Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Bund, anakku koq malas belajar, ya. Dibanding teman-teman di sekolah atau di sekitar rumah, nilainya kalah banyak. Disuruh belajar, ogah-ogahan. Disuruh les, gak mau. Enaknya bagaimana ya, Bund?” begitu tetangga kompleks curhat pada saya.
Saya jawab secara umum, “Tenang, tenang… Setiap anak punya masa peka masing-masing. Saat masa peka itu datang, si anak bisa tiba-tiba saja semangat dan cepat belajar. Selain itu, anak tidak harus jagoan di bidang akademi. Siapa tahu anakmu lebih cepat belajar kalau diajak sepakbola?”
Para pembaca yang budiman, anak-anak yang besarnya hebat belum tentu dilahirkan sebagai pembelajar yang hebat. Ada banyak faktor kepribadian individu yang memainkan peran besar dalam kemauan anak untuk belajar dalam bidang yang diminatinya.
Berikut ini tips dan strategi yang mungkin bisa memotivasi anak untuk belajar.
- Kembangkan suasana membaca
Membaca adalah kunci sukses dalam hidup. Setidaknya, membaca adalah kunci keberhasilan dalam belajar. Jika anak bisa mengembangkan kecintaan pada membaca, ia mengembangkan kecintaan untuk belajar. Membaca tidak hanya membantu mengembangkan kosa kata, tetapi juga membantu otak belajar memproses konsep dan berkomunikasi formal.
- Beri kebebasan belajar
Dalam Pendidikan yang kaku, banyak anak yang merasa dikontrol ini dan itu. Ketika merasa dikontrol, anak cenderung menarik diri dari proses pembelajaran. Maka, beri anak lebih banyak kebebasan mengontrol sendiri apa yangia ingin pelajari. Saat pelajaran menulis, izinkan anak memilih topik sendiri untuk ditulis. Perbanyak kegiatan ekstrakurikuler agar pilihan anak makin beragam.
- Dorong komunikasi yang tulus
Dorong anak mengungkapkan pendapat tentang apa yang terjadi dengan pendidikannya. Ciptakan suasana terbuka di mana dia merasa nyaman mengungkapkan rasa suka, tidak suka, atau kekhawatirannya. Guru, orang tua, atau pengasuh tentu harus memvalidasi apa yang diungkapkan si anak. Ketika anak merasa pendapatnya tidak dihargai, bisa jadi ia ngambek lalu menarik diri dari proses pembelajaran.
- Fokus pada minat anak
Ketika bidang atau mata pelajaran yang diminati, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi anak. Guru, orang tua atau pengasuh bisa mendorong anak menjadi pembelajar yang baik dengan mengeksplorasi topik yang membuatnya tertarik. Jika dia suka kereta api, misalnya, bantu dia menemukan buku atau cerita yang menarik tentang kereta api. Lalu, tantang dia untuk memilih lima jenis kereta api dan jelaskan mengapa memilih itu.
- Pertimbangkan berbagai gaya belajar
Setiap anak memiliki gaya belajar yang paling sesuai dengan mereka. Setidaknya, ada gaya belajar visual, auditori, verbal, fisik, logis matematis, sosial hingga soliter. Cek mana gaya belajar paling dominan pada si anak. Dengan menemukan gaya belajar yang disukainya, Anda dapat menggunakan teknik tertentu untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pembelajarannya.
- Beri contoh semangat belajar
Anak-anak itu senang mencontoh orang dewasa terdekatnya. Jika anak melihat orang sekitarnya benar-benar antusias belajar, kemungkinan besar ia ikutan antusias belajar. Maka guru, orang tua, atau pengasuh harus memberi contoh anak bahwa belajar adalah petualangan menemukan hal-hal baru yang menarik.
- Pembelajaran berbasis permainan
Ini bukan teknik baru, tapi diyakini masih ampuh hingga sekarang. Menggunakan permainan sebagai alat pendidikan bisa memberikan pembelajaran yang lebih dalam, mengembangkan keterampilan non-kognitif, hingga memotivasi anak mau dan suka belajar. Ketika anak terlibat dengan permainan, pikiran mereka mengalami kesenangan mempelajari sistem baru. Pembelajaran berbasis permainan juga efektif untuk pembelajaran berbasis tim di ruang kelas. Ada aspek kompetitif dan kolaboratif saat bermain.
- Fokus pada prosesnya
Jangan hanya bertanya pada anak bagaimana hasil ujian matematikanya. Kalau dapat nilai buruk, bisa jadi semangatnya ikut terpuruk. Lebih baik, mintalah ia mengutarakan apa yang ia pelajari dalam matematika hari ini. Meskipun hasil itu penting, berfokus pada pengalaman belajar membuat anak lebih kaya pengalaman dan pembalajaran.
Tentu ada banyak cara lainnya untuk mendorong anak agar lebih bersemangat belajar. Yang saya tampilkan ini hanya beberapa teknik. Mana yang terbaik? Tentu saja harus disesuaikan dengan kondisi anak secara individual. Apa yang cocok untuk anak tetangga, belum tentu cocok dengan anak Anda.


