Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pembaca yang budiman, orang tua tentu punya kepekaan terhadap anak mereka saat memasuki masa pubertas. Masa itu ditandai dengan sejumlah perubahan fisik, psikis, dan hormonal pada anak-anak yang biasanya segera diketahui orang tua.
Tanda-tanda anak memasuki masa pubertas antara lain; mengalami pertumbuhan badan lebih pesat daripada era sebelumnya, perubahan kulit dengan munculnya jerawat atau minyak karena perubahan hormon, mulai tumbuhnya rambut di ketiak dan kemaluan, hingga perubahan emosi semacam perubahan mood dan sensitivitas yang meningkat.
Anak laki-laki mengalami perubahan suara menjadi lebih dalam dan berat karena pembesaran laring dan pita suara. Anak laki-laki mengalami pertumbuhan penis dan testis lebih cepat daripada proporsi tubuh, anak perempuan mengalami pertumbuhan payudara serta mulai mengalami menstruasi. Nah, ini tanda-tanda hormon seks mulai diproduksi dan bekerja dalam tubuh.
Perubahan semacam ini pada anak perempuan biasanya terjadi antara usia 8 hingga 13 tahun dan pada anak laki-laki 9 hingga 14 tahun. Namun, rentang usia ini belakangan semakin maju karena ditemukan beberapa kasus anak-anak perempuan yang sudah mens dalam usia lebih muda.
Selama masa pubertas, anak membutuhkan perhatian dan dukungan dari keluarga dan lingkungan untuk membantu mereka mengatasi perubahan-perubahan dan membangun rasa percaya diri secara positif. Maka, orang tua atau pengasuh perlu mengajarkan anak tentang kesehatan reproduksi dan memberikan informasi yang tepat tentang masa pubertas.
Mengapa bantuan? Karena, saat memasuki masa pubertas, kadang anak mengalami krisis. Jika mengalami krisis identitas diri, anak bingung mencari cara menentukan siapa dia sebenarnya dan bagaimana dia ingin dilihat oleh orang lain. Krisis hubungan sosial terjadi metika anak tiba-tiba kesulitan menjalin persahabatan atau justru mengalami bullying. Krisis mental terjadi saat perubahan hormon menimbulkan perasaan cemas atau depresi berlebihan. Perubahan fisik berupa pertumbuhan yang cepat, kenaikan berat badan, atau jerawat, dapat menyebabkan krisis fisik sehingga anak merasa tidak nyaman.
Maka, temani dan dampingi anak saat menjalani masa pubertas. Berikan dukungan dan perhatian, karena anak kadang merasa tak nyaman saat mengalami perubahan besar dalan dirinya. Dengarkan ketika anak ingin berbicara, libatkan diri dalam kehidupan anak, dan tunjukkan minat pada kegiatan dia. Jika anak tak tahu apa yang harus dilakukan (terutama saat mens pertama), beri petunjuk yang sederhana dan mudah dikerjakan.
Jika sedang tenang, bicarakan tentang perubahan tubuh anak. Jelaskan bahwa perubahan ini normal dan bagian dari proses tumbuh dewasa. Berikan informasi yang tepat dan jujur tentang seksualitas, kesehatan reproduksi, dan cara menjaga kesehatan tubuh. Nasihatkan juga untuk menjaga organ seks agar tidak disalah-gunakan. Ingatkan juga hukum Islam juga mulai berlaku penuh pada anak Islam yang sudah akil baligh.
Saat anak mengalami perubahan emosi dan perilaku, beri dukungan kesehatan mental. Bantu anak mengelola stresnya, berikan suasana damai saat anak sedang merasa cemas atau sedih. Jika ada gangguan dari luar, bantu lindungi anak sampai ia bisa melindungi diri sendiri.
Saat memasuki masa pubertas, sudah waktunya orang tua atau pengasuh menekankan pentingnya anak mandiri dan bertanggung jawab. Tunjukkan cara merawat diri sendiri, seperti membersihkan badan secara teratur dan menjaga kesehatan mental. Berikan anak kesempatan bertanggung jawab pada tugas-tugas rumah tangga atau tanggung jawab lainnya.
Sebagai role model, orang tua atau pengasuh harus memberi contoh yang baik pada anak. Pastikan Anda memberi contoh perilaku yang sehat, bicara dengan santun, dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Beri contoh yang baik dan benar agar anak tidak terjebak dalam hubungan seksual tidak benar dengan lawan jenis.


