mepnews.id – Universitas K.H. Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menetapkan kebijakan wajib bersarung setiap tanggal 17 sebagai penguatan identitas. Kebijakan ini diluncurkan dalam Launching Transformasi Tradisi Pesantren bagi Generasi Z dan Peringatan Isra Mi’raj 1447 H, di halaman Gedung Jokowi, 17 Januari 2026.
Mahasiswa laki-laki wajib mengenakan baju putih dan sarung kotak-kotak setiap tanggal 17, mahasiswi mengenakan busana bernuansa putih dengan kerudung berwarna selain hitam. Aturan ini berlaku secara berkala setiap bulan sebagai simbol internalisasi nilai tradisi pesantren di ruang akademik.
Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Dr KH Moh. Hasib Wahab, menegaskan kebijakan bersarung bukan sekadar aturan berpakaian melainkan media pendidikan karakter.
“Sarung yang dikenakan setiap tanggal 17 merupakan simbol warisan KH Wahab Hasbullah. Ini upaya menghadirkan kembali ruh pesantren dalam kehidupan kampus agar mahasiswa tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujar Gus Hasib, lewat situs resmi unwaha.ac.id.
Dijelaskan, transformasi tradisi tidak dimaksudkan untuk menghambat kreativitas Generasi Z tetapi justru menjadi fondasi nilai agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas ke-NU-an.
Pada kesempatan yang sama, Ketua YPTBU, Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab MA, menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan aturan. Diharapkan, seluruh sivitas akademika mematuhi kebijakan ini sebagai bagian dari disiplin dan budaya kampus. “Aturan harus dijalankan secara tegas agar menjadi kebiasaan dan membentuk identitas visual serta mental Unwaha.”
Rektor Prof Dr Ir H Gatot Ciptadi DESS IPU ASEANEng, memandang kewajiban bersarung sebagai bagian dari integrasi nilai spiritual pesantren dengan tata kelola universitas modern. Menurutnya, penguatan identitas kultural menjadi kebutuhan penting bagi Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi.
“Kampus pesantren harus mampu menghadirkan nilai keislaman secara kontekstual. Kewajiban bersarung ini adalah simbol sekaligus pengingat bahwa keunggulan akademik perlu berjalan seiring dengan adab dan karakter,” jelas Prof Gatot.
Ia menambahkan, penguatan budaya kampus tersebut selaras dengan peran Senat Universitas yang baru dilantik dalam menjaga arah kebijakan akademik dan mutu Tridarma Perguruan Tinggi berbasis nilai keislaman. (Ibrahim)


