Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Duh, bagaimana ya Bund? Anakku ini sangat pemalu. Tidak pernah mau dikenalkan ke orang lain. Maunya nempel terus di mamanya. Disuruh tampil, malah nangis.”
Begitu keluhan seorang mama dari kompleks perumahan tempat saya tinggal. Keluhan ini juga sering muncul dari mama-mama lain yang merasa anaknya pemalu.
Para pembaca yang budiman, tak perlu terlalu cemas saat anak kecil masih malu-malu. Anak saya dulu juga pemalu, tapi sekarang jadi center of circle teman-teman sebayanya. Anak tentu mengalami pertumbuhan dan perkembangan melewati fase-fase tertentu.
Yang perlu diperhatikan itu jika malunya berlebihan atau ekstrim sehingga mempengaruhi aktivitas anak.
Misalnya, anak saking malunya sampai kesulitan berteman, atau jadi korban bully, atau hingga gagal berprestasi di sekolah. Bisa juga, anak tiba-tiba jadi berperilaku agresif untuk menutupi rasa malunya.
Misal lainnya, saking malunya maka si anak tidak bisa pergi ke suatu tempat, atau tampak cemas dan tidak nyaman dalam situasi sosial tertentu, atau anak tampak sangat kesepian karena tidak tahu cara ikut bersenang-senang dengan anak lain.
Misal lainnya, anak merasa tidak bisa menjawab pertanyaan di kelas atau menyuarakan pendapat, ide, atau pertanyaan, meski sebenarnya ia bisa. Malu yang semacam ini bisa mengganggunya meraih prestasi.
Malu yang ekstrim semacam ini perlu mendapat penanganan. Jika tidak, anak akan malu terus hingga berkembang menjadi rasa cemas di kemudian hari. Jangan sampai jadi anxiety disorder (gangguan kecemasan) yang menganggu kesehatan mental.
Kecemasan membuat anak sulit menjalani kehidupan sehari-hari. Gejalanya antara lain perasaan gugup, panik dan takut serta berkeringat dan detak jantung cepat saat menghadapi situasi tertentu.
Kita tentu harus membantu anak menjadi lebih matang mentalnya. Kita tentu perlu memperkenalkan anak pada situasi sosial tertentu secara bertahap agar ia terbiasa dengan orang lain. Jika rasa malu ekstrimnya tidak juga bisa dikendalikan, kita perlu konsultasi dengan profesional seperti psikolog, psikiater atau dokter anak.


