Pilih Menyendiri; Baik apa Tidak?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Eh, lihat tuh Si Fulin. Sudah jomlo, suka menyendiri, nggak mau gaul sama orang. Apa nggak makin sakit jiwanya, tuh?” begitu ghibah tentang seorang wanita usia yang sudah mulai masuk usia dewasa.

Pembaca yang budiman, kasak-kusuk tentang orang yang hidup sendiri atau hidup menyendiri sering kita saksikan. Meski demikian, tidak baik untuk menyebar ghibah. Apa lagi jika tidak punya data dan fakta yang sebenarnya.

Umumnya, orang dewasa menganggap interaksi sosial menyenangkan bisa membuat mereka menikmati hari-hari dalam hidup. Namun, ada kalanya mereka justru mencari suasana kesendirian sebagai cara untuk menghindari stres atau keadaan sosial yang tidak menyenangkan.

Banyak penelitian mengisyaratkan, menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian punya korelasi dengan efek negatif antara lain rasa kesepian dan tekanan emosional. Namun, ada juga penelitian yang menunjukkan waktu sendirian terkait dengan hasil positif, antara lain berkurangnya kemarahan, kecemasan dan kesedihan.

Salah satu penelitian paling mutakhir di Universitas Buffalo di Amerika Serikat secara unik mengevaluasi bagaimana menghabiskan waktu sendirian berkaitan dengan perasaan orang tentang interaksi dengan orang lain pada hari yang sama. Penelitian lebih khusus ditujukan ini tergantung pada alasan seseorang mencari kesendirian.

Hasilnya? Orang yang mencari kesendirian karena takut maka interaksi sosialnya mengalami peningkatan kecemasan ketika berinteraksi dengan orang lain pada hari-hari ketika mereka mendapatkan lebih banyak waktu sendirian dari biasanya. Orang-orang seperti itu tidak menggunakan waktu sendiri mereka dengan cara restoratif.

Sebaliknya, ada orang yang secara positif menghabiskan waktu sendirian untuk perenungan. Maka, orang semacam ini bisa mendapat manfaat dari menggunakan waktu ekstra sendiri. Ini bisa membantu bagaimana mengelola perasaan negatif.

Penelitian terbaru ini diterbitkan dalam edisi khusus tentang kesendirian dalam International Journal of Behavioral Development. Studi ini melibatkan beragam sampel 411 orang dewasa usia 18-26 tahun. Peserta penelitian menyelesaikan laporan harian tentang jumlah waktu yang mereka habiskan sendirian dan bagaimana perasaan mereka setelah itu ketika interaksi sosial terjadi.

Studi ini melibatkan Hope White mahasiswa pascasarjana Department of Psychology, University at Buffalo, Julie Bowker, associate professor psikologi, College of Arts and Sciences, University at Buffalo, Ryan Adams PhD, asisten profesor di Departemen Pediatri di Rumah Sakit Anak Cincinnati, dan Robert Coplan PhD Profesor Psikologi di Carleton University Kanada.

Facebook Comments

Comments are closed.