Rajutan Harmoni Sang Fadjar

Oleh: Dra Supriyanti

mepnews.id – Gaya bicaranya ceplas-ceplos, nadanya cenderung tinggi, lantang dan suara keras. Penampilannya sederhana. Gemar mengenakan kaos oblong, celana pendek bokser, busana keseharian. Jika belum mengenal dekat, orang akan menilai sosok ini bukan rohaniwan. Jarang Rohaniwan Katolik berpenampilan seperti Romo Fadjar Tedjo Soekarno.

Seperti Bob Sadino konglomerat yang berpenampilan sederhana, Romo Fadjar tidak seperti pastor-pastor lain yang berpenampilan rapi. Bisa dikatakan Romo Fadjar keluar dari zona nyaman untuk bergaul dan memperhatikan masyarakat yang dikenalnya. Bukan hanya umat Katolik, masyakarat yang non-Katolik pun dia perhatikan.

Romo Fadjar saat mengenakan pakaian formal sebagai rohaniwan Katolik.

Berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan Keuskupan Malang, Romo Fadjar menjalankan tugas di Gereja Katolik Santo Paulus Jajag di Jalan Bung Tomo, Dusun Jatisari, Rt 02/Rw 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Paroki ini sendiri resmi menjadi Paroki pada 28 Juni 2015. Dalam penanggalan Liturgi Katolik, itu bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus.

Jumlah umat di Paroki ini per 31 Desember 2021 sebanyak 403 jiwa. Wilayahnya juga tidak terlalu luas. Sebelah utara, berbatasan sebagian Kecamatan Gambiran, Desa Wringinrejo, sebagian Kecamtan Tegalsari. Bagaian timur, berbatasan dan sebagian Kecamatan Bangorejo, sebagian Kecamatan Srono, sebagian Kecamatan Purwoharjo. Ke selatan, pelayanan sampai Kecamatan Pesanggaran dan Kecamatan Siliragung. Ke barat, sampai sebagian Kecamatan Bangorejo.

Banyak ide-ide kemanusiaan yang dilaksanakan di wilayah Paroki Santo Paulus Jajag. Sambil melayani umat Katolik, Romo Fadjar juga bergaul dengan teman-teman non-Katolik. Para kyai beberapa pondok pesantren menjadi sahabatnya. Saking dekatnya, beberapa sahabat memanggilnya Gus Fadjar. Bersama sahabat Gusdurian, Romo Fadjar sering mondar-mandir melayani umat yang sebagian besar beragama Islam. Kiprahnya ini membuat Sang Pastor semakin dekat dengan masyarakat multi budaya.

Meski bukan putra asli Banyuwangi, kecintaan terhadap budaya dan kesenian setempat diwujudkannya dalam setiap peristiwa di gereja dengan memadukan perayaan ibadat. Putra pasangan almarhum Lilo Soedarman dan almarhumah Ana Marsiti Djumaiya kelahiran Batu ini pintar joged Banyuwangian. Selain sering mempertotonkan keahian jogednya ketika sedang ngobrol santai dengan umatnya, Romo Fadjar juga mengundang kelompok kesenian Janger atau Barong untuk memeriahkan acara-acara di gereja.

Saat para pastor lain umumnya gemar menata tata ibadat dan segala pernak-perniknya, Romo Fadjar lebih banyak menjalin keakraban dengan umat. Misalkan, rapat tidak harus formal tapi dikemas dengan bersantai duduk di teras gereja sambil menikmati gorengan hangat yang saat itu juga dimasak ibu-ibu. Sambil bincang-bincang santai, tak terasa pembicaraan sampai pada inti permasalahan penting. Selanjutnya, permasalahan diatasi dengan ngobrol santai. Untuk memeriahkan suasana, setelah rapat cangkrukan dilanjutkan dengan ngopi bersama dan main gaple, main domino, atau mendengrkan musik. Secara tidak langsung, cara ini menghilangkan sekat antara pemimpin dengan umatnya.

Romo Fadjar membaca Lontar pada bulan purnama.

Romo Fadjar juga menjalin relasi dengan masyarakat sekitar gereja dengan mengajak ngobrol, memberi sesuatu, menghadiri undangan hajatan, juga kadang mengundang mereka dalam kegiatan gereja. Lobinya juga dikembangkan dengan pemerintah daerah maupun pusat. Dari tingkat RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, sampai ke pemerintah pusat.

Gotong royong yang melibatkan warga sekitar dengan umat Katolik pernah dilakukan ketika membersihkan jalan dekat gereja. Jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat Jatisari dalam bepergian. Saat membantu pembangunan masjid di Dusun Jatisari, dilibatkan juga umat Katolik laki-laki maupun perempuan. Yang laki-laki membantu pekerjaan bangunan, yang perempuan membantu menyiapkan konsumsi.

Saat Bulan Ramadhan, orang lebih banyak mengadakan buka puasa bersama. Tapi, Romo Fadjar justru lebih senang melayani umat Muslim ketika sahur. Jadi, diadakanlah sahur bersama umat Muslim yang dilayani umat Katolik. Selama Romo Fadjar di Paroki Jajag, kegiatan sahur bersama selalu dilaksankan. Kegiatan lintas agama yang juga dilakukan antara lain memberi kambing korban kepada warga muslim di Sukomade.

Pada masa pandemi COVID-19, Romo Fadjar menerapkan protokol kesehatan sangat ketat di Paroki Santo Paulus Jajag. Semua himbuan pemerintah dilaksanakan dan selalu didengungkan kepada umat. Setiap kali misa, Romo Fadjar mendoakan umat agar terhindar dari penyakit itu. Pada masa awal pandemi, umat Katolik didorong membantu warga tanpa pandang bulu. Ketika Dusun Sumberrejo termasuk zona merah, umat Katolik dan non-Katolik sama-sama membantu masyarakat menyemprot lingkungan dengan desinfektan. Ketika Jatisari termasuk zona merah, umat membagikan empon-empon kepada masyarakat sekitar dengan harapan imunitas tubuh warga meningkat.

Tak pernah mati gaya Romo yang satu ini. Selalu ada ide untuk mengakrabkan diri dengan masyarakt sekitar. Salah satunya, turut membangun gapura masuk Dusun Jatisari dan gapura di desa Cluring yang dikerjakan umat Katolik bersama warga sekitar yang non-Katolik. Perempuan maupun laki-laki bergotong royong mengerjakan tugas sesuai potensi masing-masing.

Saat diminta menjadi pembicara tentang terorisme, Romo Fadjar pernah bertatap muka dan berdialog dengan Ali Imron. Mantan teroris bom Bali yang sekarang sudah sadar ini menghimbau agar kita jangan sampai terlibat dengan teroris.

Dulu, saat berkarya di Paroki Ratu Damai Banyuwangi, Romo Fadjar sempat terusik saat melihat budaya Using yang mulai tergeser. Maka, Romo Fadjar menjalin relasi dengan para ketua RT, RW, Kepala Desa dan para sesepuh di Desa Kemiren. Dihimpunnya semua informasi tentang budaya Using. Lalu, dibakarnya kembali nadi-nadi kedaerahan agar masyarakat mau bangkit membangun kembali budaya Using.

Kegigihannya mengorbitkan kembali budaya Using mendapat respon positif dari petinggi Banyuwangi kala itu, yaitu Bupati Abdullah Azwar Anas. Perjuangannya juga mendapat sambutan hangat dari sesepuh dan warga Using. Sehingga, secara bergotong-royong beberapa elemen masyarakat mengangkat kembali Using menjadi budaya yang penuh pesona dan agung. Hingga saat ini, Romo Fadjar masih membawa aktivitas adat Kemiren, misalnya memimpin rapat adat, membaca Lontar tiap bulan purnama, memimpin upacara Ider Bumi, dan lain-lain.

Tak hanya itu. Romo Fadjar pernah berkunjung ke Kalimantan atas undangan Pastor di sana dan berkenalan dengan Umaq Talifaq pemimpin suku Dayak setempat. Romo Fadjar lalu diangkat menjadi putra Dayak dengan gelar Habalan Hibau atau Anak Kepala Suku Dayak Bahau.

Kemahiran merajut harmoni di berbagai bidang ini membuat Romo Fadjar sering diundang ke Jakarta untuk memberi sumbang sih pemikiran berkaitan dengan toleransi beragama.

 

  • Penulis adalah guru di SMPN 2 Tegalsari,Banyuwangi

Facebook Comments

Comments are closed.