Oleh: Esti D. Purwitasari.
mepnews.id – Suatu hari, saya hadir dalam acara ceramah ‘parenting‘ yang melibatkan ibu-ibu dan anak-anak. Karena temanya ‘kreativitas’, maka saya memancing minat peserta dengan cara mendongeng tentang Timun Mas. Bagian dongeng yang paling seru tentu saat Timun Mas dikejar oleh raksasa untuk dimakan.
Saat terpepet, Timun Mas melempar satu persatu senjata rahasianya. Pertama, biji timun yang langsung jadi perkebunan timun. Kedua, jarum yang tumbuh jadi pohon-pohon bambu tajam. Ketiga, garam yang mengubah daratan jadi lautan. Terakhir, terasi yang membuat lautan jadi pasir hisap. Si raksasa mati tenggelam di situ.
Terus, apa hubungannya Timun Mas dengan kreativitas?
Pembaca yang budiman, kreativitas adalah kemampuan mental untuk menghasilkan gagasan baru, solusi orisinal, dan koneksi yang tidak lazim antara berbagai konsep atau elemen. Ada proses berpikir inovatif, imajinatif, dan eksploratif, serta kemampuan melihat masalah dan situasi dari perspektif berbeda.
Wujud kreativitas dalam dongeng itu antara lain senjata rahasia yang dikeluarkan Timun Mas. Di mana gagasan barunya? Tentu saja, seumur-umur kita tidak pernah menyaksikan ada biji timun yang langsung jadi kebun atau garam jadi laut. Nah, di situ letak kebaruannya, kreativitas idenya.
Bahkan, upaya saya untuk menghubungkan antara dongeng masyarakat Jawa dengan konsep kreativitas adalah juga salah satu bentuk kreativias saya. Ya, kreativitas itu menghubungkan dua elemen menjadi sesuatu yang baru. Kata pakar teknologi Steve Jobs (alm.), “Creativity is just connecting things.”
Lebih rinci, Anthony D. Fredericks professor emeritus pendidikan di York College of Pennsylvania, menekankan kreativitas bakal sangat optimal ketika fokusnya adalah ide-ide kecil. Sedikit usaha kreatif setiap hari dapat membuat perbedaan besar.
Jadi, jangan salah paham bahwa ide kreatif selalu ide besar. Tidak harus dalam bentuk sekelas misi menerbangkan pesawat bermuatan manusia menuju planet Venus, menemukan obat yang membuat orang jadi muda terus, atau membangun jembatan di atas Samodra Pasifik.
Tapi, kreativitas sejati bisa didasarkan pada prinsip penemuan kecil-kecil saja. Menemukan sinonim untuk kata ‘muda’ saat menulis novel adalah kreativitas. Mencampur tiga warna untuk melukis matahari terbenam juga kreativitas. Beli sepatu bukan karena modis tapi karena ‘keren’ juga kreativitas. Menemukan bahwa sabuk bisa digunakan untuk menarik motor mogok juga kreativitas.
Tindakan kreativitas kecil itu sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, dibanding proyek kreatif besar. Banyak tindakan kreatif kecil yang justru membuat kita terbiasa menjadikan kreativitas sebagai bagian normal dan alami dari kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar satu peristiwa yang terjadi pada kesempatan langka.
Niat besar saja tidak ada artinya jika tidak membawa hasil. Misalnya, kita membuat resolusi menurunkan berat 10 kilo hingga akhir tahun. Tapi, kita sering menyerah karena tujuan yang dirasakan terlalu besar. Ini mematahkan kreativitas. Orang sering memiliki ambisi besar tetapi tidak mampu membuat diri mereka melakukan apa yang diperlukan untuk berubah.
Maka, melakukan hal-hal kecil atau sedikit ternyata jauh lebih besar dan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Melakukan hal-hal yang sedikit tapi setiap hari bisa memiliki dampak jauh lebih besar daripada melakukan banyak hal dalam satu hari saja.
Begitu juga, mengupayakan satu bagian kecil dari kreativitas itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Mencari hal kecil untuk kreatif setiap hari ternyata jauh lebih efektif dan praktis daripada mencoba menghasilkan ide sangat besar tapi cuma sekali.
Intinya; tekad untuk menjadikan kreativitas sebagai bagian rutin dan normal dari aktivitas kita sehari-hari ternyata bisa mempersiapkan pikiran kita untuk menghadapi saat-saat ketika kita membutuhkan ide sangat besar dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari.
Anak-anak juga perlu dibimbing dan diberi kesempatan menjadikan kreativitas sebagai bagian rutin dari perkembangan dan pendidikan sehari-hari. Katakan pada anak-anak, kreativitas itu tidak terjadi begitu saja tetapi dapat menjadi bagian normal bahkan rutuinitas dari fungsi intelektual kita.


