Leptospirosis alias Demam Tikus Bisa Juga Disebarkan Ternak

mepnews.id – Seiring musim hujan dan banjir, kasus-kasus leptospirosis (rat fever alias demam tikus) bermunculan. Hingga Maret 2023, Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat 249 kasus leptospirosis dan 9 orang meninggal. Tahun 2022, Jawa Tengah mencatat 374 kasus leptospirosis dan 54 meninggal. Penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira Sp ini juga terjadi di berbagai penjuru dunia meski tidak sedahsyat wabah COVID.

Prof Lucia Tri Suwanti

Prof Dr Lucia Tri Suwanti drh MP, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, mengingatkan bakteri Leptospira Sp tidak hanya disebarkan tikus sebagaimana banyak diyakini masyarakat. Semua hewan yang terkontaminasi bakteri Leptospira Sp bisa menjadi agen penularan pada manusia.

“Tikus itu memang agen sejumlah penyakit. Salah satunya leptospirosis. Tapi, saya pernah menemukan kasus unik. Mahasiswa bimbingan saya meneliti leptospirosis dari peternak yang ternaknya tidak pernah dimandikan,” ujar Prof Lucia.

Dalam kasus peternak itu, penularan leptospirosis bisa terjadi karena kandang tidak dibersihkan dengan baik. Kandang kotor, ternaknya juga menjadi kotor. Ketika si peternak berkontak langsung dengan hewan ternaknya maka menyebabkan infeksi leptospirosis.

“Bakteri Leptospira Sp tidak menular lewat udara. Kalau infeksi dari luka yang terbuka, kemudian dari makanan dan minuman, itu pasti,” tambah Prof Lucia.

Bakteri Leptospira

Leptospirosis tidak menular dari manusia ke manusia lainnya. Hal itu terjadi karena manusia adalah inang terakhir. “Namun perlu diwaspadai juga mengingat pada dasarnya penularan antar hewan masih dapat terjadi,” kata ia.

Untuk pencegahan leptospirosis, Prof Lucia menegaskan kebersihan lingkungan. Terlebih saat musibah banjir. “Budayakan untuk selalu menggunakan sepatu boots, sarung tangan, dan rajin cuci tangan,” ujarnya.

Terkait tikus, Prof Lucia juga berpesan agar mengelola bangkainya dengan baik. Misalnya dengan membakar atau mengubur. “Dengan demikian, diharapkan bangkai tikus tidak dimakan binatang lain sehingga meminimalisir potensi penyakit yang bisa ditularkan.” (*)

Facebook Comments

Comments are closed.