dia saat menghadapi masalah.
Tapi, jangan lupa untuk menanamkan mental spiritual juga pada anak. Kalau percaya diri berlebihan, jangan-jangan nanti jadi manusia sombong. Kalau terlalu kreatif, nanti bisa menjadi manusia yang kurang punya tanggung jawab sosial. Terus beri pelatihan dan bimbingan yang seimbang pada anak.


