Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saya sedih. Baru saja merayakan peringatan Proklamasi Kemerdekaan, eh terjadi serangkaian demonstrasi yang diwarnai kekerasan. Korban sudah berjatuhan.
Dalam kondisi kerumunan massal termasuk dalam demo-demo ini, seseorang bisa berubah menjadi individu lain dengan karakter berbeda daripada biasanya. Yang sehari-hari ‘anak baik’, bisa saja tiba-tiba jadi ‘anak beringas’ saat ada kerusuhan massal. Dalam sudut pandang psikologi sosial, orang bisa mengalami deindividuasi.
Konsep deindividuasi diperkenalkan Gustave Le Bon dalam bukunya The Crowd (1895). Konsep ini menggambarkan hilangnya kesadaran diri dan berkurangnya kontrol diri individu ketika berada dalam kelompok atau situasi tertentu.
Dalam keadaan deindividuasi, seseorang merasa ‘tenggelam’ dalam kelompok sehingga perilakunya cenderung dipandu emosi massa, bukan lagi oleh karakter pribadi atau norma-norma yang biasa dia pakai sehari-hari.
Ketika berada dalam kerumunan, kondisi anonimitas meningkat sehingga ia merasa tidak terlihat atau tidak akan dikenali oleh polisi atau lainnya. Saat orang lain memicu kerusuhan, ia ikut melakukan. Saat itu, ia merasa tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakannya karena tindakan serupa dilakukan bersama-sama orang lain. Saat melakukan itu, kontrol dirinya menurun. Emosi berupa amarah, kegembiraan, atau euforia lebih dominan daripada pertimbangan rasionalnya. Dalam kondisi ini, ia cenderung impulsif; bertindak lebih berani, lebih ekstrem, atau lebih agresif, dibanding saat sendirian. Philip Zimbardo mengungkap, orang yang diberi kondisi anonim lebih mungkin berperilaku jahat.
Namun, demo yang terjadi belakangan ini melibatkan banyak orang di berbagai tempat, dengan latar belakang sosial dan budaya beragam. Tidak bisa serta-merta bisa disebut semua pelaku mengalami deindividuasi. Ini hanya berlaku pada beberapa orang tertentu.
Kondisi yang lain bisa dijelaskan lewat konsep atau teori yang lain. Misalnya, kondisi kerusuhan massal bisa disebabkan frustrasi kolektif saat banyak orang merasakan ketidakadilan sosial/politik, bisa juga disebabkan provokasi eksternal saat ada pihak tertentu menggerakkan agenda tertentu, dan bisa juga disebakan banyak faktor lainnya.
Jadi, yang penting yuk tetap kontrol diri. Unjuk rasa untuk menyampaikan pendapat boleh-boleh saja, dan sah-sah saja. Yang perlu dikontrol adalah jangan sampai ada korban karena kekerasan. Mari kita jaga negeri yang indah dan mayarakat yang ramah ini.


