Nikmatnya Tertawa saat Krisis

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Tentu, kita sudah paham apa itu humor. Bahkan, kita mempraktikkan humor untuk menghangatkan suasana. Atau, kita menikmati humor lewat stand up comedy dan sejenisnya.

Psikologi positif mengklasifikasikan humor sebagai salah satu bentuk transendensi. Tampaknya aneh, namun sangat masuk akal. Mengapa? Karena humor sering membantu kita sebagai individu untuk meningkatkan perspektif dan mengatasi situasi sulit dan stres.

Tawa bersama dan berbagi lelucon dapat memperkuat hubungan antara individu, menciptakan ikatan sosial dan memperdalam hubungan antara teman, keluarga, dan pasangan. Ketika mampu melihat sisi lucu dalam situasi sulit, orang cenderung merasa lebih bahagia.

Humor juga dapat merangsang pikiran kreatif. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang lucu atau tidak konvensional dapat membantu dalam pemecahan masalah dan merangsang kreativitas.

Bahkan, makalah terbaru Boydstun dan rekan (2023) mengungkap, humor bisa membantu kelompok kerja pada saat krisis. Peristiwa-peristiwa lucu menimbulkan tawa dan penularan emosi yang menciptakan pengaruh positif yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa lucu berikutnya. Seiring waktu, kelompok dapat mengembangkan iklim ramah humor yang meningkatkan ikatan antarpribadi, mengurangi kecemasan yang disebabkan ancaman, meningkatkan rasa kendali, dan meningkatkan produktivitas dan kohesi.

Dalam lingkungan kerja berbagi pengetahuan yang intensif, humor juga dapat menjadi penting dalam terungkapnya dinamika musyawarah kerja tim dari waktu ke waktu. Humor dapat memberikan ruang emosional kepada anggota kelompok untuk menentukan langkah selanjutnya dalam rangkaian tindakan yang kompleks.

Terrion dan Ashforth (2002) meneliti perkembangan humor dalam sekelompok calon polisi Kanada yang menjalani pelatihan. Seiring berjalannya waktu, anggota polisi yang direkrut beralih dari ekspresi humor individual yang mencela diri sendiri menjadi ekspresi humor afiliatif yang berorientasi pada kelompok yang benar-benar berfungsi memperkuat ikatan kepercayaan dan solidaritas kelompok.

Boydstun dan rekan meneliti humor dan dinamika pertemuan Komite Federal Pasar Terbuka (FOMC) di Amerika Serikat. FOMC adalah kelompok 19 anggota, cabang dari Federal Reserve yang bertugas menjaga operasi pasar Amerika Serikat dengan mengendalikan suku bunga dan moneter. Kelompok ini bertemu 41 kali antara tahun 2005 dan 2008 pada periode kritis sebelum dan sesudah jatuhnya pasar yang dimulai pada Agustus 2007. Boydstun menganalisis semua transkrip pertemuan 2005 hingga 2008 untuk mencari contoh canda tawa. Mereka mengidentifikasi 977 kejadian, yang selanjutnya mereka kodekan dengan mengacu pada berbagai jenis humor yang digunakan pada setiap kejadian. Mereka juga menganalisis konteks berbagai jenis humor ini muncul dalam upaya memahami dinamikanya.

Mereka menemukan, humor dalam pertemuan FOMC  naik dan turun seiring kondisi pasar, termasuk penurunan humor terkait awal krisis keuangan 2007. Namun, penggunaan humor tidak berhenti. Krisis finansial mengakibatkan berkurangnya penggunaan humor yang bersifat memperkaya diri sendiri dan meningkatnya penggunaan humor afiliatif (dari 54% sebelum krisis menjadi 62% pasca-krisis). Yang juga penting adalah peningkatan signifikan dalam penggunaan olok-olok yang bersifat main-main, dari 31% menjadi 35%. Gallow humor meningkat lebih dari dua kali lipat dari 2% sebelum crash menjadi lebih dari 5% setelah crash.

Gallows humor biasanya digunakan untuk merespon situasi atau topik sangat serius, suram, atau bahkan tragis. Istilah ‘gallows‘ dalam bahasa Inggris berarti ‘tiang gantungan’ untuk hukuman mati pada masa lalu. Ciri khas gallows humor adalah penggunaannya dalam situasi yang seharusnya sangat serius atau menyedihkan, tetapi malah digunakan untuk menciptakan lelucon atau komentar menggelitik.

Analisis lebih lanjut oleh Boydstun terhadap transkrip mengungkapkan para anggota FOMC tampaknya menggunakan olok-olok lucu yang ditujukan pada satu sama lain sebagai cara untuk meredakan stres, mendukung kompromi, dan memperkuat ikatan antar anggota. Hal ini termasuk saling berkomentar ringan dengan olokan lucu (misalnya, terkait persaingan regional) dan pujian lucu (misalnya, tentang betapa baik atau briliannya anggota lain), dan terkadang melibatkan rangkaian olok-olok yang tampaknya menciptakan suasana lebih santai dan memfasilitasi diskusi produktif seputar isu-isu kompleks.

Analisis kualitatif lebih lanjut mengungkapkan peran penting ketua FOMC dalam menanamkan humor pada rapat komite, dan mengarahkan humor kepada anggota kelompok dengan cara melampaui jabatan dan tingkat hierarki. Pada saat yang sama, humor dari anggota kelompok berperan penting dalam mendukung dinamika afiliatif secara keseluruhan.

Boydstun menyimpulkan, humor sangat penting sebagai alat fleksibel yang dapat digunakan kelompok kerja untuk memperkuat kohesi di saat baik dan buruk. Ia dan tim peneliti merekomendasikan agar ketua kelompok memanfaatkan humor afiliatif yang positif sebagai cara mendorong interaksi positif antara anggota kelompok dan menstabilkan dinamika kelompok selama perubahan keanggotaan dan pada saat krisis. Anggota kelompok tidak perlu menunggu pemimpin untuk memulai lelucon yang dapat menumbuhkan perasaan positif. Silakan ambil inisiatif dan terlibat dalam humor afiliatif.

Namun, perlu diingat bahwa penggunaan humor harus bijak dan sensitif terhadap situasi dan orang lain. Humor yang tidak pantas atau merendahkan orang lain dapat berdampak negatif pada hubungan dan kesejahteraan mental.

Facebook Comments

Comments are closed.