Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ghibah ilmiah kali ini melibatkan chat women. Kami ngobrol tentang anak salah satu anggota yang tidak hadir dalam chat secara offline ini. Mereka kasihan dengan si anak karena tampak diam saja saat teman-temannya agresif bermain atau mengerjakan sesuatu di sekolah atau di rumah.
“Harap maklum. Fulan itu anak tunggal. Perempuan. Keluarganya tajir melintir. Minta apa saja dituruti. Main ke mana saja, ada yang ngawal,” kata seorang teman.
“Betul, itu. Fulan jadi terlalu mengandalkan orang lain untuk mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Ia kurang terbiasa mengambil inisiatif sendiri. Makanya ia selalu nggak pede,” ujar teman yang lain.
…………
Pembaca yang budiman, tak perlu saya ungkap seluruh isi ghibah ilmiah mereka. Yang saya ingin sampaikan, ada sejumlah faktor lain yang membuat anak jadi kurang berani berinisiatif. Bisa juga karena faktor rasa takut atau cemas berlebihan. Bisa juga karena kebiasaan pasif atau konsumtif.
Yang ingin saya tekankan justru pentingnya anak berani mengambil inisiatif. Mengapa? Karena ‘inisiatif’ itu penting bagi pembentukan karakter di masa depan. Kemampuan anak mengambil tindakan sendiri tanpa didorong atau diarahkan orang lain akan menumbuhkan motivasi internal, kemandirian, keberanian, dan rasa tanggung jawab.
Dengan mengembangkan inisiatif, anak belajar mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi tantangan. Ia belajar mengambil langkah-langkah menuju tujuan sendiri, membuat keputusan, dan mengatasi hambatan dengan cara efektif.
Inisiatif mendorong anak mengembangkan motivasi internal. Ia belajar menentukan tujuan, bersemangat mencapai tujuan tersebut, dan bangga ketika berhasil mencapainya. Motivasi internal ini lebih berkelanjutan dan lebih kuat daripada motivasi dari dorongan eksternal dalam bentuk hadiah atau pujian orang lain.
Saat mengambil inisiatif, anak siap menghadapi ketidakpastian dan siap mengatasi rasa takut. Ini membantu dia mengembangkan keberanian untuk menghadapi tantangan atau risiko yang muncul dalam hidup. Ini akan menjadi sumber kekuatan untuk mencoba hal-hal baru, menghadapi kegagalan, dan terus tumbuh dan berkembang.
Dengan mengambil inisiatif, anak belajar bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya sendiri. Ia menyadari memiliki peran penting dalam menciptakan masa depannya sendiri. Ini mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, dan masyarakat.
Inisiatif melibatkan kemampuan anak mengidentifikasi masalah, merencanakan tindakan, dan mengeksekusinya. Ia bisa belajar berpikir kritis, melihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan mencari solusi kreatif. Kemampuan ini sangat berharga di masa depan. Pemecahan masalah menjadi keterampilan yang semakin penting.
Terkait Si Fulan, bagaimana cara membantu, mendorong dan mengajarinya untuk berani mengambil inisiatif?
- Berikan kebebasan terkendali. Beri ia kesempatan mengambil keputusan sendiri dan melakukan tindakan tanpa pengawasan terlalu ketat. Biarkan ia belajar dari pengalaman dan tanggung jawab sendiri. Tentu saja, pastikan kebebasan itu sesuai dengan usia dan tingkat kematangannya.
- Berikan contoh yang baik. Orang tua perlu menunjukkan inisiatif mereka dalam kehidupan sehari-hari. Anak pasti meniru perilaku orang dewasa di sekitar. Kalau orang tuanya sukses berbisnis, tentu ia bisa belajar bagaimana orang tuanya mengambil inisiatif dalam menghadapi tantangan bisnis.
- Dorong eksplorasi dan kreativitas. Beri kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat. Dukung dia dalam mencoba hal-hal baru, menjelajahi berbagai aktivitas, dan berpikir kreatif. Ini membantu ia mengembangkan keberanian ambil risiko dan ambil inisiatif dalam mengejar minat.
- Beri ruang untuk tanggung jawab. Mulai dengan tugas kecil seperti merapikan mainan. Secara bertahap, beri tanggung jawab lebih besar, seperti mengurus atau mengatur jadwal bepergian sendiri. Memberikan tanggung jawab akan membantu ia merasa dihargai.
- Beri umpan balik yang positif. Ketika berani mengambil inisiatif, berikan ia pujian dan penghargaan positif. Komentari usaha dan ketekunan dia untuk memperkuat motivasinya.
- Ajarkan pemecahan masalah. Ini penting, karena hidup tidak selamanya mudah. Ajari ia keterampilan memecahkan masalah untuk mengambil inisiatif. Bantu ia mengidentifikasi masalah, merencanakan langkah-langkah solusi yang diperlukan, dan mengevaluasi hasilnya. Ini melibatkan berpikir kritis, pemikiran lateral, dan kemampuan melihat tantangan sebagai peluang.


