mepnews.id – Tim Ekspediri Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip) bersama para akademisi dan pemangku kepentingan, memperkuat kapasitas petani di Kampung Woslay, di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, melalui Focus Group Discussion (FGD) dan workshop Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Rabu (16/9) di kediaman Sybur, Jalur 3 Satuan Permukiman (SP) 2 Kampung Woslay.
Dikabarkan situs resmi undip.ac.id, kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan, akademisi dan pakar riset, tokoh adat (Ondoafi dan kepala keret), perwakilan tokoh perempuan, serta puluhan perwakilan petani dari enam kelompok tani di SP 1 dan SP 2 Woslay untuk membahas persoalan budidaya, ketersediaan air, dan pengelolaan lahan.
Ketiadaan jaringan irigasi teknis yang menjangkau areal persawahan warga di Jalur 3 SP 2 membuat lahan-lahan pertanian sering terlantar saat musim kemarau. Pada musim hujan, limpasan air yang tidak terkelola berisiko merusak perakaran tanaman. Menghadapi kondisi itu, TEP Undip menghadirkan pendekatan berbasis sains soal sarana air, edukasi budidaya, hingga penguatan kelembagaan lokal.
Prof Dr Ir Yunus Musa MSc, pakar agronomi senior dari Universitas Hasanuddin, dihadirkan untuk pelatihan Good Agricultural Practices (GAP). Ia membahas langkah-langkah praktis budidaya padi dan jagung yang disesuaikan kondisi lahan setempat.
Prof. Musa menjelaskan, keasaman tanah dengan pH 5 menjadi penghambat utama tanaman dalam menyerap unsur hara. Untuk mengatasi itu, petani diajarkan teknik pembenahan tanah melalui penaburan kapur dolomit dan pemanfaatan bahan organik lokal, seperti sekam padi bakar dan kompos. Aplikasi bahan-bahan ini terbukti efektif menetralisasi pH tanah sekaligus memperbaiki struktur tanah berpasir/berbatu agar mampu menyimpan air dan nutrisi lebih lama.
Pemaparan Prof Musa diperkaya Dr Adi Prasetyo MSi yang menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat adat dan kelembagaan dalam setiap tahapan pembangunan. Ia menekankan, keberlanjutan infrastruktur fisik seperti embung sangat bergantung pada tata kelola partisipatif berbasis lokal (polycentric governance) yang mengintegrasikan kesepakatan adat Ondoafi, aturan kelompok tani, serta peran kelembagaan masyarakat.
TEP Undip kemudian menerapkan materi di lahan demplot percontohan seluas 50 x 45 meter milik Sybur di Jalur 3 SP 2. Tim mempraktikkan langsung tata cara penanaman bibit jagung sekaligus mendemonstrasikan teknik budidaya yang telah dipaparkan.
Untuk tanaman padi varietas Mentik Susu Wangi dan Inpari 32, petani diarahkan menerapkan metode pindah tanam (transplanting) dari tray persemaian menggunakan pola tanam tegel teratur berjarak 25 x 25 cm. Untuk jagung hibrida, diterapkan sistem Tanam Benih Langsung dengan jarak tanam 70 x 20 cm serta prosedur penyulaman benih pada satu minggu setelah tanam untuk memastikan kerapatan populasi ideal.
Materi pelatihan yang disajikan secara komunikatif dan aplikatif mendapat apresiasi dari peserta. Natun, ketua Kelompok Tani Sejahtera, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran para akademisi. “Materi yang dibawakan Prof Musa sangat relevan dengan apa yang kami butuhkan. Budidaya padi dan jagung yang baik di setiap wilayah memang berbeda, tidak bisa disamakan. Namun beliau bisa memahami kebutuhan kami.”
Ngatawi, petugas Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Senggi, mengaku mendapatkan wawasan teknis baru yang sangat berharga untuk mendampingi petani transmigran maupun Orang Asli Papua (OAP). “Pengetahuan tentang jenis-jenis penyebab ukuran dan kualitas jagung yang berbeda baru saya dapatkan dari acara ini. Saya berharap, ke depan akan diadakan acara yang bisa memberi pengetahuan dan ruang diskusi bagi kami petani dan masyarakat.”
Selain praktik di lahan demplot, peserta FGD melakukan kunjungan ke Embung Patradipa di Jalur 3 SP 2 Kampung Woslay. Kunjungan ini diikuti petani Kelompok Tani Satu Hati, Ondoafi Patras, petugas BPP Distrik Senggi, serta akademisi Undip untuk meninjau kondisi embung dan membahas kesiapan distribusi air ke lahan pertanian. Nama Patradipa merupakan akronim dari Patriot Transmigrasi Diponegoro Muda, sebuah identitas yang mencerminkan semangat pengabdian dan sinergi generasi muda akademisi UNDIP bersama masyarakat di kawasan transmigrasi perbatasan.
Di lokasi galian 35 x 15 meter dengan kedalaman 3 meter, para peserta meninjau struktur fisik kolam penampung air sekaligus mendiskusikan teknis pengaliran air menggunakan pompa pendorong menuju petakan sawah dan lahan demplot hortikultura di sekitarnya. Kehadiran Embung Patradipa ini disambut masyarakat setempat sebagai bukti hadirnya solusi irigasi permanen untuk mengakhiri ancaman kekeringan musiman di Senggi.
Pembahasan diarahkan pada keberlanjutan pengelolaan sarana air. Para petani, tokoh adat, penyuluh BPP, dan akademisi Undip menyepakati pembentukan kelembagaan pengelola air di tingkat kelompok tani serta penyusunan Aturan/SOP internal kelompok untuk mengatur jadwal penyiraman dan pemeliharaan fisik embung pascaprogram.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan agar aset infrastruktur penampung air yang telah dibangun tidak hanya berfungsi jangka pendek tetapi dapat dirawat secara berswadaya oleh masyarakat Kampung Woslay dari musim ke musim. Dukungan terhadap pertanian tidak berhenti pada pembangunan sarana dan transfer pengetahuan, tetapi dilanjutkan melalui penguatan kapasitas dan tata kelola di tingkat masyarakat. Melalui rangkaian FGD, pelatihan, praktik lapangan, dan perumusan tata kelola tersebut, TEP Undip, Kepala Keret, BPP, dan Kelompok Tani di SP 1 dan SP 2 memperkuat komitmen untuk terus berdampingan mengawal transformasi pertanian di Senggi.
Menanggapi komitmen pendampingan masyarakat perbatasan, Ketua LPPM Undip Prof Dr-Ing Suherman ST MT, menegaskan: “Ekspedisi Patriot Undip merupakan pengabdian perguruan tinggi yang langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan hasil pengetahuan, inovasi, dan riset Undip dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.”



POST A COMMENT.