Accismus; Bilangnya Ogah, Batinnya Ngarep

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Di sebuah pesta ulang tahun remaja.

Maya, yang hadir di acara itu, dikelilingi teman-temannya yang antusias. Lalu tiba-tiba dia diberi potongan kue terbesar dari yang sedang ulang tahun.

Maya hanya tersenyum sipu sambil berkata, “Oh, tidak. Saya tidak bisa. Kue ini lebih pantas untuk gadis yang lain.”

Teman-temannya malah menggodanya untuk menerima. Dalam hati, Maya sangat ingin menerima kue dari tuan rumah karena tentu ada simbol-simbol tertentu.

…………

Pembaca yang budiman, apa yang secara spontan dilakukan Maya di atas adalah accismus.¬†Istilah ini berasal dari bahasa Latin yakni ‘accingere‘. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kita, itu artinya ‘menolak’ atau ‘menahan diri’.

Dalam psikologi populer, istilah itu merujuk pada sikap atau tindakan pura-pura menolak atau menolak sesuatu yang sebenarnya diinginkan. Dalam istilah retoris ini, seseorang menyatakan tidak tertarik atau tidak ingin memiliki atau melakukan sesuatu, meskipun sebenarnya ia menginginkannya.

Orang bertindak accismus karena beberapa alasan. Bisa jadi ia merasa secara sosial lebih pantas menolak sesuatu daripada langsung menerima atau mengambilnya. Ini bisa menjadi cara untuk menjaga kesan sopan atau rendah hati di hadapan orang lain.

Bisa juga strategi menarik perhatian. Dengan pura-pura menolak sesuatu, ia justru menarik perhatian atau simpati orang lain. Misalnya, dengan mengatakan tidak pantas menerima suatu pujian, ia berharap orang lain akan membantah itu lalu memberikan lebih banyak.

Bisa juga untuk menghindari kesan angkuh. Dengan menolak sesuatu yang sebenarnya diinginkan, ia ingin menghindari terlihat sombong atau terlalu percaya diri. Ini bisa menjadi cara untuk menjaga hubungan sosial yang seimbang dan menghindari timbulnya iri atau permusuhan.

Dengan pura-pura menolak, seseorang dapat mempertahankan kontrol atas situasi atau interaksi tertentu. Ini memberi ia kekuatan untuk memutuskan kapan dan bagaimana menerima atau menolak sesuatu, daripada merasa terpaksa atau ditekan untuk menerima atau mengambilnya.

Tentu, masih banyak alasan lain. Dalam banyak kasus, penggunaan accismus terkait dinamika ssosial dan psikologis yang kompleks di antara individu dan lingkungan.

Maka, saat seseorang accismus, mungkin terjadi konflik internal antara keinginan yang sebenarnya dan tindakan yang diambil. Ini dapat memicu aktivitas dalam jaringan otak yang terlibat dalam pemrosesan konflik, seperti korteks anterior cingulate.

Terus, apa yang kita bisa lakukan saat mengetahui seseorang sedang accismus?

Tentu saja, kita tidak boleh berprasangka. Tetap hargai setiap sikap atau tindakan seseorang.

Cobalah untuk memahami alasan di balik penggunaan accismus oleh orang tersebut. Apakah itu untuk merendahkan diri, menarik perhatian, atau menghindari konfrontasi? Dengan memahami motifnya, kita dapat menanggapi dengan lebih bijaksana.

Jika dia tampak membutuhkan dukungan atau pengakuan, berikan dukungan dan dorongan positif. Misalnya, jika menolak pujian, kita bisa mengatakan sesuatu yang mengakui pencapaian atau kualitas positif dia.

Jika memungkinkan, kita bisa mencoba berbicara secara terbuka dengannya tentang perilaku accismus dan bagaimana itu bisa mempengaruhi interaksi. Tetapi, lakukan ini dengan sensitivitas dan penghargaan.

Jangan memaksa dia untuk menerima atau mengambil sesuatu jika benar-benar menolak. Pemaksaan bisa membuat dia merasa tidak nyaman atau tertekan. Sebaliknya, beri mereka waktu dan ruang untuk mengekspresikan diri.

Jadi, kalau menurut orang Jawa, tepa selira lah.

Facebook Comments

Comments are closed.