Wayang untuk Pembelajaran Bahasa Inggris

mepnews.id – Dua dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY); Muhammad Zahrul Anam SAg MSi dan Prof Dr Sidik Jatmika MSi, memperkenalkan pengajaran bahasa Inggris melalui media wayang kulit. Inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal ini dalam program pengabdian masyarakat di SD Muhammadiyah Purwodiningratan, Yogyakarta, pada 19 Mei 2025.

Dikabarkan situs resmi umj.ac.id, kedua dosen beranggapan wayang kulit tidak hanya sebagai media hiburan tetapi juga alat edukasi yang efektif. Dalam pertunjukan teatrikal, bahasa Indonesia digunakan 30 persen dan bahasa Inggris 70 persen. Ceritanya tidak terbatas kisah pewayangan klasik namun juga kisah-kisah kenabian yang dikemas secara interaktif.

“Kami ingin menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan serta budaya siswa. Buku dan film umumnya dari budaya asing, sehingga kami berinisiatif memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai media alternatif pembelajaran,” ungkap Zahrul.

Prof Sidik sebagai dalang membawakan sejumlah episode cerita wayang dalam bahasa Inggris. Untuk mendorong partisipasi aktif, beberapa siswa dilibatkan dalam pertunjukan sebagai pemeran. Siswa lainnya diajak menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris terkait isi cerita.

“Anak-anak tidak hanya jadi penonton tetapi juga bagian dari pertunjukan. Mereka bermain peran, berdialog, dan berinteraksi menggunakan bahasa Inggris dalam konteks menyenangkan,” tambah Zahrul.

Sebagai upaya bersaing dengan dominasi teknologi digital yang cenderung membuat siswa pasif, program ini menekankan pendekatan pembelajaran interaktif dan partisipatif. “Kami berusaha menghadirkan pengalaman belajar yang hidup dan melibatkan seluruh indra anak-anak. Tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga tampil dan berbicara,” jelasnya.

Zahrul menegaskan, penguasaan bahasa Inggris menjadi keterampilan penting di era global. Oleh karena itu, pemanfaatan wayang sebagai media belajar sekaligus alat diplomasi budaya diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sembari membuka cakrawala internasional.

“Sebagai dosen HI, kami melihat ini bentuk diplomasi budaya. Kami kenalkan anak-anak pada nilai-nilai lokal yang dikemas dalam bahasa global. Dengan begitu, mereka belajar bahwa identitas budaya tidak harus hilang demi menjadi warga dunia,” kata Zahrul.

Gintoro, Kepala SD Muhammadiyah Purwodiningratan, menyambut baik program ini. “Memberi warna baru dalam proses belajar, terutama dalam membangkitkan minat siswa terhadap bahasa asing.” (FU)

Facebook Comments

Comments are closed.