mepnews.id – “Apakah mau jadi penulis?” pertanyaan itu dilontarkan Teguh Wahyu Utomo dalam pelatihan menulis di SDN 2 Sidodadi, Lawang, Kabupaten Malang, pada 23 Mei 2023. Kegiatan ini untuk menunjang program pemerintah dalam memajukan literasi untuk penanaman karakter.
Tapi, jawab sebagian siswa, “Tidak mau.”
“Lho, kenapa tidak mau?” tanya Teguh yang jadi trainer menulis itu.
Ada peserta yang beralasan tidak suka, tidak biasa, tidak tahu, dan sejumlah penolakam lainnya.
Trainer yang juga pengelola portal mepnews.id ini lalu memotivasi peserta dengan kisah-kisah bagaimana ia bisa berkeliling Indonesia dan bahkan sampai ke Amerika Serikat gratis dari aktivitas menulis.
Setelah cerita itu, respon 44 siswa kelas 5 dan 19 siswa kelas 6 masih beragam.
Lalu, trainer jurnalistik itu memberi contoh lagi. JK Rowling berubah dari wanita miskin dan terlantar menjadi salah satu wanita terkaya di dunia karena menulis kisah Harry Potter. RA Kartini jadi pahlawan nasional pembangkit emansipasi wanita karena menulis banyak surat pada teman-temannya di Belanda yang akhirnya dibukukan dan bisa dibaca siapa saja hingga sekarang. BJ Habibie mengatasi gangguan depresi berat dengan menuliskan rasa cintanya lewat buku Habibie-Ainun yang kemudian jadi tiga film populer.
Kisah-kisah ini membuat peserta mulai tertarik. Maka, trainer memberi beberapa tips untuk menulis. Para peserta pun antusias mempraktikkan. Mereka tak segan menunjukkan tulisan-tulisan hasil praktik itu. Trainer langsung memberikan beberapa saran untuk perbaikan kecil sambil terus menyemangati.
Maka, saat ditantang untuk nulis bareng jadi buku, para siswa sangat antusias menerimanya.

Para siswa kelas 5 dan 6 SDN 2 Sidodadi antusias berlatih menulis.
Achmad Ferdiansyah Permana Putra, kelas 6, mengaku pelatihan ini amat menyenangkan karena menambah ilmu pengetahuan teman-teman. “Saya jadi tahu cara membuat cerita.”
Muhammad Dendy Aldiandra juga termotivasi untuk dapat membuat cerita sendiri sampai jadi terkenal.
Prarama Abdi S. Y. mengaku, “Pelajaran tadi sangat menyenangkan.”
Tak hanya para siswa, guru-guru pun menyempatkan diri berdiskusi soal kepenulisan dengan trainer. Beberapa hal yang diungkap umumnya bagaimana cara memotivasi diri untuk menulis dan bagaimana teknik menulis. Dalam kesempatan itu trainer mengenalkan sejumlah piranti teknologi Artificial Intelligence yang bisa dimanfaatkan untuk mempercepat dan mempermudah proses menulis.
Revi Lujeng Rahayu, guru yang mewakili kepala sekolah, mengungkapkan diskusi ini bagi para guru juga untuk menginspirasi menghasilkan karya buku maupun karya ilmiah. “Targetnya menghasilkan buku atau karya yang nantinya bisa membangun pendidikan Indonesia.”


