Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Terasa pagi ini sangatlah cerah. Bersama semangat membara, berangkatlah saya ke Sinai Cafe di lereng Gunung Anjasmoro. Letaknya di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Jawa Timur. Tujuannya, satu. Pingin upgrade ilmu. Sudah lama saya tidak meguru pada sosok satu ini. Beliau adalah Yusron Aminulloh.
Berbekal janjian melalui WhatsApp, saya niatkan berangkat lebih awal karena ingin lebih dulu menikmati suasana pegunungan bersama kopi khas Wonosalam. Tak berselang lama, apa yang saya angankan tersampai. Kopi panas disediakan pramusaji, ditemani view alam nan asri yang saling melengkapi. Tak berselang lama, berdatangan para customer dari kalangan keluarga maupun berpasangan ke cafe ini. Dari yang naik sepeda sampai mobil pribadi.
Pukul 10.27 saya meng-chat, “Assalamu’alaikum wr.wb. Pangapunten, njenengan masih ada jadwal ke Sinai Fafe, nopo sudah bergeser ke acara lain, Pak?”
Tak berselang lama ada notifikasi jawaban, “Otw Sinai cafe.”
Waktu yang diharap datang. Mobil putih melintas di depan halaman cafe. Pintu mobil terbuka. Saya langsung menyambut salam hangat dari Beliau sembari saling bermaafan karena momentumnya masih di bulan Syawal.
Setelah Beliau menyelesaikan urusan yang di-handle melalui ponsel, di selanya saya berbagi berbagai problematika untuk mendapatkan pencerahan. Mulai pengembangan lembaga tempat saya bekerja, sampai pada bagaimana bisa upgrade diri. Bahkan sampai menyentuh subtansi dari cara mendapatkan passive income selain dari gaji rutin.
Kata Beliau, mendapatkan passive income itu harus bermula dari apa yang kita sukai. Karena sesuatu yang disukai akan membuat aktifitas yang kita kerjakan jadi tanpa beban.
Kebetulan saya suka menulis. Maka, menulis juga menjadi bahan diskusi kami dari perspektif yang berbeda. Intinya, menurut Beliau, agar tulisan bisa mendatangkan passive income maka itu perlu ‘berpola’ dan tidak ‘sekedar’ tulisan. Kalau yang kita tulis berkaitan dengan pengetahuan secara umum, baik itu berkenaan filsafat atau konteks bacaan berat, itu hanya diminati sebagian pembaca. Maka jangan diharap passive income bakal datang.
Penulis, apalagi pemula, harus memiliki kesadaran bahwa tulisan dengan kualitas yang baik akan menjadi pertimbangan pembaca. Maka, saat kita sadar, menulis itu jangan diniatkan untuk mendapatkan passive income. Jadikan hobi saja. Jadikan amal jariyah penebar manfaat kepada para pembaca.
Kemudian Beliau menceritakan beberapa contoh dari karya. Banyak yang sudah dicetak, dan sebagian besar hanya untuk dibagikan cuma-cuma. Tujuannya bukan untuk mendapatkan passive income tetapi lebih pada bagaimana ide-ide besar Beliau bisa menjadi kemanfaatan bagi yang lain.
“Berbeda kalau kita menulis dan menggunakan konsep how to …(bagaimana …),” kata Beliau melanjutkan. “Hasil dari karya kita, meski ringan, akan banyak peminatnya. Karena konsep bagaimana … itu akan dicari pembaca untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi tuntutan rutinitas maupun cara me-manage sesuatu. Contoh sederhananya, judul ‘Bagaimana Menciptakan Sakinah Berkeluarga.’ Buku-buku yang berkonsep seperti ini tentu akan dicari.”
Setelah panjang lebar, ada tips yang disampaikan Beliau sebagai puncak tekan dari diskusi kami hari ini. Puncaknya adalah kita sebagai manusia harus bisa menihilkan diri. Menihilkan diri ini berarti kita harus bisa melepas bentuk saklek atas diri kita untuk kemudian terus berpola demi mendapatkan yang terbaik dari yang baik. Menihilkan diri juga berfungsi agar kita bisa fokus dengan pekerjaan yang sedang dan akan kita lakukan. Fokus di sini bukan hanya memiliki makna konsentrasi, namun juga bagaimana agar kita bisa istiqomah menjaga aktifitas tersebut. Dalam bahasa bisnis, Beliau menganalogikan, “Kalau kamu menekuni satu bidang selama tujuh tahun terus-menerus dan fokus, maka sesuatu itu akan menjadi keberkahan.”
Apa pun yang diberikan Allah Swt pada kita harus kita syukuri dengan cara mengoptimalkannya, lanjut dia. Filosofinya seperti kita menanam satu tanaman bunga. Dengan tanpa sadar, tanaman bunga itu berkembang dan beranak-pinak tanpa kita menanam lagi. Karena semua itu Allah yang kasih setelah kita bersyukur.
Demikian juga dengan rejeki. Ketika kita bisa fokus dan istiqomah, maka akan bermunculan rejeki-rejeki lain yang sama maupun yang tidak sama sumbernya. Pun dengan masalah, juga memiliki pola yang sama. Maka, untuk mengendalikan semua, perlu kesyukuran kita.
Tak terasa waktu sudah beranjak sore. Cangkir kopi dan botol air mineral, piring tempat fried potato, tahu walik, dan nasi goreng, sudah bersih tak tersisa. Di tengah perjalanan pulang, ada pembelajaran yang menjadi perenungan bagi saya saat mencermati dan menghayati nasihat Beliau.
Bahwa sesungguhnya kita bisa berharap, tetapi janganlah sampai mengharapkan. Kita boleh meminta, tetapi janganlah menjadi peminta-minta. Syukuri apa yang ada dan janganlah diambil hati apa yang menjadi keinginan. Tidak semua keinginan kita itu kita butuhkan.
Dengan menihilkan diri, sejatinya kita akan memiliki pemikiran jernih atas proses yang kita jalani. Dengan menihilkan diri sesungguhnya kita akan kembali pada kemurnian berfikir untuk menjalani proses sekaligus mengenal diri untuk bisa meraih kesuksesan lebih baik lagi.
Wallahua’lam bishawab.


