mepnews.id – Tim peneliti dari lima perguruan tinggi membuat inovasi pengembangan alat Patient Portable Monitoring System (PPMS) yang diberi nama Patient Monitoring System with Simplicity Integration (PASTI). Alat ini untuk membantu memonitor kondisi pasien di rumah sakit.
Pengembangan alat ini didanai Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) SIGHT 2022. Penelitian melibatkan tim dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Adi Nuswantoro (Udinus), Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Katolik Atmajaya. Sementara ini, PASTI didedikasikan untuk PPMS yang membantu kebutuhan operasional di Rumah Sakit UMM.

Serah terima PASTI di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.
Dr Wiwik Anggraeni SSi MKom, salah satu tim pengembang PASTI dari ITS, menjelaskan perbedaan alat PPMS yang dikembangkan ini terletak pada ukurannya. PPMS yang dikembangkan lima perguruan tinggi ini dirancang dengan ukuran lebih praktis.
Menurut Wiwik, rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan sudah sepatutnya memberi layanan maksimal kepada pasien. Pemantauan data rekam medis kondisi pasien secara kontinyu dan tidak terputus merupakan hal yang sangat penting. “Kegagalan pemantauan kondisi pasien dalam beberapa menit saja dapat berakibat fatal,” papar dosen Departemen Sistem Informasi ITS ini.
Pasalnya, alat PPMS yang ada sebelumnya sebatas digunakan dalam mobil ambulans hingga emergency room (ER) rumah sakit. Alat tersebut berhenti bekerja saat pasien tiba di ER dan tidak bisa dipakai terus hingga ke ruang perawatan. Hal ini menyebabkan kondisi histori pasien terpotong. “Sementara, berdasarkan standar pelayanan pasien, seharusnya histori kondisi pasien terus terpantau,” jelas Wiwik.
Ia mengungkapkan, histori pasien yang terpotong bisa menyebabkan diperlukannya pengukuran ulang kondisi pasien. Permasalahan juga ditambah dengan hasil pencatatan PPMS yang hanya tercetak pada hardcopy dan belum bisa terekam dalam database. Selama ini, data rekam medis dasar pasien dicatat secara manual dalam interval waktu tertentu. “Kondisi tersebut tentu menyulitkan proses analisis dan pemantauan kondisi pasien secara real time,” tandasnya.
Beranjak dari hal tersebut, PASTI hadir untuk memberi kemudahan dengan mengintegrasikan alat di dalamnya. Bentuknya ringkas, memudahkan petugas kesehatan memindahkan alat dari ambulans hingga ruang perawatan. “Pemantauan rekam medis secara real time juga mempercepat proses penanganan pasien,” terang Wiwik.
Selain itu, PASTI dirancang dengan biaya lebih murah dibandingkan berbagai alat sejenis yang ada di rumah sakit. Ini memungkinkan diproduksi lebih banyak sehingga dapat diterapkan pada banyak pasien. Alat ini mempercepat proses penanganan pasien, otomasi data rekam medis pasien, dan pemantauan kondisi pasien.
Diperlukan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya pengembangan PASTI. Untuk menyimulasikan transaksi data, tim pengembang mengembangkan aplikasi berbasis web untuk menggambarkan apa yang dapat digunakan PASTI sebagai solusi pemantauan pasien secara online. Pengusungan sistem modular juga sudah dapat diintegrasikan dengan sistem informasi yang sudah mapan.
Selama proses pengembangan PASTI, kerja sama di antara lima perguruan tinggi ini dapat berjalan baik dan sesuai rencana. “Ke depannya, saya berharap alat ini dapat meningkatkan tingkat kinerja paramedis di rumah sakit,” tutur Wiwik. (Silvita Pramadani)


