Kenapa Menunda Nikah? Katanya, Demi Status Sosial

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya tahu, menanyakan status pernikahan pada teman kadang bisa menimbulkan respons serius. Jika teman itu memang ingin menikah dan calonnya sudah ada, itu tak masalah. Jika teman itu ingin menikah dan calonnya belum ada, nah pertanyaan bisa memicu masalah. Begitu juga jika temah itu tidak atau belum ingin menikah.

Untuk katagori yang terakhir ini, saya sering mendapat penjelasan bahwa ia ingin mengejar karir dulu, membangun fondasi ekonomi dulu, menuntaskan pendidikan adik-adik dulu, dan sejenisnya. Kadang, ada yang malah memberi kalkulasi biaya hidup per hari, per bulan, hingga per tahun, untuk sekadar hidup di kota-kota besar di Indonesia. Pendeknya, ada sesuatu yang perlu dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang lain.

Tren semacam ini tidak hanya terjadi pada teman-teman saya yang hidup di kota-kota besar di Indonesia. Di kota-kota besar lain di berbagai penjuru dunia, ada tren perlambatan menikah dan punya anak. Tren penurunan drastis tingkat kesuburan ini terutama terjadi justru di negara-negara maju.

Dalam setengah abad terakhir,  hampir separo penduduk dunia tinggal di negara-negara yang tingkat kesuburannya, yaitu jumlah bayi baru lahir per perempuan, berada di bawah tingkat yang diperlukan untuk mempertahankan jumlah penduduk. Fenomena itu sangat terasa negara-negara maju secara ekonomi seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Amerika Serikat, dan banyak negara Eropa.

Pada masa lalu, penurunan populasi suatu negara banyak terkait dengan perang, epidemi, bencana alam, dan kelangkaan ekstrem. Sekarang, penurunan angka kesuburan terjadi di tengah kemakmuran ekonomi dan sumber daya. Karena begitu berkurangnya penduduk, sampai-sampai ada beberapa pemerintahan yang mengundang dan memberi biaya warga asing saja untuk mau bermukim di wilayah mereka.

Ada apa ini? Zaman yang telah berubah? Perimbangan alam?

Para peneliti mencoba menjelaskan perilaku ogah atau pelit beranak ini dengan faktor status sosial dengan keluarga kecil. Keinginan mendapatkan status sosial membuat orang memilih memiliki lebih sedikit anak sehingga cenderung menunda pernikahan dan mendapatkan anak pertama. Individu yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memiliki lebih sedikit anak. Masyarakat sekarang lebih berinvestasi pada diri sendiri dibandingkan berinvestasi pada anak-anak.

Memang paradoks. Negara-negara yang kaya secara ekonomi ternyata mengalami rendahnya kesuburan. Padahal, negara-negara ini mempunyai banyak sumber daya yang dapat digunakan untuk memulai keluarga dan membesarkan anak. Rupanya, keinginan status sosial membuat sejumlah orang lebih memilih menunda pernikahan dan memiliki anak.

Dari sisi psikologi evolusi, kita sekarang hidup di dunia dengan ekologi yang sangat berbeda daripada manusia zaman purba sehingga mekanisme psikologis kita juga berevolusi. Teknologi menciptakan ekologi modern berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan terjadinya perubahan evolusioner. Mekanisme psikologis kita kadang tidak mampu memproses secara efektif isyarat-isyarat dalam ekologi modern, yang kemudian diwujudkan dalam keputusan dan perilaku.

Dari sisi keilmuan lain, muncul berbagai penjelasan tentang menurunnya tingkat kesuburan manusia di berbagai penjuru Bumi. tentu saja juga muncul berbagai penjelasan ilmiah. Sebagian penjelasan ini bisa berlaku pada teman-teman saya yang belum/tidak menikah.

Facebook Comments

Comments are closed.