mepnews.id – Ulang tahun pertama Kajian Sor Keres (KSK) digelar Minggu 23 September 2023 sore hingga larut malam di markas Jl dr. Suharso 1 Bojonegoro. Acara dihadiri budayawan Sujiwo Tejo serta berbagai unsur masyarakat yang peduli pada Bojonegoro.
Mengawali acara, beberapa lagu Jawa dilantunkan oleh sindir dingklik (jangrung) yang memukau ratusan hadirin dari berbagai komunitas. Mereka memadati karpet hijau markas KSK sembari menikmati jajanan polo pendem, kopi kotok, dan teh hangat kuliner khas WBT (Warung Bu Tiyok).
Pukul 20.00, Dry Subagio selaku pimpinan KSK memberikan sambutan sekaligus menandai dibukanya acara bertema ‘Ruwat kang Ruwet, buwang segala ngayuh kamukten Bojonegoro‘.
“Acara sengaja digelar di tengah-tengah masyarakat dengan harapan KSK tetap menjadi bagian dari masyarakat dan milik masyarakat Bojonegoro. Banyaknya komunitas yang hadir bisa menjadi energi bagi Bojonegoro untuk dapat keluar dari tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya pendidikan di tengah APBD yang meroket,” begitu ringkasan sambutannya.
Teguh Hariyono, staf ahli di Kementrian Pertahanan yang kelahiran Bojonegoro, menjadi moderator dan pememantik diskusi. Ia mengawali dengan meyakinkan warga yang hadir bahwa Bojonegoro bisa menjadi kabupaten yang makmur asal dikelola dengan baik. “Dan, panjenengan adalah yang harus memulainya,” tambahnya.
Sujiwo Tejo, dalam paparannya, menekankan pada ‘rasa’ untuk membangun negari ini, membagun Bojonegoro. Dengan ‘rasa’, seseorang dapat melakukan segala aktivitas dengan hati yang dipadukan realitas yang dilihat. Orang mampu berfikir positif dengan segala yang ada, lebih dapat melakukan instrospeksi atas kesalahan dan kekurangan diri, dan sejauh mungkin menghindari mencari kekurangan dan kesalahan orang lain, hingga pada ahirnya bisa melahirkan harmoni bagi masa depan generasi dan ditopang dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sejak dialog dibuka hingga berakhirnya kegiatan, masukan dan pertanyaan dari yang hadir sepertinya tak bisa disudahi.
Agus Sighro, yang mewakili komunitas budayawan Bojonegoro, mengkritisi keberadaan ikon dan infrastruktur budaya asli Bojonegoro.
Agung Supriyanto, anggota DPRD Provinsi Jatim, menggaungkan sikap kritis terhadap Generasi Z yang kini cenderung menjadi generasi cengeng. “Ini tentu menjadi tugas eksekutif dan siapa saja yang mendapatkan amanat rakyat, hingga bisa menata generasi ini menjadi potensi bagi kemajuan bangsa.”
Kang Yoto, mantan bupati, juga hadir lalu menjabarkan ruwat keruwetan yang harus di-manage dalam harmonisasi sehingga menghasilkan kamukten bagi diri sendiri hingga masyarakat secara umum.
Tak kalah menarik, Sholehah Yuliati praktisi Pendidikan Anak Usia Dini, juga menyebut pentingnya ‘olah rasa’ dalam mendidik anak. Lebih-lebih, pendidikan usia dini adalah pondasi bagi pendidikan sesudahnya. “Karakter positif tentu sesuatu yang mesti ditanamkan. Dengan ini, bangsa akan menjadi kuat.”
Dialog begitu gayeng dengan olah Mbah Sujiwo Tejo yang menjawab respon audiens melalui selingan lagu-lagu Jawa yang sarat dengan nilai positif. Ia diiringi paduan suara Universitas Bojonegoro (Unigoro) lengkap dengan grup musiknya.
Audiens masih tak beranjak dari tempat duduk meski jam telah menunjukkan 23.00 tanda acara harus sudah usai. (Zid)


