mepnews.id – Saat mampir di suatu PAUD, saya sempat nimbrung bersama mamah-mamah yang menunggu anak mereka selesai belajar. Seperti biasa, para mamah itu ngobrol sana-sini di lokasi tak jauh dari PAUD. Salah satu yang diobrolkan ya masalah anak-anak mereka.
“Coba perhatikan Fulan kalau sudah main magic box. Gak mau gantian. Maunya dia pakai sendiri. Anak yang lain selalu gak kebagian.”
“Haha… iya betul. Kalau kecilnya mau menang sendiri gitu, besarnya kira-kira jadi apa ya?”
“Husnudzon saja. Mungkin, jadi presiden empat periode bahkan seumur hidup.”
………..
Pembaca yang budiman, saya senyum-senyum sendiri mendengar obrolan mamah-mamah tadi. Koq ya bisa-bisanya menghubungkan gaya bermain anak dengan tahun politik menjelang pemilu.
Tapi, secara konseptual, ada benarnya juga obrolan mereka. Pengajaran konsep ‘bergantian’ atau ‘pergantian’ atau ‘gantian’ pada anak sangat penting karena bermanfaat signifikan bagi perkembangan sosial mereka di masa datang.
Konsep ‘gantian’ itu mengajarkan tentang keadilan dan kesetaraan. Saat anak memberi kesempatan kepada anak lain untuk melakukan sesuatu, itu mengajarkan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama atau memperoleh kesempatan yang sama untuk terlibat dalam kegiatan.
Secara psikologis, itu juga mengajari anak memahami dan menghargai perspektif anak lain. Dengan mau gantian, ia belajar memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, keinginan, dan hak yang sama. Ia juga belajar berempati dan menghargai sudut pandang anak lain sehingga bisa mendorong keberagaman dan inklusi dalam interaksi sosialnya.
Dampak lebih jauh, anak bisa mengembangkan keterampilan sosial. Praktik gantian itu melibatkan komunikasi, kerjasama, dan keterampilan sosial lainnya. Ia belajar berkomunikasi dengan baik, menunggu atau memberi giliran, menghargai pendapat orang lain, hingga menjaga hubungan sosial yang sehat. Ini penting untuk membangun keterampilan sosial dan menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya dan orang dewasa.
Nah, berarti belajar konsep ‘gantian’ ini sejatinya untuk persiapan masuk dunia nyata. Konsep ‘gantian’ ini mencerminkan tatanan sosial yang umum dalam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, siapa saja pasti menghadapi situasi perlu bergantian dalam berbagai konteks. Ya di sekolah, ya di kelompok kerja, ya di ruang tunggu puskesmas, ya di perempatan jalan, dan lain-lain. Maka, dengan memahami dan menguasai konsep ‘gantian’, anak akan bisa beradaptasi lalu berfungsi secara efektif dalam lingkungan sosial lebih luas.
Sebaliknya, jika anak menunjukkan resistensi atau enggan gantian, bisa saja muncul konflik atau ketegangan dengan teman sebaya atau orang lain. Hal ini bisa mengganggu hubungan sosial dan bahkan berbuntut panjang jika tidak diintervensi. Teman-teman sebaya mungkin merasa dia tidak adil atau menang sendiri. Jika ada teman yang memaksa merebut mainan darinya, maka bisa pecah konflik di antara mereka.
Dari sisi si anak, enggan gantian mencerminkan egoisme berlebihan. Jika ia terus-menerus menolak gantian bermain sesuatu, ini mengindikasikan perilaku egois dan pemenuhan keinginan pribadi secara berlebihan. Ia menganggap dirinya lebih penting daripada anak lain, dan memprioritaskan keinginan pribadi tanpa memperhatikan keadilan atau kebutuhan anak lain.
Kalau sudah begini, berarti tanda-tanda keterbatasan keterampilan sosial anak. Si anak mungkin belum cukup bisa mengembangkan keterampilan komunikasi yang memadai, kemampuan berempati, atau pemahaman tentang aturan sosial. Hal ini dapat menghambat perkembangan sosial dan kemampuan dalam berinteraksi dengan anak lain secara efektif.
Di sisi lain, jika ia konsisten menolak bergantian, ia bisa menghadapi isolasi sosial. Teman-teman sebaya jadi enggan berinteraksi atau bermain dengan dia karena mereka merasa dia tidak adil. Kalau sudah terjadi isolasi sosial, si anak bakal merasa terasing atau kesepian.
Maka, ajari anak konsep ‘gantian’. Beri contoh bagaimana menerima ucapan “gantian dong.’ Tunjukkan Anda sendiri siap bergantian giliran, mau antre, saling meminjamkan sesuatu, dan lain-lain, agar anak sadar bahwa gantian itu harus dilakukan.
Selain memberi contoh, beri pula penjelasan tentang pentingnya gantian.
Kadang, butuh waktu lama dan kesabaran orang tua untuk membuat anak mau gantian saat bermain dengan anak lain. Tapi, jika tidak diajari sejak dini, perkembangan emosional anak untuk toleran dan adil bakal terhambat.


